Bisnis

Deputi Rachmat: Kesusksesan Swasembada Pangan Butuh Infrastruktur Pendukung

Oleh : very - Minggu, 19/10/2025 08:47 WIB


Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan melaksanakan kunjungan ke Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Rejomulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (14/10/2025). (Foto: Humas Kemenko Infra)

Lampung Selatan, INDONEWS.ID - Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan melaksanakan kunjungan ke Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Rejomulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (14/10/2025).

Kunjungan ini juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi serta masukan kepada pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyoni (AHY) yang diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar, Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto, sehingga dibutuhkan infrastruktur pendukung seperti perbaikan jaringan irigasi, termasuk JIAT.

“Dari awal telah disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo bahwa yang diharapkan adalah swasembada pangan. Untuk mencapainya tentu dibutuhkan infrastruktur yang menunjang hal tersebut. Karena itu, kita pastikan pembangunan yang dilakukan benar-benar berdampak dan mampu menghasilkan panen yang lebih banyak,” ujar Deputi Rachmat.

Deputi Rachmat dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada para petani dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam menyukseskan program infrastruktur sumber daya air untuk mendukung swasembada pangan.

“Untuk menjadi padi, menjadi beras, tentu sangat bergantung pada kerja keras para petani. Selain air, bibit, dan pupuk, di dalamnya ada keringat Bapak/Ibu semua yang membuat kami semua bisa menikmati makan,” ujar Deputi Rachmat.

Sumur JIAT di Desa Rejomulyo memiliki kedalaman 120 meter, panjang jaringan 1.500 meter, dengan 15 unit boks bagi. Total luas layanan meningkat dari 20 hektare menjadi 25 hektare. Penggerak pompa menggunakan mesin genset berdaya 35 KVA dan listrik PLN 23 KVA.

Keberadaan JIAT ini telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kepala Desa Rejomulyo, Tushandoyo, mengungkapkan bahwa sebelumnya para petani hanya mengandalkan air hujan. Kini, hasil panen meningkat signifikan.

“Sebelum ada JIAT, petani hanya mengharapkan hujan dari Allah SWT. Bila hujannya lebat, kami bisa menanam. Bila tidak, banyak kerugian. Setelah ada JIAT, kami sangat bersyukur bisa panen hingga tiga kali,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Gapoktan Desa Rejomulyo, Sariyun, yang mengatakan bahwa sebelumnya petani hanya bisa panen sekali dalam setahun karena kekurangan air.

“Dulunya sebelum ada sumur itu cuma satu kali. Setelah ada sumur JIAT pakai genset bisa dua kali. Sekarang menggunakan listrik karena operasionalnya sangat murah, bisa tiga kali,” jelasnya.

Sariyun menambahkan, peningkatan hasil panen berdampak langsung pada kenaikan pendapatan petani. Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap program-program pemerintah, khususnya pembangunan JIAT.

Dalam kunjungan tersebut, Deputi Rachmat didampingi oleh Plt. Asdep Infrastruktur SDA dan Pangan Velly Asvaliantina, Direktur Air Tanah dan Air Baku Kementerian PU Bastari, Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari, serta turut dihadiri oleh unsur Forkopimda, GM PLN UID Lampung, Kepala Desa Rejomulyo, Kepala Desa Margakaya, Kepala Desa Mergodadi, dan Gapoktan Rejomulyo.

Dari Rejomulyo, Deputi Rachmat beserta rombongan melanjutkan kunjungan ke rehabilitasi saluran irigasi Way Tipo Kiri dan Kanan di Lampung Tengah, yang merupakan salah satu implementasi Inpres No. 2 Tahun 2025. Pembangunan infrastruktur irigasi ini menjadi upaya strategis dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. *

Artikel Lainnya