Penulis: Dikdik Sadikin
Di dunia yang bergerak cepat seperti rel-rel besi itu, kita kerap percaya bahwa yang hilang tak selalu kembali. Seorang filsuf Yunani pernah menulis, "Kita tak dapat melangkah ke sungai yang sama dua kali." Arus berubah, dunia berganti, dan barang-barang yang terlepas sering terseret oleh nasib yang tak bisa kita tawar.
Pada 6 November 2025, anak bungsu saya, Farrel, pulang dari bangku kuliahnya di Universitas Indonesia, Depok. Ia naik KRL dari Stasiun UI menuju Bojong Gede; perjalanan pendek yang bagi ribuan mahasiswa dan pekerja adalah semacam ritus harian metropolitan. Di gerbong itu, ia menyimpan tas punggungnya di rak atas. Sebuah tindakan sederhana yang telah dilakukan ratusan ribu kali oleh jutaan penumpang.
Tapi hidup, seperti kata Milan Kundera, "kadang bergeser pada kelalaian yang paling kecil." Farrel tiba di rumah, dan baru menyadari: tasnya tak ikut pulang.
***
Kami sempat terdiam.
Istri saya mengucap lirih, "Innalillahi...". Sebuah doa, sebuah kepasrahan, sekaligus pengakuan bahwa di kota besar, harapan kadang kalah oleh statistik. Di Jakarta, menurut data BPS, mobilitas harian mencapai lebih dari 20 juta perjalanan. Dalam kerumunan sebesar itu, apa peluang sebuah tas kembali dari keterlupaan?
Di Tokyo, kota dengan sistem transportasi publik paling presisi di dunia, sebuah laporan tahun 2022 mencatat bahwa lebih dari 3,8 juta barang hilang dilaporkan setiap tahun. Tak semuanya kembali. Bahkan di negara yang membanggakan etos disiplin tinggi, ada ruang bagi kehilangan yang menetap.
Maka apa peluang kami di sini?
***
Tiba-tiba, sebuah kasus kecil muncul di media: tentang tumbler tuku di KRL Commuter yang penuh drama dan viral itu, memancing riak perhatian. Seperti titik cahaya kecil di permukaan air keruh. Meskipun tas Farrel tertinggal di kereta nyaris genap sebulan, kisah itu membuka kembali pintu harapan yang semula kami tutup.
Istri saya, dengan semangat yang muncul entah dari mana, Selasa pagi 2 Desember 2025, melapor ke PT KAI di Stasiun Bogor. Saya sempat ragu. Kami cenderung percaya bahwa birokrasi adalah labirin: orang masuk dengan harapan, keluar dengan lelah. Tapi Kemudian besoknya, 3 Desember 2025, sekitar pukul 10.00 pagi, telepon itu tersambung pada seorang petugas PT KAI. Nada suaranya tenang, prosedural, tapi penuh kehangatan.
Di Jepang, layanan lost and found kereta dikenal ketat. Di beberapa kota Eropa, seperti Berlin atau Stockholm, barang hilang bisa menunggu berminggu-minggu untuk diverifikasi. Tetapi di sini, di tengah semua stereotip tentang pelayanan publik yang lambat, terjadi sesuatu yang tak kami duga: prosedur cepat, jelas, dan manusiawi.
Petugas PT KAI itu meminta detail, mencocokkan laporan. Hanya itu yang ia perlukan. Selanjutnya, kami diminta mengambil tas tersebut di Stasiun Depok Baru.
***
Tanggal 3 Desember 2025, hampir sebulan setelah tas itu hilang, saya dipersilakan memasuki sebuah ruangan di Stasiun Depok Baru. Tak ada drama. Tak ada kesan rumit. Hanya sehelai surat pengaduan, beberapa pertanyaan singkat, dan kemudian petugas mempersilakan saya memeriksa isi tas.
Satu per satu barang di dalamnya... tetap utuh. Tak ada yang hilang. Tak ada yang diganti. Seakan tas itu hanya singgah di suatu ruang transit yang menjaga rahasia dan martabat benda-benda yang dititipkan nasib.
Di stasiun itu, saya teringat kalimat Albert Camus: "Di tengah musim dingin yang kelam, aku menemukan dalam diriku musim panas yang tak terkalahkan." Barangkali, dalam sistem yang sering kita anggap retak, ada ruang-ruang kecil yang tetap memelihara integritas.
PT KAI, dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa reformasi bukan slogan, melainkan serangkaian tindakan yang diam-diam mengubah persepsi orang. Kita sering bicara tentang negara-negara maju yang memiliki sistem transportasi disiplin---Jepang, Korea Selatan, Swiss. Tapi mungkin kemajuan bukan hanya soal kecepatan kereta, ketepatan jadwal, atau kecanggihan mesin. Kadang ia tampak dalam hal sesederhana mengembalikan apa yang bukan milik kita.
***
Tanggal 3 Desember 2025, pukul 14.00, tas itu kembali ke tangan saya.
Dan saya merasa negara ini, dalam bentuk yang paling kecil dan sunyi, sedang belajar menjaga kepercayaan warganya.
Tidak ada satu barang hilang, tak ada satu ingatan yang tercoret. Hanya rasa terima kasih yang tumbuh, terutama kepada para petugas yang bekerja di ruang-ruang senyap tanpa sorotan.
Mungkin, seperti kata penyair Rilke, "Keindahan adalah awal dari yang menakutkan." Dan kehilangan adalah bagian dari hidup. Namun, dalam momen-momen tertentu, manusia membuktikan bahwa yang hilang kadang bisa kembali---bukan karena keajaiban, tapi karena komitmen sederhana untuk menjaga.
Terima kasih, PT KAI.
Semoga rel-rel besi itu terus membawa kita pulang, beserta harapan kecil yang menyertainya.
Bogor, 4 Desember 2025