Nasional

Sri Sultan Soroti Kasus Keracunan Massal MBG di Gunungkidul: Pengawasnya Jangan Cuma di Atas Kertas

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 31/10/2025 06:39 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti serius kasus dugaan keracunan massal yang dialami lebih dari 600 siswa di Kabupaten Gunungkidul usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini menjadi yang terbaru dari serangkaian kasus serupa yang muncul sejak program tersebut dijalankan.

Dalam keterangannya di Yogyakarta, Kamis (30/10/2025), Sultan mempertanyakan kompetensi dan peran pengawas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai kabupaten. Ia menilai lemahnya pengawasan dapur menjadi salah satu penyebab utama munculnya insiden berulang seperti ini.

“Kalau yang ngawasi bapak-bapak enggak pernah ke dapur ya ora ngerti (tidak tahu). Biarpun dokter urung karuan ning dapur (belum tentu ke dapur),” tegas Sultan.

Sultan menekankan agar setiap dapur SPPG memperhatikan proses pengolahan, penyimpanan, dan kebersihan bahan makanan secara ketat. Ia juga meminta agar jumlah porsi yang disiapkan disesuaikan dengan kemampuan pengelola dapur untuk mencegah makanan disimpan terlalu lama.

“Selalu saya katakan, kalau memang itu terlalu banyak di luar kemampuan yang masak, dimakan jam 8 atau jam 10 khususnya sayur atau daging, mestinya membutuhkan es batu atau freezer,” ujarnya.

Menurut Sultan, penyimpanan bahan makanan terlalu lama tanpa pendinginan yang memadai dapat memicu pertumbuhan bakteri berbahaya yang menyebabkan keracunan.

Bupati Gunungkidul Lakukan Inspeksi

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG di Planjan, Kecamatan Saptosari, Rabu (29/10/2025).

Sidak dilakukan setelah lebih dari 600 siswa SMKN 1 Saptosari dan SMPN 1 Saptosari mengalami keluhan mual, muntah, dan sakit perut usai mengonsumsi makanan MBG pada Selasa (28/10/2025). Gejala keracunan dilaporkan muncul tidak bersamaan, namun sebagian siswa harus mendapatkan perawatan medis.

“Seperti yang kita lihat bersama, kita mengecek bahan bakunya, baik yang basah maupun kering, kemudian tempat untuk masak, dan pencuci piringnya,” ujar Endah di lokasi.

Bupati juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap praktik dapur yang menutup makanan dalam keadaan panas, karena dapat menimbulkan uap yang bercampur dan mempercepat proses pembusukan.

Selain itu, Endah menyebut hasil pemeriksaan air di lokasi dapur menunjukkan adanya indikasi bakteri E. Coli yang berpotensi menyebabkan keracunan.

Kasus di Gunungkidul menambah daftar panjang insiden yang mencoreng pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di DIY. Sultan menyatakan, pihaknya akan meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja SPPG, mulai dari standar kebersihan, kualitas bahan, hingga pelatihan petugas dapur.

“Kalau yang masak tidak memahami cara penyimpanan bahan makanan dan pengawasnya tidak turun langsung, ya kejadian seperti ini akan terus terulang,” tutup Sultan.

Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan DIY kini tengah menelusuri sumber pasti penyebab keracunan, termasuk hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan air di lokasi dapur SPPG.

Artikel Lainnya