Jakarta, INDONEWS.ID - Kita menyakini politik bebas aktif berhubungan dengan negara lain, namun terhadap negara besar keyakinan itu terasa luntur. Menurut mantan Deputy Chief of Mission KBRI Beijing, kebijakan luar negeri itu seyogyanya untuk kemudahaan masyarakat, di Turki kita bisa bebas visa kenapa di Inggris atau AS kita tidak bisa, harusnya Kemenlu juga upayakan itu.
Pernyataan tersebut ia ungkapkan saat disikusi publik yang digagas Namarin dengan tema "Luar Negeri, Keamanan Maritim, Pelabuhan/Pelayaran", dengan pembicara PLE Priatna mantan DCM KBRI Beijing, Laksma TNI Salim, Kapusjiamar Seskoal, dan Wahyono Bimarso ahli pelabuhan, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Menurutnya, kebijakan Kemenlu seharusnya mempermudah masyarakat kita, masalah visa itu pun masalah perorangan tapi sudah urusan negara. Kenapa di Turki atau di negara Eropa Timur kita bisa dapat, namun di negara seperti Inggris, Perancis, atau AS jangankan bebas visa nama berbau Islam saja sulit.
Dikatakan, kalau politik luar negeri kita bebas aktif, kenapa di sejumlah negara kita bisa dapat bebas visa sementara di negara-negara besar tidak bisa. Selain itu saat buat pernyataan keras pun Kemenlu masih melihat siapa negaranya, apalagi yang ada hubungannya dengan AS.
Lalu ia mencontohkan bagaimana sikap Kemenlu dengan peristiwa global, saat Venuzuela diserbu pasukan AS bahkan Presiden-nya diculik. Menurutnya, pernyataan Kemenlu itu normatif seperti tak memamahi geopolitik, padahal hukum internasional jelas melarang menculik kepala negara, tapi pernyataan Kemenlu tak berani menyinggung itu.
Dikatakan sebagai negata bebas aktif, seharusnya kita juga punya daya tawar, mengeluarkan pernyataan lemah terhadap negara besar tapi keras di luar negara besar. "Kalau sudah berhubungan dengan AS kita seperti tak punya kekuatan. Harusnya kalau mereka mempeelakukan warga kita sulit dapat visa, kita juga lakukan itu terhadap mereka", tambahnya.
Terkait keamanan negara ke depan, dirinya setuju dengan pernyataan Laksma TNI Salim, bahwa kita harus mulai memikirkan laut. Karena laut itu bukan hanya untuk perekonomian tapi juga harus dipikiran keamanannya.