Nasional

Ribuan Warga Padati Masjid Gedhe, Saksikan Prosesi Langka Jejak Banon di Sekaten Yogyakarta

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 05/09/2025 10:21 WIB


Foto: Tempo

Jakarta, INDONEWS.ID – Ribuan warga memadati kompleks Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta pada Kamis malam (4/9) untuk menyaksikan prosesi kondur gongso, bagian dari rangkaian Hajad Dalem Sekaten yang digelar Keraton Yogyakarta dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Salah satu momen yang paling dinanti adalah prosesi langka jejak banon atau jejak benteng, yang hanya digelar delapan tahun sekali pada tahun Dal. Dalam prosesi itu, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menjejakkan kaki untuk merobohkan tumpukan bata setinggi 1,5 meter di sisi selatan Masjid Gedhe.

Prosesi ini memiliki makna historis, yakni mengenang pendiri Keraton Yogyakarta, Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I), yang pernah menyelamatkan diri dari kejaran musuh usai salat Jumat di Masjid Gedhe.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Sultan HB X yang mengenakan busana kebesaran biru, berjalan menuju gerbang selatan Masjid Gedhe dengan pengawalan ketat prajurit bregada yang membentuk pagar betis. Ribuan warga dan wisatawan berebut mendekat untuk menyaksikan momen bersejarah itu.

Begitu Sultan menjejakkan kakinya, susunan bata langsung runtuh disambut sorak-sorai masyarakat. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Sultan melangkahi reruntuhan bata, ditemani putri-putrinya, termasuk Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi dan GKR Bendara, serta dipandu menantu tertua, Kanjeng Pangeran (KPH) Wironegoro.

Suasana padat membuat sejumlah warga pingsan akibat kelelahan dan panas. Tim medis yang berjaga segera memberikan pertolongan dan mengevakuasi mereka ke area aman.

Tradisi Udhik-udhik

Selain jejak banon, prosesi kondur gongso juga diramaikan dengan penyebaran udhik-udhik oleh Sultan HB X. Udhik-udhik berupa uang koin ini diperebutkan masyarakat sebagai simbol ngalap berkah dan bentuk sedekah raja untuk rakyat.

“Penyebaran udhik-udhik dilakukan di dua pagongan, kidul dan lor, yang selama sepekan terakhir menjadi tempat gamelan pusaka dimainkan,” ujar KRT Kusumonengoro, Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Keraton.

Menuju Puncak Grebeg Maulud

Prosesi kondur gongso menjadi rangkaian sebelum puncak Sekaten, yakni Grebeg Maulud pada Jumat (5/9) pagi di Keraton Yogyakarta dan Masjid Gedhe.

Dalam grebeg kali ini, akan dikeluarkan enam jenis gunungan: gunungan kakung, estri/wadon, gepak, dharat, pawuhan, dan brama. Gunungan brama menjadi yang paling istimewa karena hanya muncul pada tahun Jawa Dal, khusus diperuntukkan bagi Sultan, keluarga, dan sentana dalem.

“Gunungan brama akan diarak dari keraton menuju Masjid Gedhe sebagai bagian dari prosesi khusus tahun Dal,” tambah Kusumonengoro.

Tradisi Sekaten yang digelar setiap tahun ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi magnet budaya yang menarik ribuan masyarakat dan wisatawan untuk menyaksikan kekayaan adat Keraton Yogyakarta.

Artikel Lainnya