Jakarta, INDONEWS.ID - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, menerima audiensi dari delegasi China Huaneng Group di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, pada Senin (6/4). Pertemuan itu guna membahas peluang kerja sama investasi di sektor energi.
Hadir juga dalam pertemuan itu yaitu, Deputy Menteri bidang Investment Planning Ichsan Zulkarnaen, Director of Investment Services for non Industrial Sector Rahardjo Siswohartono, Staf Khusus Wakil Menteri Investasi Kemal.
Selanjutnya, Penasihat Senior Huaneng Ismeth Wibowo, Teuku Agassi Revano Harsya dari KADIN Indonesia dan Yudha dari Kementerian PU.

Turut hadir dari Hydrolancang International Energy Co. Ltd yaitu CFO & Deputy Director, HIE, Shen Juan, Section chief of Planning & Development Dept., HIE, Wang Zengfu, Engineer, Legal Affair Dept., HIE, Yu Aili, dan Engineer, Legal Dept., HIE Yang Yang
Wakil Menteri Todotua melalui akun resmi Instagramnya (@todotua_p), mengatakan bahwa pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama investasi di sektor energi, termasuk pengembangan energi baru dan terbarukan seperti hydro (air) dan solar (matahari) dengan rencana investasi sebesar 50 Mega Watt.
“Melalui audiensi ini, pemerintah mendorong investasi berkualitas yang memberikan nilai tambah, memperkuat ketahanan energi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.

Pertemauan ini, kata Wamen, merupakan peluang kerja sama strategis di sektor energi dan hilirisasi. ”Sinyal besar (bagi) investasi energi,” katanya.
Dalam pertemuan itu, pemerintah menegaskan komitmen untuk terus mendorong masuknya investasi berkualitas yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi pembangunan nasional.

Ia menambahkan, sektor energi terbarukan menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam mendorong transisi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.
Sementara itu, Ismeth mengatakan mengapresiasi kesediaan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi dalam menerima delegasi tersebut.
Ismeth juga menyambut gembira hasil pertemuan yang sangat kontruktif itu. ”Semoga pertemuan ini bisa membuahkan hasil positif bagi kemajuan investasi maupun kepentingan kedua belah pihak, serta memberikan nilai tambah bagi pembangunan nasional,” ujarnya.
Pertemuan tersebut menitikberatkan pada pengembangan energi baru dan terbarukan, khususnya pembangkit listrik berbasis hidro (air) dan solar (matahari), dengan rencana investasi awal mencapai 50 Mega Watt (MW).
Kerja sama dengan China Huaneng Group dinilai strategis mengingat perusahaan tersebut memiliki pengalaman global dalam pengembangan proyek energi skala besar, termasuk pembangkit listrik ramah lingkungan.

China Huaneng Group (CHNG) adalah perusahaan energi milik negara Tiongkok yang didirikan pada 1985. Sebagai salah satu dari lima perusahaan pembangkit listrik terbesar di Tiongkok, perusahaan ini berfokus pada pengembangan, konstruksi, dan operasi pembangkit listrik, serta batu bara, energi terbarukan yang meliputi angin, surya, dan air, serta keuangan.
Perusahaan yang berkantor pusat di Beijing, Tiongkok ini berkomitmen pada transisi energi dan pengembangan proyek energi terbarukan.
Huaneng merupakan pemain utama dalam industri energi Tiongkok dan terdaftar dalam Fortune Global 500. *