Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor industri kemasan nasional justru menunjukkan performa yang kian menjanjikan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa industri ini diprediksi akan mencapai nilai produksi hingga Rp105 triliun pada akhir 2025, seiring pertumbuhan konsumsi masyarakat, kemajuan teknologi pengemasan, serta lonjakan sektor farmasi dan e-commerce.
Hal tersebut disampaikan Airlangga saat meresmikan pabrik kemasan aseptik pertama di Indonesia milik PT Lami Packaging Indonesia di Serang, Banten, Jumat (1/7).
“Ini artinya industri makanan dan minuman tumbuh luar biasa secara global. Walaupun dunia menghadapi berbagai tantangan dan ancaman resesi, industri ini tetap tumbuh karena kebutuhan dasar manusia: makan dan minum. Dan untuk itu, dibutuhkan kemasan. Jadi, ini adalah industri yang menurut saya tahan resesi (recession-proof),” kata Airlangga.
Airlangga juga memaparkan bahwa ekspor kemasan aseptik Indonesia pada 2024 mencapai USD 30 juta. Namun, industri ini masih tergantung pada impor dengan nilai mencapai USD 193 juta. Hal ini menurutnya menjadi peluang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar.
“Pasar industri kemasan sangat luas. Masih ada ruang yang besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga mengapresiasi langkah PT Lami Packaging Indonesia yang mulai menggunakan energi surya melalui instalasi solar panel berkapasitas 5,3 megawatt. Menurutnya, langkah ini selaras dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan transisi energi bersih dan mendukung target Net Zero Emission.
“Ini adalah contoh nyata bagaimana industri dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan. Kami harap sektor industri lainnya juga mengikuti jejak ini,” tambahnya.
Airlangga menegaskan bahwa sektor industri, termasuk industri kemasan, merupakan motor utama perekonomian nasional. Saat ini, industri menyumbang sekitar 19,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menjadikannya salah satu pilar utama dalam struktur ekonomi nasional.
“Dengan tidak adanya pabrik aseptic packaging lain di Indonesia, artinya persaingannya langsung dengan pasar global. Namun dari sisi logistik, keberadaan pabrik ini sangat menguntungkan bagi industri makanan dan minuman dalam negeri,” katanya.
Industri aseptic packaging berperan penting dalam menjaga keamanan dan kualitas produk makanan dan minuman, terutama dalam distribusi berskala besar. Dengan pertumbuhan sektor makanan, minuman, dan farmasi yang terus meningkat, industri ini menjadi sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan sistem logistik modern.
Peresmian pabrik tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Duta Besar Cina untuk Indonesia, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Bupati Serang, serta jajaran pimpinan LamiPak Group.
Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3% pada 2025, serta dukungan kebijakan pemerintah dan inovasi industri, sektor kemasan nasional diyakini akan terus berkembang menjadi kekuatan utama dalam rantai pasok global yang lebih produktif dan bernilai tambah tinggi.