Jakarta, INDONEWS.ID – Danau Singkarak, salah satu ikon wisata alam Sumatera Barat, kini tertutup tumpukan kayu gelondongan setelah galodo (banjir bandang) menerjang Kabupaten Solok dalam beberapa hari terakhir. Sampah kayu dalam jumlah besar itu terbawa arus banjir dan bermuara di Danau Singkarak, tepatnya di Nagari Muaro Pingai.
Menurut laporan Kompas.com, Minggu (30/11/2025), foto udara yang dirilis Antara memperlihatkan permukaan danau terselimuti kayu-kayu gelondongan, menutupi sebagian besar area air. Material kayu itu berasal dari jalur yang dilalui banjir bandang yang menyapu wilayah Sumbar.
Sementara itu, dampak bencana di Sumatera kian memprihatinkan. Data Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana (Pusdatin) BNPB per Senin (1/12/2025) pukul 17.00 WIB mencatat 604 korban meninggal dunia.
Rinciannya: Sumatera Utara: 283 jiwa, Sumatera Barat: 165 jiwa, Aceh: 156 jiwa. Selain korban jiwa, tercatat kerusakan rumah mencapai angka signifikan 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang dan 20.500 rumah rusak ringan
Bencana tersebut juga memutus sejumlah jalur vital di Sumatera. Di Sumatera Utara, berbagai akses utama lumpuh, membuat distribusi bantuan hanya bisa dilakukan melalui jalur udara dan menggunakan alat berat.
Kondisi serupa terjadi di Aceh. Kerusakan infrastruktur membuat sejumlah wilayah benar-benar terisolasi. Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele Bener Meriah menjadi satu-satunya akses stabil untuk memasok bantuan ke daerah-daerah terdampak.
Di Sumatera Barat, jalur nasional Bukittinggi–Padang terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan. Jalur yang terdampak meliputi kawasan Kabupaten Agam, Padang Pariaman, hingga Ampek Koto (Agam).
Wisata Ikon Sumbar Lumpuh Total
Danau Singkarak yang biasanya menawarkan pemandangan indah, udara sejuk, dan wisata perahu ke tengah danau, kini berubah drastis. Tumpukan kayu gelondongan membuat aktivitas wisata berhenti total.
Danau yang terkenal sebagai habitat ikan bilih—ikan kecil khas Sumbar yang hanya hidup di Singkarak—terancam mengalami gangguan ekologis. Selain menjadi kawasan favorit wisatawan, danau ini sejatinya dapat ditempuh sekitar empat jam dari Bandara Internasional Minangkabau.
Hingga kini, pemerintah daerah masih terus melakukan penanganan dan upaya pembersihan material kayu, sembari BNPB menyiapkan dukungan untuk pemulihan akses dan distribusi bantuan ke wilayah terdampak.