Nasional

Wastraprema: Jajaki Sejarah Batik Solo dari Keraton Hingga Batik Rakyat

Oleh : luska - Minggu, 01/12/2024 17:10 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Puluhan koleksi Batik Solo yang menyimpan cerita serta mengisahkan jejak budaya yang abadi , dan merupakan bagian dari sejarah hidup,dibahas  dalam kegiatan bincang bincang  Wastra Bercerita Himpunan Wastraprema yang berlangsung dua hari yaitu tanggal 29 dan 30 Nopember  2024 di  Solo Jawa Tengah dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan program tahunan Perhimpunan Wastraprema dalam mengisi Wisata Wastra 2024.

Kegiatan ini  digelar di empat lokasi mulai dari Pura Mangkunegaran ,Museum Danar Hadi, Museum Batik Keris hingga Batik Bayat Klaten  dengan  menghadirkan para pengamat wastra Indonesia, diantaranya Neneng Iskandar yang sekaligus Ketua Himpunan Wastraprema. 

Sejak awal, batik telah menjadi bagian tidak terpisahkan  dari kehidupan keraton, diciptakan oleh para putri keraton dan abdi dalem untuk memenuhi kebutuhan busana keluarga kerajaan.Batik mengalami perkembangan pesat  pada masa Mataram Islam, Batik keraton berkembang secara mandiri di Yogyakarta dan Surakarta . Masing masing keraton mengembangkan gaya batik khasnya Pakubuwana IV, misalnya memperkenalkan gaya Surakarta yang kemudian lebih dikenal sebagai batik Solo. Selain di kasunanan Surakarta, jenis atau motif batik Solo berkembang di Pura Mangkunegaran.

Dalam acara bincang bincang  Wastra bercerita yang digelar di Pura Mangkunegaran membahas mengenai makna, filosofis serta cerita di balik wastra dengan menampilkan  Batik pilihan Keluarga Pura Mangkunegaran karya  pelopor batik Indonesia GO TIK SWAN Panembahan Hardjonagoro ,dengan  menghadirkan Pengamat Wastra Indonesia sekaligus Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar Bersama Gusti Kanjeng Putri Mangkunegaran IX, GRAy Retno Satuti Yamin Suryohadiningrat serta GRAy Retno Rosati Hudiono Kadarisman. Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar mengatakan ,Go Tik Swan (GTS) merupakan empu dalam dunia perbatikan yang merupakan keturunan Tionghoa.  GTS membangkitkan  era seni batik klasik dan modern di tanah air. Menurut Neneng Iskandar, Go Tik Swan mengembangkan gaya batiknya sendiri dan hasil karyanya digarap dengan "roso", kesabaran serta ketelitian .Melalui karyanya ini GTS mengedepankan konsep Nunggak Semi.Menurut Neneng, melalui konsep tersebut GTS menekankan pentingnya mempelajari yang lama untuk menciptakan sesuatu yang baru dalam pembatikan. Neneng Iskandar, menjelaskan ,GTS tidak hanya berperan sebagai penemu batik Indonesia, tetapi juga sebagai pelestari dan pengembang batik Indonesia.GTS meninggal tahun 2008 diusia 89 tahun, beliau meninggalkan warisan yang tidak ternilai bagi dunia seni dan budaya Indonesia.

Pada kesempatan itu diperagakan 9 batik Indonesia karya Go Tik Swan oleh Pengurus HWP. Batik Indonesia karya Go Tik Swan dibuat atas permintaan Presiden Sukarno.Karena itu Go Tik Swan Kembali ke Solo untuk mendalami segala sesuatu tentang batik termasuk sejarah dan falsafahnya. Akhirnya GTS mewujudkan keinginan Sukarno dengan memadukan batik Jawa Tengah dengan pesisiran, sehingga terciptalah Batik Indonesia.

Pada kesempatan itu pula, Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar memberikan kenang kenangan berupa Buku Go Tik Swan untuk menambah  koleksi Museum Mangkunegaran.
Seiring waktu,pembuatan batik meluas keluar lingkungan keraton yang dikelola para saudagar batik. Mereka mengambil ragam hias batik keraton dan memodifikasikannya dengan selera pasar.Muncul tehnik cap yang semula cap kayu beralih ke tembaga, membuat industri batik berkembang pesat. Sentra industri atau dikenal Kampung Batik Laweyan tumbuh di Laweyan dan Kauman. Seiring berjalannya waktu setelah mengenal tehnik membatik Laweyan kemudian Laweyan  dikenal sebagai sentra industri batik cap abad ke 19. Tehnik cap memungkinkan batik dikerjakan dengan lebih mudah dan cepat dengan harga lebih murah.Meski batik diproduksi untuk kebutuhan pasar, beragam motif batik pun berkembang di Laweyan.Sementara itu, Kauman masa lalu merupakan pemukiman para abdi dalem
  Sementara, Keraton Kasunanan, tradisi membatik dengan motif motif keraton terus dilestarikan oleh para abdi dalem, sejak itu bisnis batik berkembang di Kawasan Kauman.  

Kemudian dari Solo  muncul beberapa perusahaan batik yang memiliki nama besar dan dikenal seperti Batik Keris didirikan tahun 1920, hingga batik Danar Hadi tahun 1967.

Untuk mengenal lebih jauh cerita dan sejarah Batik Danar Hadi,  Himpunan Wastraprema juga 
mengunjungi Museum Danar Hadi dan  bincang bincang mengenai Batik Pilihan  koleksi keluarga Danarsih Santosa Doellah di Museum Danar Hadi Solo yang disampaikan  Kurator Museum Danar Hadi  Asti Suryo Astuti.

Sementara itu,kegiatan bincang bincang wastra bercerita juga dilakukan di Museum Batik Keris Solo dengan menampilkan Batik pilihan Koleksi Keluarga Lina Handiyanto .
Menampilkan  nara sumber diantaranya Ketua Himpunan HWP Neneng Iskandar,Djongko Rahardjo Pemerhati  desain batik.
  
Batik saat ini semakin berkembang, dan setiap daerah memiliki ciri khas batik masing masing sesuai latar belakang sejarah dan budayanya .Salah satu batik di daerah Klaten yang dikembangkan perajin muda menjadi salah satu fokus perhatian Himpunan Wastraprema, yaitu Batik Bayat .Batik ini masih bertahan ditengah tantangan yang dihadapi para pengrajin.Pada kesempatan ini HWP mengajak untuk berkolaborasi dengan Sekolah Menengah Kejuruan Rota yaitu siswa siswi Jurusan tekstil untuk mengetahui lebih dalam mengenai sejarah Batik Bayat Klaten,mengajak penggiat wastra muda untuk terus melakukan inovasi baru terkait dengan produk batik yang memiliki cerita sejarah.
 


Dalam acara bincang bincang kali ini di Klaten dibahas mengenai sejarah dan kreativitas desain baru serta mengupas Batik Rakyat Motif dan Gaya.Hadir sebagai nara sumber Gunadi Kasno Wihardjo dan Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar.
Dimeriahkan pula dengan peragaan busana oleh Pegiat Muda Bayat Klaten serta Bazaar dari generasi muda pecinta wastra Bersama perajin batik Klaten dan karya SMK Rota.

Batik  Indonesia diakui UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009, dengan mengalami perjalanan Panjang. Batik tidak hanya bernilai seni, tetapi penuh dengan makna filosofis. Batik layak diakui dunia karena batik Indonesia dibuat dengan tehnik, memiliki simbolisme dan budaya yang dianggap melekat degan  kebudayaan Indonesia.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar berharap melalui kegiatan yang diikuti berbagai kalangan pencinta dan penggiat wastra ini akan lebih memperluas jaringan komunikasi dan kerjasama dalam pengembangan wastra nusantara, sekaligus meningkatkan pemberdayaan pelaku atau komunitas pengrajin  wastra batik di tanah air.
Neneng Iskandar berharap agar melalui kegiatan ini dapat mengajak berbagai kalangan untuk mengenal dan mempelajari wastra, dalam hal ini Batik Solo. Karena Wastra tidak sekedar kain tetapi ada nilai nilai filosofinya.
Kegiatan ini dikuti 35 peserta dari Jakarta dan anggota Yayasan Batik Jawa Barat serta Asosiasi Perajin pengusaha Batik Indonesia.

Sekilas mengenai Himpunan Wastraprema (HWP)

Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.
Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastaprema pada tanggal 28 Juni 1976.

Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang merupakan hibah dari beberapa gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.

Misi Himpunan Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.
Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta,

Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Periode 2023-2027 Sri Sintasari Iskandar atau Neneng Iskandar.

Artikel Lainnya