Nasional

Dari Tentara ke Pengusaha Dunia: Kisah Sertu Agus RA, Prajurit Kuningan yang Viral karena "Rumah Mewah di Tengah Makam"

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 10/10/2025 09:04 WIB


 

Jakarta, INDONEWS.ID – Di antara nisan dan pepohonan sunyi di Desa Cipasung, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, berdiri sebuah bangunan megah yang sempat mengguncang jagat maya.

Bentuknya menyerupai perpaduan antara rumah modern dan bangunan bergaya Timur Tengah, dengan kubah besar dan menara menyerupai pagoda. Rumah itu milik seorang prajurit TNI bernama Sertu Agus RA, sosok yang pada tahun 2023 sempat dijuluki “tentara miliarder.”

Awal kisah viralnya sederhana. Sebuah video yang memperlihatkan rumah megah berdiri di tepi tempat pemakaman umum beredar luas di media sosial. Publik pun penasaran—siapa pemiliknya, dan bagaimana mungkin seorang anggota TNI mampu membangun rumah sebesar itu. Jawabannya ternyata lebih inspiratif daripada yang dibayangkan banyak orang.

Sertu Agus RA bukan pengusaha biasa. Di sela tugasnya sebagai anggota Kodim 0615/Kuningan, ia menekuni usaha pembuatan alat khitan modern berbasis laser—produk yang kini dikenal dengan nama Cautter Khitan Sonix.

Usaha ini dirintis hampir satu dekade lalu, bermula dari keprihatinannya saat melihat alat khitan yang digunakan dalam kegiatan khitan massal sering rusak di tengah proses. Dari situlah ia mulai memperbaiki, memodifikasi, hingga akhirnya menciptakan versi lebih praktis dan efisien.

“Dulu saya cuma bantu memperbaiki alat laser merek luar negeri yang rusak. Tapi lama-lama saya pikir, kenapa tidak buat sendiri saja? Akhirnya saya coba, dan ternyata berhasil,” tutur Agus mengenang awal perjalanannya.

Produk buatannya bukan kaleng-kaleng. Alat ciptaan Agus memiliki daya simpan listrik yang mampu digunakan untuk mengkhitan hingga 25 anak tanpa perlu pengisian ulang. Selain itu, alat ini bisa diisi ulang melalui listrik rumah maupun aliran dari mesin mobil.

Berkat kepraktisan dan keamanannya, alat buatan Agus menembus pasar internasional. Dari Jerman hingga Australia, bahkan tercatat pernah digunakan di 64 negara sebelum akhirnya dua di antaranya—Ukraina dan Rusia—berhenti bertransaksi karena konflik perang.

Nama Agus semakin dikenal setelah banyak dokter luar negeri memuji kualitas produk buatannya. Tak sedikit pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan datang langsung ke rumah produksinya di Kuningan.

Namun, ketika pemerintah menawarkan bantuan modal dan kerja sama, Agus memilih menolak secara halus.
“Usaha ini sudah berjalan sendiri dan punya pasar tetap. Saya lebih nyaman mandiri dan berbagi rezeki dengan tim dan reseller,” ujarnya.

Di balik keberhasilannya, Agus tetap rendah hati. Ia menegaskan bahwa bisnis alat khitan ini bukan jalan pintas menuju kekayaan, melainkan buah dari ketekunan dan inovasi. “Semua ini hasil belajar, jatuh-bangun, dan percaya bahwa kualitas akan bicara sendiri,” katanya.

Rumah di Tengah Makam: Simbol Pengingat Kematian

Sorotan publik terhadap rumah mewahnya tak membuat Agus silau. Ia justru memiliki alasan filosofis mengapa rumah itu dibangun di dekat TPU (tempat pemakaman umum).

“Biar jadi pengingat, bahwa seindah apa pun rumah kita, ujungnya tetap ke sana,” ucapnya sambil menunjuk deretan makam di depan rumah.

Desain bangunannya yang unik, dengan kubah besar dan ornamen menyerupai pagoda, juga sarat makna. “Saya ingin mengingatkan bahwa perjuangan Islam di masa lalu itu beragam bentuknya, termasuk dalam arsitektur. Jadi, saya padukan nilai sejarah dan spiritual di sini,” tuturnya.

Pembangunan rumah itu sendiri sempat tersendat karena penurunan omzet usahanya. Menurut Agus, alat khitan yang dibuatnya justru terlalu awet sehingga pembelian baru menurun. “Barangnya kuat, jadi jarang rusak. Sekarang saya lebih banyak menerima perbaikan alat lama daripada produksi baru,” katanya sambil tersenyum.

Komandan Kodim 0615/Kuningan, Letkol Inf Bambang Kurniawan, ikut memberikan pandangan soal anggotanya yang satu ini. Menurutnya, apa yang dilakukan Agus adalah bentuk nyata kemandirian dan kreativitas seorang prajurit.

“Pak Agus bukan cuma tentara, tapi juga inovator. Produknya digunakan di berbagai negara dan menyerap banyak tenaga kerja lokal, bahkan ibu-ibu rumah tangga sebagai penjahit perlengkapan medis,” ujar Bambang.

Ia menegaskan bahwa prestasi Agus justru menjadi teladan bagi prajurit lain agar tidak bergantung pada gaji semata. “Kemandirian ekonomi seperti ini patut dicontoh. Tentara tidak hanya bisa menjaga negara dengan senjata, tapi juga dengan karya,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Agus mulai menekuni hobi baru: menggambar dan merancang taman, patung, hingga desain real estate. Ia menyebutnya sebagai bentuk ekspresi seni sekaligus penghasilan tambahan.

“Sekarang saya lebih banyak menjual jasa desain, mirip arsitek. Kadang buat aviari, taman, atau patung. Ini cara saya tetap produktif tanpa meninggalkan tugas utama,” tuturnya.

Rumah di tepi pemakaman itu kini hampir rampung—sekitar 70 persen selesai. Bagi Agus, bangunan itu bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan hasil kerja keras, doa, dan pengingat bahwa hidup harus bermanfaat sebelum akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

Artikel Lainnya