Jakarta, INDONEWS.ID – Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang kian mencekam, Eropa memasuki fase perlombaan senjata terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Benua biru yang selama puluhan tahun berada di bawah payung perlindungan Amerika Serikat kini dipaksa menghadapi realitas baru: kedaulatan dan keamanan mereka tidak lagi bisa sepenuhnya digantungkan pada Washington.
Transformasi militer Eropa pun bergerak cepat. Dari kekuatan pendukung, negara-negara Eropa mulai membangun mesin pertahanan mandiri untuk menghadapi ancaman serius yang kini muncul dari kawasan Timur. Jerman berada di garis terdepan perubahan ini, dengan ambisi besar membangun angkatan darat konvensional terkuat di Eropa.
Mulai awal 2026, pemerintah Jerman mewajibkan seluruh pemuda berusia 18 tahun mengisi kuesioner kesiapan dinas militer. Meski masih bersifat sukarela, kebijakan ini menjadi fondasi hukum bagi Kanselir Friedrich Merz untuk memperluas dan memperkuat Bundeswehr. Targetnya ambisius: 260.000 personel aktif dan 200.000 pasukan cadangan pada 2035, menyamai kekuatan Jerman di era Perang Dingin.
Merz menilai, sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, Jerman tak bisa terus menjadi “raksasa ekonomi yang kerdil secara militer”. Perang di Ukraina menjadi titik balik yang membuka mata Berlin bahwa stabilitas Eropa hanya bisa dijaga dengan kekuatan militer yang mampu menciptakan efek jera.
Tahun ini, anggaran pertahanan Jerman melonjak hingga 108 miliar euro atau sekitar Rp1.950 triliun, setara 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pemerintah bahkan menargetkan belanja pertahanan mencapai 3,5 persen PDB pada 2030. Langkah ini dimaksudkan agar Jerman mampu memimpin pertahanan kolektif Eropa tanpa harus menunggu restu Amerika Serikat.
Konsep “angkatan darat terkuat di Eropa” yang dicanangkan Berlin mencakup modernisasi besar-besaran alutsista, mulai dari pembaruan total tank Leopard 2, penguatan sistem pertahanan udara jarak jauh, hingga integrasi kecerdasan buatan dalam sistem komando tempur. Bundeswehr diproyeksikan menjadi tulang punggung operasional NATO di daratan Eropa.
Dorongan utama perubahan ini adalah menurunnya kepercayaan Eropa terhadap komitmen keamanan Amerika Serikat. Kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai nativistik serta Strategi Keamanan Nasional AS yang dirilis pada November 2025 dianggap merendahkan institusi Eropa. Survei terbaru menunjukkan 84 persen warga Jerman tidak lagi percaya AS akan menjamin keamanan mereka.
Ketiadaan jaminan tersebut menjadi krusial di tengah penguatan militer Rusia yang kini beroperasi dalam mode ekonomi perang penuh. Rusia memiliki keunggulan pengalaman tempur, produksi amunisi besar, armada drone canggih, serta sistem pertahanan udara berlapis. Sementara itu, kekuatan militer Eropa masih terfragmentasi oleh perbedaan sistem dan ego nasional, serta ketergantungan pada logistik dan intelijen AS.
Namun, keseimbangan mulai bergeser. Selain penguatan Bundeswehr, Eropa juga mempertimbangkan pembentukan penangkal nuklir gabungan Inggris–Prancis sebagai alternatif payung nuklir Amerika. Langkah ini memicu kekhawatiran Moskow. Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechayev, menuding Berlin tengah mempercepat persiapan konfrontasi militer skala penuh.
Di dalam negeri, persepsi ancaman semakin menguat. Delapan dari sepuluh warga Jerman meyakini Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berniat damai dan berpotensi memperluas konflik ke wilayah NATO pada 2029.
Secara historis, kebangkitan militer Jerman memiliki makna simbolik yang kuat. Dari kekuatan darat dominan pada Perang Dunia I, mesin perang Blitzkrieg di Perang Dunia II, hingga kehancuran total dan demiliterisasi pasca-1945, Jerman selama puluhan tahun memilih jalan pasifisme dan fokus pada pembangunan ekonomi. Budaya antimiliterisme tertanam kuat sebagai penebusan atas masa lalu kelam.
Titik balik terjadi pada 2022 lewat invasi Rusia ke Ukraina yang melahirkan kebijakan Zeitenwende. Di bawah Kanselir Olaf Scholz dan diteruskan lebih agresif oleh Friedrich Merz pada 2026, Jerman mulai meninggalkan pasifisme dan membangun kembali kekuatan militernya.
Transformasi Jerman di 2026 mencerminkan siklus sejarah yang luar biasa: dari pusat militerisme dunia, runtuh total, menjadi pasifis, dan kini kembali sebagai benteng pertahanan utama Eropa. Bedanya, kebangkitan militer kali ini bukan untuk ekspansi wilayah, melainkan sebagai respons atas ancaman nyata dan hilangnya kepercayaan pada sekutu lama, menandai era baru keamanan Eropa yang lebih mandiri.*