Kita telah menyimak refleksi para tokoh, mendengar pengalaman lintas zaman, dan berdialog tentang tantangan hari ini. Izinkan saya menutup dengan tiga hal: pesan moral, tantangan, dan isyarat masa depan.
Pertama, pesan moral. Tanpa integritas, pengetahuan menjadi alat, bukan pencerahan. Pers kampus, dulu, kini, dan nanti, harus menjadi penjaga disiplin berpikir: jujur pada fakta, adil pada perbedaan, dan bertanggung jawab pada dampak. Etika bukan aksesori; etika adalah fondasi.
Kedua, tantangan kepada generasi muda. Dunia Anda memberi panggung yang luas. Tetapi panggung tanpa etika akan memproduksi kebisingan, bukan makna. Pertanyaan saya sederhana:
Apakah Anda akan memilih jalan cepat yang ramai, atau jalan benar yang kadang sepi?
Apakah Anda akan mengejar klik, atau merawat kepercayaan?
Ketiga, isyarat masa depan. Banyak rekan seangkatan kami berharap nilai Salemba dapat hadir kembali dalam bentuk dan teknologi baru. Namun kami sepakat: hal itu hanya mungkin jika civitas academica UI merespons positif, jika pendanaan berkelanjutan tersedia, dan jika pengelolaannya dipercaya kepada figur-figur berintegritas.
Artinya, hari ini bukan pengumuman lembaga baru. Hari ini adalah undangan terbuka, kepada kampus, alumni, dan mahasiswa, untuk memikirkan bersama apakah warisan nilai ini layak kita rawat dalam format yang relevan.
Akhirnya, terima kasih kepada para pembicara, panitia, dan seluruh hadirin. Semoga peringatan ini tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi kompas moral bagi kita semua.
**closing statement ini disampaikan oleh Antony Z Abidin setelah panel diskusi dg panelis para mantan tokoh mahasiswa, yaitu ketua DMUI: Hariman Siregar, Dipo Alam, Lukman Hakim Serta Saur Hutabarat (UGM), Heri Akhmadi (ITB) dan Harun Alrasyid (ITS).
Prof Emil Salim memberikan sambutan setelah menerima penghargaan sebagai pelopor
surat kabar kampus UI serta Keynote speak Yusril Ihza Mahendra dan Chairul Tandjung pada peringatan Setengah Abad Suratkabar Salemba di Auditorium FKUI UI Salemba, 14 Januari 2026.