Bisnis

Di Bawah Presiden Prabowo, Indonesia Masih Menjadi Tujuan Investasi Terutama dari Tiongkok dan Singapura

Oleh : very - Selasa, 20/01/2026 19:11 WIB


Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS) menggelar acara "Global Market Exploration : Focus On Indonesia" di Nusantara Hall Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, Selasa, 20 Januari 2026. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS) menggelar acara "Global Market Exploration : Focus On Indonesia" di Nusantara Hall Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, Selasa, 20 Januari 2026.

Hadir sebagai narasumber yaitu Ricky Kusmayadi, Staf Khusus Menteri Bidang Hubungan Lembaga; Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik, Saribua Siahaan; Direktur Kerjasama Regional dan Multilateral, Fajar Usman; The Module`s Faculty Lead Prof Yeo Guat Kwang; Chairman China Chamber of Commerce in Indonesia for Central Java, Mr. Wu Lei;

Selanjutnya, Komisaris PT Sunra Asia Pasific Hi-Tech, Ismeth Wibowo; Founder Tomoro Coffee, Mr. Star; pejabat di lingkungan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, peserta dari National University of Singapore (NUS) dan para peserta lain.

Acara untuk membahas peluang investasi dan kebijakan strategis Indonesia tersebut menghadirkan lebih dari 40 pengusaha dan investor dari Singapura dan Tiongkok.

Komisaris PT Sunra Asia Pasific Hi-Tech, Ismeth Wibowo mengatakan bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi asing, terutama dari Tiongkok dan Singapura.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi bagi para investor asing terutama dari Tiongkok dan Singapura. Saya meyakini bahwa investor strategis akan menanamkan modalnya di Indonesia,” ujar Ismeth.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebutkan bahwa Singapura menjadi negara asal PMA terbesar pada 2025, dengan nilai investasi US$17,4 miliar atau sekitar 30,9% dari total PMA.

“Secara konsisten Singapura sudah 10 tahun lebih konsisten di nomor satu. Kemudian, diikuti oleh Hongkong dan China,” ujar Rosan dalam konferensi pers di kantor BKPM, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Komposisi realisasi investasi tahun lalu masih didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan kontribusi sebesar 53,4% atau senilai Rp1.030,3 triliun, atau tumbuh 26,6% secara tahunan (yoy). Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 46,6% atau Rp900,9 triliun, dengan pertumbuhan tipis 0,1% (yoy).

Hal ini menunjukkan dorongan investasi 2025 lebih kuat datang dari dalam negeri, meski aliran modal asing tetap besar dari sisi nilai.

BKPM mencatat, lima negara asal investor terbesar di Indonesia sepanjang 2025 adalah Singapura, Hongkong, China, Malaysia, dan Jepang. Singapura memimpin dengan nilai investasi mencapai US$17,4 miliar, disusul Hongkong sebesar US$10,6 miliar, dan China di posisi ketiga dengan US$7,5 miliar. Sementara itu, Malaysia mencatat investasi senilai US$4,5 miliar, dan Jepang sebesar US$3,1 miliar.

Kalau melihat empat tahun terakhir, ada empat negara yang hampir selalu masuk daftar lima besar investor asing ke Indonesia, yaitu Singapura, Hongkong, China, dan Malaysia.

 

Tren Investasi China ke Indonesia
Rosan mengatakan, investasi China ke Indonesia cenderung membesar dalam 10 tahun terakhir, meski sempat naik turun.

Pada 2016 sampai 2018, nilainya masih di kisaran US$2 miliar sampai US$3 miliar, dari US$2,7 miliar pada 2016, turun ke US$2,1 miliar pada 2017, lalu naik tipis ke US$2,4 miliar pada 2018.

Mulai 2019, nilainya melonjak ke level baru, menjadi US$4,7 miliar dan bertahan tinggi sampai 2021 di kisaran US$4,6 miliar sampai US$4,8 miliar. Lompatan berikutnya terjadi pada 2022 ketika investasi China menembus US$8,2 miliar. Setelah itu, nilainya tetap besar di kisaran US$7 miliar sampai US$8 miliar hingga 2025.

Meski bukan selalu yang terbesar, China tetap menjadi salah satu investor utama Indonesia, terutama sejak 2022 ketika nilainya stabil di level tinggi. *

Artikel Lainnya