Nasional

Talkshow & Launching PSGKB: Menguatkan Ekosistem Gender dan Kepemimpinan Inklusif Menuju Birokrasi Indonesia yang Berkeadilan

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 09/12/2025 21:42 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Politeknik STIA LAN Jakarta bersama Lembaga Administrasi Negara menggelar Talkshow dan Launching Pusat Studi Gender dan Kepemimpinan Birokrasi (PSGKB) dengan tema “Urgensi PSGKB: Gerak Bersama Menguatkan Ekosistem Gender & Kepemimpinan Birokrasi yang Inklusif” bertempat di Graha Wicaksana LAN RI. Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan nasional menuju birokrasi yang lebih setara, adil, serta mendorong terwujudnya kepemimpinan yang inklusif bagi seluruh elemen masyarakat.

Acara dilaksanakan secara langsung dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi Politeknik STIA LAN Jakarta, sehingga memungkinkan partisipasi publik yang lebih luas.

Kegiatan ini menghadirkan tiga Keynote Speakers: Veronica Tan, S.T., Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Dr. Muhammad Taufiq, DEA, Kepala Lembaga Administrasi Negara; Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional

Serta dua discussant: Prof. Drs. Anwar Sanusi, MPA., Ph.D, Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Prof. Dr. Nurliah Nurdin, S.Sos., MA, Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta. Acara dipandu oleh Ratri Istania, Ph.D, Dosen Politeknik STIA LAN Jakarta.

Wamen PPPA Veronica Tan: “Menjadi perempuan di Indonesia itu berat, tetapi pembangunan kualitas perempuan adalah kuncinya”

Dalam paparannya, Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menyoroti tantangan yang masih dihadapi perempuan Indonesia. “Menjadi perempuan di Indonesia sangat berat, karena masih ada stigma bahwa setelah menikah, perempuan ‘harus kembali ke rumah’. Walaupun bekerja, kesempatan yang diberikan pun belum sepenuhnya berkeadilan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pembangunan kualitas perempuan adalah kunci untuk membuka akses, kesempatan, dan ruang kepemimpinan yang lebih inklusif. Untuk itu, diperlukan pendekatan kebijakan yang berani dan inovatif.

“Kita perlu membuat terobosan dengan mencari bottle neck dari permasalahan ini. Jika hambatannya dapat diidentifikasi secara tepat, solusi yang dirumuskan akan jauh lebih efektif,” tambahnya.

Wamen PPPA berharap PSGKB dapat menjadi pusat data, advokasi, dan pembelajaran untuk memperkuat kesetaraan gender di birokrasi.

Kepala LAN: “Birokrasi setara adalah birokrasi yang memberikan dampak”

Kepala LAN, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, menekankan bahwa kesetaraan gender merupakan bagian integral dari reformasi birokrasi.

“Kita harus membangun kolaborasi yang kuat dan berimbang antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan birokrasi yang inklusif, birokrasi yang lebih berkeadilan, dan birokrasi yang memberikan dampak dalam kemajuan bangsa,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa sinergi berbagai pihak, termasuk PSGKB, diperlukan untuk memperkuat ekosistem kebijakan yang responsif dan inklusif di setiap level kepemimpinan birokrasi.

Kepala BRIN: Pengarusutamaan gender dalam riset & inovasi dan 4 pilar kepemimpinan masa depan

Keynote yang disampaikan oleh Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menegaskan pentingnya pengarusutamaan gender dalam ekosistem riset dan inovasi nasional.
“Penguatan riset bukan hanya tentang teknologi, tetapi bagaimana memastikan bahwa struktur dan kepemimpinan riset juga inklusif,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa BRIN sedang menguatkan strategi konsolidasi riset nasional secara horizontal dan vertikal, sehingga memperkuat efisiensi, kolaborasi, dan dampak penelitian nasional.

Prof. Arif juga menyoroti empat pilar kepemimpinan masa depan, yaitu: Lead the Future – membangun visi strategis; Lead Change – menjadi agen transformasi; Lead Others – memimpin dengan kolaborasi dan Lead Self – memiliki integritas dan penguasaan diri

Pilar ini penting untuk membangun ekosistem riset yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. Discussant Prof. Anwar Sanusi: Tantangan kesejahteraan perempuan dan kebutuhan kepemimpinan inklusif. 

Prof. Anwar Sanusi mengangkat berbagai isu yang masih membayangi kesejahteraan perempuan Indonesia, antara lain: partisipasi perempuan yang belum optimal, keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan, maraknya pernikahan usia dini, kurangnya perlindungan sosial, hambatan geografis, serta ketidaksetaraan struktural lainnya.

Menurutnya, penyelesaian masalah ini membutuhkan konseptualisasi terpadu kepemimpinan inklusif, bukan hanya kebijakan sektoral. Ia juga menekankan strategi memperkuat partisipasi politik perempuan melalui sinergi lintas sektor. “Kesetaraan membutuhkan kolaborasi. Semua pihak harus bergerak bersama,” tegasnya.

Discussant Prof. Nurliah Nurdin: Kepemimpinan perempuan bukan isu kemampuan, tetapi isu akses

Prof. Nurliah menegaskan bahwa perempuan Indonesia telah menunjukkan kemampuan dan kompetensinya dalam berbagai bidang. “Perempuan yang masuk politik sekitar 20%, dan itu karena kompetensi. Tantangannya bukan pada kemampuan, tetapi akses dan peluang yang belum setara,” katanya.

Menurutnya, PSGKB harus menjadi ruang untuk menguatkan kapasitas, jejaring, dan advokasi bagi perempuan dalam birokrasi dan politik. “Jika aksesnya diperluas dan sistemnya berkeadilan, perempuan akan tampil sebagai pemimpin yang kuat dan berintegritas,” ujarnya.

PSGKB Resmi Diluncurkan: Membangun pusat riset, advokasi, dan kepemimpinan inklusif

Dengan diluncurkannya PSGKB, Politeknik STIA LAN Jakarta berkomitmen untuk menjadi pusat pengetahuan, pusat riset, pusat pelatihan, dan pusat kolaborasi untuk menguatkan ekosistem kepemimpinan inklusif di Indonesia.

Melalui kombinasi riset, pendidikan, dan advokasi kebijakan, PSGKB diharapkan menjadi katalisator dalam memperkuat birokrasi yang responsif gender serta mendorong partisipasi kepemimpinan perempuan di seluruh sektor.

Acara yang turut disiarkan melalui YouTube resmi Politeknik STIA LAN Jakarta ini ditutup dengan harapan besar bahwa gerakan menuju birokrasi inklusif akan terus tumbuh dan menghasilkan perubahan nyata.

 

Artikel Lainnya