Nasional

Songsong Indonesia Emas 2045, Indonesia Perlu Tetapkan Target Jelas Pengendalian Kecacingan

Oleh : very - Rabu, 20/08/2025 10:17 WIB


Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunt Professor Griffith University Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Kita semua tersentak dengan berita viral tentang seorang anak yang tubuhnya diberitakan ditemukan banyak cacing. Berita ini juga mendapat tanggapan Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jawa Barat di berbagai media.

Menurut Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunt Professor Griffith University Prof Tjandra Yoga Aditama ada tujuh hal sehubungan kejadian menyedihkan ini.

Pertama, untuk analisa terkait keadaan klinik sebenarnya serta apa penyebab kematiannya, maka kita perlu menunggu penjelasan resmi dari pihak rumah sakit secara rinci dulu, sebelum mengambil kesimpulan yang jelas.

”Kedua, selain di rumah sakit maka perlu ada tindak lanjut di sekitar pemukiman anak ini, untuk melihat kemungkinan cacing di lingkungan sekitarnya dan penanganan segera supaya tidak ada kasus yang menyedihkan lagi,” ujar mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.

Ketiga, menurut WHO, penyakit akibat cacing adalah infeksi yang disebabkan oleh berbagai jenis parasit cacing, seperti  cacing gelang “Ascaris lumbricoides”, cacing cambuk ( “Trichuris trichiura” ) dan cacing tambang yang dapat berupa “Necator americanus”  dan  “Ancylostoma duodenale”.  Selain itu juga ada “Strongyloides stercoralis” dll.

Keempat, penularannya melalui telur cacing yang ada di tinja yang kemudian mengkontaminasi tanah, utamanya di daerah yang buruk sanitasinya.  Telur cacing tersebut dapat tertelan oleh anak-anak yang bermain di tanah yang terkontaminasi, lalu memasukkan tangan mereka ke dalam mulut tanpa mencucinya. Tentu saja ada cara penularan lain seperti melalui air yang tercemar dll.

”Kelima. anak yang terinfeksi biasanya mereka yang dengan gangguan fisik dan nutrizi, artinya gizinya tidak baik,” ujar mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan.

Keenam, untuk penanganan kecacingan ini, maka WHO menyampaikan setidaknya ada empat pendekatan. Pertama dengan konsumsi obat cacing secara berkala. Kedua, melalui penyuluhan kesehatan. Ketiga, memperbaiki sanitasi dan kalau sudah terjadi penyakit maka sebenarnya sudah tersedia obat yang aman. Keempat, efektif untuk mengobatinya.

Ketujuh, WHO sudah mencanangkan target global pengendalian kecacingan (“Soil-transmitted helminth”) untuk tahun 2030.

“Tentu akan bagus kalau kita di Indonesia juga menetapkan target yang jelas pula, apalagi kalau kita akan menyongsong Indonesia Emas 2045 yang tentu tidak elok kalau masih ada masalah kecacingan di masa itu nantinya,” pungkasnya. *

Artikel Lainnya