Jakarta, INDONEWS.ID - Himpunan Wastraprema Kembali menggelar acara bincang bincang menelusuri karya adi luhung batik Jawa Barat dalam rangkaian wisata Wastra Ke Bandung dan Garut tanggal 29-30 Oktober 2025.Kegiatan ini menampilkan beberapa ahli wastra sebagai nara sumber yaitu Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat Dr.Komarudin Kudiya dan Ketua Umum Himpunan Wastraprema Sri Sintasari Iskandar atau dikenal dengan Neneng Iskandar .
Sri Sintasari Iskandar,mengatakan Batik Jawa Barat berasal dari sejumlah wilayah Jawa Barat Masing masing batik Jawa Barat memiliki ciri khas berdasarkan kondisi alam dan lingkungannya.Batik Jawa Barat sudah dikenal sejak jaman kerajaan. Menurut Sri Sintasari Iskandar masyarakat Priangan telah mengenal ragam hias batik sejak abad ke 12. Pengetahuan mengenai batik tidak terlepas dari kerajaan di wilayah Sunda terutama kerajaan yang berdiri tahun 1422 Masehi hingga masa penyebaran agama islam.Budaya membatik di Jawa Barat dibawa oleh masyarakat Jawa Tengah di era kerajaan Mataram.Kondisi batik Jawa Barat mengalamai pasang surut mengikuti kondisi sosial politik di Indonesia.Dalam perkembangannya tahun 2013 tercatat 27 kabupaten di Jawa barat menghasilkan batik.
Batik Jawa Barat diantaranya berasal dari Batik Cirebon, terkenal dengan batik Mega Mendung,Batik Indramayu atau dikenal batik Dermayon yang dipengaruhi motif Tiongkok. Batik Kuningan antara lain batik kuda si windu dan batik dewa yang inspirasinya berasal dari ikan khas.
Daerah Ciamis dikenal dengan motif Galuh Pakuan,Subang motif Ganasan Batik batik ini menurut Sri Sintasari merupakan karya adi luhung yang tidak kalah indahnya dengan batik yang ada di seluruh Indonesia. Pesona batik Jawa Barat terletak pada keragaman motifnya yang khas dan terinspirasi dari alam,budaya lokal seperti flora, fauna serta sejarah, dan seringkali memiliki makna filosofi mendalam.Dikatakan ciri khas batik Jawa Barat memiliki warna warni yang cerah dan berani serta dinamis.
Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar,mengatakan melalui kegiatan wisata wastra HWP yang diadakan setahun sekali, pihaknya ingin memberikan edukasi kepada anggota maupun pencinta wastra dengan menjelajahi berbagai wilayah di Nusantara yang kaya akan wastra sambil melihat dari dekat pembatikan para perajin yang berjasa dalam menghasilkan produksinya.
Menurut Neneng Iskandar kegiatan wisata Wastra tahun lalu diadakan di Solo dan beberapa tempat lainnya di Jawa Tengah.
Pada kesempatan itu Neneng Iskandar juga menyampaikan penghargaam kepada Yayasan Batik Jawa Barat yang telah memfasilitasi kegiatan ini di Bandung. Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Yusuf menyambut baik program Himpunana Wastraprema yang selalu memberikan edukasi masyarakat luas, diharapkan bincang bincang mengenai Wastra dan kain batik Jawa Barat dapat lebih menambah khazanah pengetahuan perbatikan di Indonesia.
Pada kesempatan itu, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat Dr Komarudin Kudiya yang membahas Tema Gumading Priangan yaitu cahaya dari batik Garutan mengatakan, Batik Garutan dalam sejarah batik Jawa Barat termasuk daerah pembatikan yang sudah ada sebelum lahirnya Yayasan Batik Jawa Barat tahun 2008. Namun dengan sentuhan YBJB batik Garutan semakin terasa di pentas nasional. Diatas landskap Periangan Batik Garutan berkembang sebagai kriya yang akrab dengan keseharian rakyat, dan literatur menempatkannya sebagai rumpun batik jelata, yang tumbuh di kalangan mayarakat. Karakternya familiar, adaptif, terbuka dan harmonis.Karena itu pula tampilannya sederhana dan tidak rumit, penuh dengan ragam hias flora dan fauna seperti bulu ayam, bambu, burung merak dan lainnya. Kecendrungan ini membuat batik Garutan mudah dikenali. Garis garis motifnya tidak sehalus atau serumit beberapa batik di Jawa, tetapi justru menarik lewat rytme geometrisnya.Dari sisi tehknik garutan berpijak pada prinsip tutup celup menggambar dengan malam atau lilin batik lalu mencelup ke larutan pewarna secara bertahap. Pada sisi lain garutan tidak menutup diri dari pengaruh pusat batik pedalaman Solo-Yogya tampak pada hadirnya Sidomukti beserta varian lokalnya. Namun begitu tiba di Garut motif tersebut diselaraskan dengan alam Jawa Barat, disederhanakan dan diberi warna Gumading agar selaras dengan rasa priangan.
Menurut Dr Komarudin diantara ragamnya, Merak adalah ikon. Garut menafsirkan Merak sebagai pesona yang menari dengan ekor burung merak mengembang.Latarnya seringkali gumading sehingga burung tampak melayang.Motif ini melukiskan kegembiraan,martabat sekaligus harapan . Dalam kisah lokal sering dikaitkan dengan Ngibing, yaitu semangat kemenangan dan kebanggaan daerah.
Selain batikGarutan, Batik Jawa Barat memiliki wilayah yang cukup luas.
Kegiatan Wisata Wastra HWP ini juga mengajak UMKM para pengrajin batik Jawa Barat untuk memperkenalkan hasil produksi mereka, termasuk tenun.
Gelaran Wisata Wastra HWP yang diselenggarakan satu tahun sekali ini mengambil tema Kain dan Keindahan Wastra di Garut yang diiikuti 35 peserta dari berbagai komunitas pencinta wastra selain pengurus dan anggota Wastraprema.