Jakarta, INDONEWS.ID - Persahabatan tak pernah berakhir bahkan sampai langit runtuh sekalipun, begitu arti pertemanan sejati seperti alumni SMP 13 Jakarta angkatan 71 dimana sahabat mereka yang tinggal dan menetap di London, hampir tiap tahun menyempatkan diri ke Jakarta hanya karena kangen dengan kawan-kawan semasa SMP. Lalu apa yang membuat ia pergi ke Inggris?
Sore di sebuah resto di pusat perbelanjaan di Pondoh Pinang, Jakarta Selata berkumpul sejumlah alumni SMP 13, satu diantaranya adalah Pemred indonews.id Asri Hadi yang berdarah Minang sama dengan Djaja Djamaludin teman satu SMP yang kini menetap di London.
Orang Minang memang dikenal senang merantau tapi menetapnya Djaja di London bukan karena memgikuti jejak leluhurnya yang senang pergi jauh dari kampung halamannya. Ketika ia lulus SMP orangtuanya yang diketahui pemilik apotek Djaja (dikenal anak muda Jaksel era 80-an) meminta ia bersekolah di luar Indonesia.
Sebelumnya ia diberi dua pilihan pergi ke London atau mondok di Pesantren, pilihan belum ia putuskan dan kebetulan di saat yang sama tetangganya hendak pergi ke London. Tahu Djaja diminta orangtuanya ke London, tetangganya meyakinkan orangtuanya kalau Daja akan aman berangkat bersama-sama. Akhirnya Djaja pun ke London tanpa memastikan pilihan yang diberikan orangtuanya.
Sejak 1973 hingga kini Daja tinggal di London, dari mulai bangku SMA, kuliah, kerja sampai berkeluarga kebetulan isterinya adalah warga berkebangsaan Inggris. Lebih dari 53 tahun Djaja di London, namun dia soal iman dia tak terpengaruh bahkan Djaja lebih Islami dari orang kebanyakan.
"Sembayang itu untuk memperbaiki kita, dan kenapa orang di sana jarang bahkan tak pernah sembayang tapi gak berbuat kesalahan. Itu karena mereka displin, jangankan menipu masuk kerja saja gak pernah telat, di Indonesia sembayangnya rajin tapi nipu juga jalan", ujarnya.
Ia berterimakasih tak jadi mondok di pesantren, menurutnya bila saat itu ia memilih mondok tentu akan menjadi ulama. Yang ia kawatirkan nanti dia mengajarkan yang tak benar ke jama'ahnya karena kebiasaan orang Indonesia yang mudah sekali berbohong. "Sudah makan belum, jawabannya sudah padahal dia lapar, itulah basa-basi yang akhirnya menjadi kebiasaan", tambahnya.
Selama menetap di Inggris Djaja tak pernah absen menunaikan kewajibannya sebagai muslim, Juma'atan pun tak absen meski agak sulit mencari mesjid di London. Keimanan itu bukan kita berada di mana, di pesantren kalau kebiasaan berbohong yang sulit untuk tidak berbohong, di lokasi yang tak ada rumah ibadah bila hati kita pasrahkan kepadaNya pasti akan menjalani perintahNya.