Nasional

Yusron Ihza Mahendra Luncurkan Trilogi Refleksi 60 Tahun G30S, Dikupas Sejarawan BRIN dan Dihadiri Sejumlah Tokoh Terkemuka

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 30/09/2025 16:55 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Novel Trilogi Refleksi 60 Tahun G30S karya politisi dan cendekiawan Dr. H. Yusron Ihza Mahendra resmi diluncurkan dan dibedah dalam sebuah forum intelektual di Kompas Institut, Kawasan Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (30/9/2025). Acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh lintas bidang, mulai dari sejarawan, akademisi, jurnalis, hingga pejabat negara.

Hadir sebagai pembahas utama adalah Prof. Asvi Warman Adam, ahli sejarah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Hilmi Faiq, Kepala Bagian Desk Budaya Harian Kompas. Mereka mengulas secara kritis perspektif sejarah dan dimensi kultural dari novel trilogi yang menyingkap sisi-sisi reflektif tragedi 30 September 1965.

Acara peluncuran turut dihadiri Wakil Menko Hukum dan HAM Prof. Dr. Otto Hasibuan, Mayjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto, Ilham Aidit—putra almarhum D.N. Aidit, serta mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda. Hadir pula tokoh pers dan akademisi seperti Pemimpin Redaksi Indonews.id Asri Hadi, aktivis mahasiswa 1978 Soekotjo Soeparto, dan sejumlah tokoh alumni Universitas Indonesia.

Yusron Ihza Mahendra dan Asri Hadi diketahui sama-sama lulusan FISIP Universitas Indonesia. Bedanya, Yusron kemudian melanjutkan studi ke Jepang, sementara Asri Hadi menempuh pendidikan lanjutannya di Australia.

Tiga novel yang diluncurkan dalam kesempatan ini antara lain: Irian Barat: Bayang-Bayang Intrik Global di Balik Misteri Pembunuhan Kennedy, Nyanyian Bangsa Cacing: Orkestra Dusta dan Nyanyian Bisu dalam Orkestra Bayang-Bayang.

Melalui trilogi tersebut, Yusron mengajak pembaca menimbang kembali peristiwa 1965 dengan perspektif yang lebih reflektif, sekaligus membuka ruang diskusi tentang intrik global, politik domestik, serta implikasinya bagi generasi bangsa.

DR. Yusron Ihza Mahendra LLM. lahir di Lalang, Manggar, Belitung Timur pada tanggal 6 Februari 1958. Yusron menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Manggar, Belitung Timur. Setelah menyelesaikan studinya di Belitung, Yusron kemudian merantau ke Jakarta untuk menimba ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Depok.

Pada tahun 1986 Yusron lulus dari Univesitas Indonesia dan mendapatkan gelar sarjana Ilmu Sosial. Tak lama kemudian, Yusron langsung melanjutkan studi pasca sarjananya di universitas yang sama dan pada tahun 1990 dia memperoleh gelar S2. Telah memperoleh dua gelar dari universitas terkemuka di Indonesia tak membuat seorang Yusron Ihza merasa cukup akan ilmu.

Beberapa tahun kemudian, Yusron memutuskan pergi ke Jepang untuk memenuhi hasrat yang begitu besar akan pengetahuan. Yusron menetap di negeri Sakura selama kurang lebih 13 tahun untuk menyelesaikan gelar master bidang hukum dan doktor bidang ekonomi politik di Universitas Tsukuba Jepang.

Selama di Jepang, Yusron bukanlah mahasiswa yang biasa. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai aktivitas yang menunjukkan eksistensinya di antaranya dia pernah menjadi koresponden kompas untuk Tokyo selama tujuh tahun, menjadi peneliti pada Tsukuba Advanced Research Alliance, menjadi dosen di Nihon University, Jepang, serta sebagai Konsultan Politik Departemen Kehakiman Jepang.

Yang paling membanggakan adalah ketika disertasi doktoral Yusron Ihza berhasil menciptakan prestasi fenomenal dengan mengalahkan teori Flying Geese Model dari Profesor kenamaan Jepang yang di elu-elukan bank Dunia.

Prestasi tersebut semakin menggemparkan Jepang ketika dia berhasil membuka mata para pendukung paham keajaiban ekonomi asia dengan disertasinya yang mengungkapkan tentang kebenaran saat ekonomi asia luluh lantak akibat krisis moneter. Prestasi membanggakan tersebut bisa disaksikan di Museum Nasional Jepang tempat dimana salinan disertasi Dr. Yusron Ihza, LLM tersimpan.

Sekembalinya Yusron ke Indonesia, di tahun 2000, bersama kakaknya Yusril Ihza, dia mendirikan firma hukum Ihza & Ihza. Di tahun itu juga, Yusron dipercaya untuk menjabat sebagai penasehat khusus Memperindag RI. Di tahun 2004 hingga tahun 2009, masyarakat Bangka Belitung memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi anggota DPR RI dan menduduki posisi wakil ketua komisi I bidang pertahanan.

Semasa menjadi anggota DPR, dunia Internasional mengamanatkannya jabatan Ketua Liga Parlemen Indonesia-Jepang Tahun 2009. Pada tahun 2012, ketua DPP Partai Bulan Bintang periode 2005-2010 ini, bertekad untuk ikut meramaikan bursa pemilihan kepala daerah dengan mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Periode 2012-2017. Namun sayangnya, dia gagal menjadi Gubernur.

Artikel Lainnya