Jakarta, INDONEWS.ID – Alexander Johanes Constantinus Barus, atau yang lebih dikenal dengan nama Bapak Yan Barus, adalah salah satu putra terbaik Manggarai yang jejak hidupnya mencerminkan semangat perjuangan, keteguhan prinsip, dan dedikasi tanpa pamrih bagi bangsa dan gereja.
Lahir pada 24 Juni 1929 di Purek Rahong, Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), ia adalah anak sulung dan satu-satunya laki-laki dari enam bersaudara pasangan Yosef Kaut dan Maria Mi’ung.
Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman sang ibu. Sejak dini, bakat orasi dan kepemimpinan telah tampak menonjol. Di usia sekolah dasar, Yan Barus sudah kerap diminta berpidato dalam berbagai acara. Ia bahkan pernah dipercaya menyambut kedatangan dua tokoh gereja besar, Pastor Gabriel Manek dan Pastor Karel Kale di Ruteng.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Standard School Ruteng dan Sekolah Guru Bawah (SGB) pada 1946, berkat dorongan Mgr. Wilhelminus Van Bekkum, ia langsung mengabdikan diri sebagai guru di Lengko Ajang. Namun, panggilan jiwanya ternyata bukan di dunia pendidikan. Dengan keberanian, ia memilih merantau ke Makassar pada 1951.
Di Makassar, semangat organisasinya tumbuh pesat. Ia aktif dalam gerakan buruh dan sempat mengajar di sekolah PGRI. Pada 1955, ia melanjutkan perjuangannya ke Jakarta dan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lalu melanjutkan ke Universitas Padjajaran dan lulus dengan gelar Sarjana Muda.
Di panggung organisasi nasional, A.J.C. Barus bersanding dengan tokoh-tokoh penting seperti Adam Malik dan Chaerul Saleh. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Serikat Tani Indonesia (SAKTI), serta Sekretaris Pengurus Besar Partai Indonesia (PB Partindo), bersama para tokoh seperti Asmara Hadi, Winoto Danuasmoro, dan Oei Tjoe Tat. Namanya pun semakin dikenal di tingkat nasional.
Namun, peristiwa G30S/1965 menjadi babak kelam dalam hidupnya. Ia ditahan sebagai tahanan politik di Pulau Buru selama 12 tahun (1967–1979). Meski begitu, semangat dan imannya tidak padam. Ia dibebaskan berkat jaminan dari Pastor Thomas Hebo, dan kembali ke Jakarta, dijemput oleh Pastor Michael Cosmas Angkur Djadu (kemudian menjadi Uskup Bogor).
Alih-alih kembali ke panggung politik, A.J.C. Barus memilih menjadi pelayan gereja dan teladan bagi keluarga serta komunitas. Di Paroki Kedoya, Jakarta Barat, ia mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan umat.
Rumahnya di Kedoya bahkan menjadi tempat persinggahan bagi banyak perantau dari Manggarai yang mengadu nasib di Jakarta, dan dikenal luas sebagai Rumah Kedoya—tempat awal mula lahirnya solidaritas, yang mungkin menjadi benih terbentuknya Ikatan Keluarga Manggarai Kebon Jeruk (IKMKJ).
Bapak A.J.C. Barus menghembuskan napas terakhir pada 25 November 2020 di rumahnya yang penuh kenangan di Kedoya. Ia pergi meninggalkan warisan semangat perjuangan, ketulusan pengabdian, dan teladan hidup yang tidak pernah silau pada tahta dan harta. Ia dikenang sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip, hidup sederhana, dan penuh cinta kasih.
Bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat Manggarai di perantauan, sosok A.J.C. Barus adalah panutan. Jejaknya akan terus hidup dalam kenangan dan dalam perjuangan generasi berikutnya.
Terima kasih, Bapak Yan Barus.
"Engkau telah memelihara iman. Kini saatnya kami meneruskan jalanmu."
Catatan:
Bagi para pembaca yang memiliki koreksi atau tambahan informasi terkait biografi ini, mohon menghubungi penulis:
Yosef Patrick P.M. Barus, SE., CFE., M.Ak
0815-1040-0213