Sosok

HUT Pemred INDONEWS.ID, Asri Hadi: "A Rolling Stone Gathers No Moss"

Oleh : very - Senin, 25/05/2026 10:18 WIB


Foto perjalanan Drs. Asri Hadi, MA –atau lazim disapa Bang Buyung – bersama sejumlah tokoh penting. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Saya termasuk orang yang beruntung karena bisa mengenal Drs. Asri Hadi, MA –atau lazim disapa Bang Buyung –paling lama dibanding dengan teman di redaksi INDONEWS.ID yang lain saat ini. Saya pertama kali berkenalan dengan Bang Buyung di tahun 2016, tepatnya di bulan Juli.

Waktu itu, saya, atas informasi dari Miscola - wartawan yang telah lebih dahulu bekerja di INDONEWS.ID - melamar ke media online yang berkantor di sebuah ruko di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu.

Saya menunggu proses selama hampir satu minggu sebelum diterima. Waktu itu, saya belum diberi akses Content Management System (CMS) – sebuah perangkat lunak yang dirancang khusus untuk membantu tim redaksi membuat, mengelola, dan mempublikasikan artikel berita secara efisien. Namun, pada minggu kedua, saya sudah bisa diberi akses CMS untuk langsung menaikkan berita.

Di INDONEWS saya bisa bertemu dan berkenalan dengan Asri Hadi, sosok Pemimpin Redaksi yang tak ada tandingannya. Bang Buyung tampil sebagai seorang pemimpin redaksi yang berwibawa sekaligus berkarakter. Memiliki gaya yang luwes dalam memimpin rapat. Namun, pada hal-hal yang penting, dia menujukkan ketegasan sekaligus urgensitasnya. 

Sosok Asri Hadi seperti sebuah peribahasa Latin: "Suaviter in modo, fortiter in re" - lembut dalam cara, tegas dalam tindakan dan prinsip. Prinsip ini mencerminkan pemimpin yang adaptif, komunikatif, dan penuh empati (luwes), namun sekaligus tetap memiliki visi yang solid dan pendirian yang teguh dalam mencapai tujuan kuat. Saya pun diam-diam mengagumi beliau. 

INDONEWS.ID waktu itu memiliki sejumlah awak wartawan, antara lain mas Nur sebagai Redaktur Pelaksana - kini sudah alamarhum. Ada juga mas Edi Winarto (Edo), yang kini menjadi Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI), sebagai editor, Miscola, Luska - wartawan dan masih bertahan hingga kini, Adi Prima dan beberapa wartawan lain.

Di INDONEWS, saya juga bisa berkenalan dengan mas Budi (Santen), yang mengelola media Mobilinanews.com, satu manajemen dengan INDONEWS.ID. Kedua media ini di bawah payung perusahaan PT Rally Tama Indonesia, milik Rio Sarwono dan Dani Sarwono, dan berkantor di Rumah Sarwono Building Lantai 3, Jalan Pasar Minggu Raya Nomor 72L, Jakarta Selatan.

Kemudian masuklah wartawan silih berganti. Ada Marsianus Edon (Marsi), yang kini telah bekerja sebagai Anggota Badan Pengawas Pemilu di Kabupaten Manggarai. Lalu, Marsi membawa temannya, Ricardo Jegaut, yang kini didapuk sebagai Redaktur Pelaksana menggantikan saya – Fery Herdiman.

Lalu yang terkahir ada mas Rio. Kami sering memanggilnya wartawan intel – karena pergerakkanya yang susah ditebak. Kemudian, saya merekomendasikan Donatus Nador – mantan wartawan di Koran Sindo – untuk memperkuat redaksi. Masuknya Pak Don, membuat INDONEWS.ID memiliki daya ungkit yang kuat, terutama untuk berita terkait olahraga. Sementara, Citra Fatima memperkut di bagian Sekretaris Redaksi. Terakhir ada mas Vises Kurniawan (IT), teman lama saya waktu di Harian Umum Jurnal Nasional (Jurnas).

Ada satu hal menarik di kepemimpinan dan jajaran keredaksian INDONEWS. Walau Redaktur Pelaksana terus berganti sesuai arus perubahan, namun Pempimpin Redaksi-nya tetap tak tergantikan. Seperti sebuah iklan, di INDONEWS.ID juga berlaku: Siapun Redaktur Pelaksana-nya, Namun Pemimpin Redaksinya tetap sama, Asri Hadi.

Mengapa Bang Buyung tak tergantikan? Karena Bang Buyung tetap dan akan selalu aktual. Bang Buyung, seperti air mengalir, terus bergerak. Bang Buyung terus mencari tempat-tempat - termasuk mencari celah – yang bisa diisi dan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan – setidaknya bagi wartawan dalam mencari berita.

Termasuk dalam organisasi massa yang digelutinya, Bang Buyung juga sepertinya tak tergantikan. Dia dipercaya menangani bidang Humas dan Media dalam organisasi-organisasi tersebut.

Bang Buyung seperti pepatah dalam bahasa Inggris, "A rolling stone gathers no moss". Bang Buyung diibaratkan dengan sebuah batu yang menggelinding, yang tidak mungkin akan ditumbuhi lumut.

 

 

Tumbuh Lokal, Bergerak Nasional Namun Cinta Produk Lokal

Asri Hadi lahir di Lintau, Sumatra Barat pada 25 Mei 1958 di. Itu berarti, hari ini merupakan hari ulang tahunnya yang ke-68 tahun. Para awak redaksi ditugaskan menulis sebuah tulisan reflektif tentang Bang Buyung sebagai hadiah di hari ulang tahun tersebut.

Walau dilahirkan di Lintau, Sumatera Barat, Bang Buyung sudah mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 13, Jakarta. Selepas SMP, Asri Hadi melanjutkan pendidikan di SMAN 3 Jakarta.

Setelah menamatkan pendidikan di tingkat SMA, Bang Buyung pernah tercatat sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga Universitas Padjadjaran (Unpad). Namun, hatinya justru berlabuh di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia Angkatan 1978.

Di sinilah kecerdasan sosialnya ditempa, sebelum akhirnya ia terbang ke Australia untuk melanjutkan studi magister dan sukses menjadi lulusan dari Monash University, Melbourne. Di Monash University, beliau meraih gelar Master of Arts (M.A.) melalui program beasiswa. Bang Buyung juga mengambil Pendidikan tambahan dan kursus yaitu di Giles College dan Swan School of English di Oxford, Inggris.

Asri Hadi mengabdi sebagai tenaga pengajar, termasuk bertugas sebagai dosen di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) yang kini bertransformasi menjadi IPDN, serta menjadi dosen tamu di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Sesko AL). Asri Hadi pensiun pada tahun 2023 lalu dari IPDN, Kementerian Dalam Negeri.

Pergaulan Bang Buyung sangat luas. Siapa yang tidak kenal beliau? Dari tokoh maupun teman-teman pers, aktivis sosial, hingga para jenderal di kepolisian dan TNI. Bang Buyung juga pandai menempatkan diri. Karena itu dia bisa klik baik di hadapan kaum milenial dan generasi Z, hingga para tokoh nasional terkenal, seperti tokoh politik, anggota DPR, lembaga tinggi negara, bahkan hingga presiden.  

Sebagai wartawan INDONEWS.ID, jujur, saya bangga dengan Bang Buyung. Karena itu, sebagai penghargaan, pada Senin (26/10/2021) lalu, bertempat di ruang rapat Balai Sarwono, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, saya memberi kado spesial kepada dua tokoh pers, tokoh nasional dan juga pemimpin INDONEWS.ID, masing-masing sebuah topi songkok, souvenir khas Flores, yaitu dari Manggarai.

Keduanya yaitu, mantan Pereli Nasional sekaligus pemilik kelompok usaha Joglo Group, Rio Sarwono, dan Dosen Senior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) – kini mantan - Asri Hadi. Keduanya dengan bangga langsung mengenakannya.

Rio – waktu itu - mengatakan berterima kasih atas pemberian tersebut. Dia bercerita bahwa dirinya juga pernah mendapatkan kopiah berlogo Nahdlatul Ulama (NU).

Rio menambahkan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki alam yang indah dan budaya yang unik. Karena itu, ia ingin suatu saat nanti bisa mengunjungi daerah tersebut.

“Pertama-tama saya ingin ke Sumba untuk melihat keindahan alam sekaligus budaya di sana,” ujarnya di Jakarta, Selasa (26/10).

Asri Hadi, yang juga merupakan Dosen Sekolah Komando Angkatan Laut (SESKOAL) mengatakan, songkok adat Manggarai merupakan salah satu simbol keluhuran adat istiadat yang dimiliki suku Manggarai. Karena itu, ia mengajak para generasi muda untuk bangga menggunakan songkot adat tersebut.

“Saya bangga mengenakan songkok adat Manggarai ini. Kita ini ada di Jakarta, tetapi bisa mengenakan produk lokal kebanggaan orang Manggarai,” kata Bang Buyung.

Penerima Penghargaan Satyalacana Dwidya Sistha ini menyampaikan, perkembangan zaman kian pesat. Terkadang, kemajuan zaman mampu mempengaruhi nilai-nilai adat yang menjadi warisan leluhur. Karena itu, tidak heran jika warisan budaya itu menjadi luntur.

Untuk itu, aktivist anti narkoba pada Organisasi besutan Ibu Tien Soeharto ini meminta generasi muda agar tetap berpegang teguh pada adat -istiadat dan warisan tradisional leluhur. Salah satunya dengan mempromosikan produk lokal seperti songkok khas Manggarai ini kepada masyarakat luas.

“Kita mesti warisi ini sebagai kebanggaan bersama, bukan hanya untuk orang Manggarai, tetapi kebangggan orang Indonesia,” pungkas Bendahara di Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) itu.

Fery Herdiman, pemberi songkok adat mengatakan, selain untuk membangkitkan kebanggaan, souvenir produk lokal juga dapat mendorong rasa keindonesian kita.

“Bahwa kita adalah warga satu bangsa yang mendiami tanah air yang satu dan sama,” ujarnya.

Souvenir produk lokal terebut, juga sebagai bagian dari promosi budaya lokal. “Kita tahu keduanya, Pak Rio Sarwono dan Bang Asri Hadi, merupakan tokoh nasional. Pak Rio adalah mantan pereli nasional, sedangkan Bang Asri Hadi adalah dosen di beberapa pergururuan tinggi, seperti di Seskoal, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Melalui tangan-tangan mereka inilah, saya yakin produk lokal kita bisa dikenal oleh banyak orang lagi,” ujar Ferry.

Kini, di hari ulang tahun Bang Buyung, penulis menggedor kita semua untuk bertanya, kado apa yang bisa kita - khususnya wartawan INDONEWS.ID – berikan kepada beliau?

Saya bermimpi, di suatu saat – entah ulang tahun yang ke berapa – INDONEWS, semua teman, dan para kenalan, bisa memberi penghargaan atas pengabdian beliau yang luar biasa hebat itu. Kali ini sudah cukup bagi saya, kalau dari hati yang terdalam mengucapkan terima kasih atas pengabdian Bang Buyung. Semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu. *

 

Artikel Lainnya