Jakarta, INDONEWS.ID – Aksi Damai dan Deklarasi Anti Anarkisme yang digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Senin, 15 September 2025, meninggalkan kesan mendalam bagi salah satu tokoh agama, Romo Hendrikus Maku, SVD.
Dalam refleksinya, Hendrikus menyoroti peristiwa sederhana namun sarat makna: dia ditolak untuk menggunakan kursi kosong yang ada di lokasi, meski ia dalam kondisi letih usai menempuh perjalanan jauh dari Ciputat.
Menurutnya, sikap aparat yang menolak memberi tempat duduk kepadanya menunjukkan minimnya empati, bahkan di tengah acara yang mengusung semangat perdamaian.
“Ketika kursi kosong tak bisa diberikan kepada yang letih, kita patut bertanya—apa yang sebenarnya kosong dalam relasi antara negara dan warganya?” tulis Hendrikus dalam catatannya.
Ia berharap pimpinan Brimob dapat membina anggotanya agar lebih humanis, peka terhadap kondisi masyarakat, dan tidak melupakan nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas. Bagi Hendrikus, gestur kecil seperti memberi kursi pada orang yang lelah justru mencerminkan makna perdamaian yang sesungguhnya.
“Barangkali, dalam dunia yang semakin gaduh dan penuh protokol, kursi kosong itu adalah metafora paling sunyi tentang empati yang hilang—dan tentang negara yang kadang lupa bahwa rakyatnya juga manusia,” pungkasnya.
Berikut adalah isi surat Romo Hendrikus:
REDAKSI YTH: KURSI KOSONG DAN SUNYI YANG MENGGUGAT NURANI
Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Senin, 15 September 2025. Pagi itu, saya berangkat dari Ciputat menuju jantung ibu kota—Patung Kuda—tempat Aksi Damai dan Deklarasi Anti Anarkisme digelar. Dengan sepeda motor yang menggerus jarak dan menyisakan lelah di tubuh, saya tiba bersama seorang inisiator aksi. Meski letih, semangat saya tetap menyala, sebab perdamaian adalah panggilan jiwa.
Di lokasi, para aparat Brimob duduk santai, menjaga ketertiban dengan wajah yang tenang. Di antara mereka, sebuah kursi kosong tampak tak bertuan. Saya, seorang tokoh agama yang kelelahan, meminta izin untuk duduk sejenak. Namun, permintaan sederhana itu ditolak dengan sikap yang dingin dan tanpa empati.
Saya pun berdiri, menahan letih, menunggu giliran menyampaikan pesan damai. Di tengah keramaian yang mengusung semangat anti-anarkisme, saya justru menemukan bentuk kecil dari kekerasan yang halus: penolakan terhadap kelembutan.
Apakah kursi itu terlalu sakral untuk seorang warga sipil? Ataukah kita telah kehilangan kemampuan untuk melihat kelelahan sebagai bagian dari kemanusiaan?
Saya tidak sedang menuntut kenyamanan, melainkan mengajak kita merenung: bahwa tugas aparat bukan semata menjaga ketertiban fisik, tetapi juga merawat ketertiban batin masyarakat. Ketika kursi kosong tak bisa diberikan kepada yang letih, kita patut bertanya—apa yang sebenarnya kosong dalam relasi antara negara dan warganya?
Saya berharap pimpinan Brimob dapat membina anggotanya agar lebih humanis, lebih peka terhadap isyarat tubuh yang lelah, dan lebih terbuka terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi perdamaian. Sebab, aksi damai bukan hanya soal orasi dan spanduk, tetapi juga tentang gestur kecil yang menyentuh: memberi tempat duduk kepada yang letih.
Barangkali, dalam dunia yang semakin gaduh dan penuh protokol, kursi kosong itu adalah metafora paling sunyi tentang empati yang hilang—dan tentang negara yang kadang lupa bahwa rakyatnya juga manusia.
Ciputat, 16 September 2025
Romo Hendrikus Maku, SVD adalah Tokoh Agama dan Partisipan Aksi Damai, tinggal di Ciputat, Kota Tangsel. Romo Hendrikus saat ini merupakan mahasiswa Doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.