Jakarta, INDONEWS.ID – Pemanfaatan teknologi dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi bahasan utama dalam Seminar Tahunan (SEMTA) ke-8 Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) Jepang yang digelar secara daring pada Sabtu (27/9).
Dengan tema “Pemanfaatan Teknologi dan Pemberdayaan Pembelajaran Mendalam dalam Pengajaran BIPA”, SEMTA menghadirkan sejumlah pemateri, antara lain Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikdasmen RI Dr. Iwa Lukmana, Dosen Ganesha University of Education Bali Dr. Made Hery Santosa, serta Pengurus APPBIPA Jepang Petrus Ari Santoso.
Dalam sambutannya, Muhammad Al Aula menegaskan pentingnya peran APPBIPA bukan hanya dalam pengajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam memperkuat identitas bangsa di kancah internasional.
“Manfaatkan teknologi dan kembangkan kurikulum yang adaptif. Jadikan Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai bahasa diplomasi, bahasa ilmu, dan bahasa peradaban dunia,” ujar Al Aula, seraya menekankan bahwa KBRI Tokyo siap mendukung APPBIPA dan mitra pendidikan lainnya.
Ia juga menekankan perlunya antisipasi terhadap perubahan perilaku generasi muda yang cenderung menyukai interaksi cepat, visual, dan kolaboratif. Menurutnya, era kecerdasan buatan (AI), big data, dan realitas virtual menuntut pembelajaran bahasa yang lebih fleksibel, berbasis digital, serta dapat diakses kapan dan di mana saja.
Sementara itu, Dr. Iwa Lukmana menyoroti pentingnya sistem pendidikan yang fleksibel dan responsif terhadap perkembangan global. Ia mendorong para pengajar untuk terus meregulasi diri agar mampu menerapkan pengetahuan ke dalam kehidupan nyata sehingga menciptakan suasana belajar yang positif dan memotivasi.
Dr. Made Hery Santosa menambahkan, pesatnya perkembangan teknologi AI telah membawa dampak signifikan dalam dunia pendidikan. AI dinilai mampu membantu guru dalam mengurangi beban tugas rutin sehingga dapat lebih fokus pada kualitas interaksi dengan siswa. Namun, ia menegaskan peran manusia tetap tak tergantikan.
“AI tidak akan pernah menggantikan peran guru. Pengajar tetap harus memahami karakteristik, latar belakang, serta minat pembelajar, khususnya masyarakat Jepang yang mempelajari Bahasa Indonesia,” jelasnya.
Kegiatan yang dihadiri 99 peserta ini dibuka secara resmi oleh Ketua APPBIPA Pusat Prof. Dr. Gatut Susanto dan turut dihadiri Ketua APPBIPA Jepang Prof. Suyoto serta Penasihat APPBIPA Jepang Prof. Funada Kyoko.
Usai sesi seminar, APPBIPA Jepang juga menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) yang diikuti 11 peserta dari 38 anggota. Melalui pemilihan suara daring, Petrus Ari Santoso terpilih sebagai Ketua APPBIPA Jepang periode 2025–2029, menggantikan Prof. Suyoto.