Opini

DARI IMPERIUM DUNIA KE TAKDIR NUSANTARA

Oleh : luska - Jum'at, 23/01/2026 07:10 WIB


Penulis : Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Membaca Ulang Sejarah untuk Masa Depan Indonesia

Sejarah dunia tidak pernah bergerak secara acak. Ia berjalan mengikuti pola kekuasaan, peradaban, dan kemampuan suatu bangsa mengelola visi jangka panjang. Dalam lintasan waktu modern, dunia menyaksikan kebangkitan dan kejatuhan imperium: Inggris, Amerika Serikat, hingga China hari ini.
 
Namun di balik kisah imperium global itu, terdapat satu wilayah yang sering dilupakan perannya sendiri: Nusantara.

Tulisan ini tidak bermaksud membangkitkan nostalgia masa lalu, melainkan membuka kesadaran sejarah sebagai fondasi berpikir strategis bangsa Indonesia di era global saat ini.

Imperium Inggris: Arsitek Dunia Modern

Inggris adalah contoh klasik bangsa yang tidak besar secara geografis, tetapi luar biasa secara strategi. Melalui kekuatan maritim, perdagangan, hukum, dan pendidikan, Inggris membangun imperium global yang membentang dari Amerika, Australia, India, Afrika, hingga Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Australia lahir langsung dari rahim Imperium Inggris. Sistem hukum, demokrasi parlementer, bahasa, bahkan etos administrasi negara mereka adalah warisan Inggris. Israel pun, dalam konteks modern, tidak bisa dilepaskan dari peran Inggris melalui Deklarasi Balfour dan Mandat Palestina.

Kehebatan Inggris bukan semata pada penjajahan wilayah, melainkan pada kemampuan menanamkan sistem yang bertahan bahkan setelah mereka mundur secara fisik. Inilah ciri imperium sejati: meninggalkan pengaruh jangka panjang.

Amerika Serikat: Imperium Baru Tanpa Mahkota

Amerika Serikat adalah penerus dominasi global Inggris dalam bentuk baru. Tidak lagi mengibarkan bendera kolonial, tetapi menguasai dunia melalui ekonomi, teknologi, militer, dan budaya populer.

Amerika mengendalikan dunia dengan dolar, korporasi multinasional, aliansi militer, dan narasi demokrasi. Ia menjadi pusat gravitasi global selama hampir satu abad. Namun seperti semua imperium sebelumnya, Amerika kini menghadapi tantangan serius: fragmentasi internal, kompetisi geopolitik, dan krisis legitimasi global.

China: Kebangkitan Peradaban Lama

China berbeda. Ia bukan imperium baru, melainkan peradaban tua yang bangkit kembali. Jalur Sutra versi modern (Belt and Road Initiative) menunjukkan bahwa China berpikir dalam rentang ratusan tahun, bukan siklus lima tahunan.

China belajar dari Barat, tetapi tidak kehilangan jati diri. Ia menggabungkan disiplin peradaban lama dengan teknologi modern. Dunia kini memasuki fase multipolar, di mana tidak ada satu imperium tunggal yang absolut.

Nusantara: Peradaban yang Pernah Menjadi Poros

Sebelum Inggris, sebelum Amerika, sebelum China modern, Nusantara telah menjadi pusat peradaban maritim dunia.

Sriwijaya menguasai jalur perdagangan internasional selama berabad-abad.

 Majapahit membangun hegemoni politik dan budaya lintas wilayah Asia Tenggara.

Nusantara bukan kerajaan kecil, melainkan kekuatan geopolitik maritim yang disegani.

Namun kolonialisme tidak hanya menjajah tanah, tetapi memutus ingatan sejarah.

 Nusantara dipersempit menjadi wilayah administratif, bukan peradaban. Bangsa ini diajari untuk merasa kecil di atas tanah yang sesungguhnya besar.
Pembukaan UUD 1945: Manifesto Peradaban

Para pendiri bangsa memahami hal ini. Karena itu, Pembukaan UUD 1945 bukan sekadar pembukaan konstitusi, melainkan manifesto peradaban.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa…”

Kalimat ini adalah pernyataan moral universal, bukan lokal. Indonesia sejak awal tidak dirancang hanya untuk mengurus diri sendiri, tetapi untuk berkontribusi pada tatanan dunia yang adil dan beradab.

Alinea keempat menegaskan tujuan bernegara: melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Ini adalah visi strategis, bukan administratif.

Masalah Kita Hari Ini: Kehilangan Kesadaran Sejarah

Indonesia hari ini tidak miskin sumber daya. 
Tidak miskin manusia. 

Yang sering hilang adalah kesadaran sejarah sebagai panduan bertindak.

Tanpa kesadaran sejarah, pembangunan menjadi tambal sulam. 

Kebijakan jangka pendek mengalahkan visi jangka panjang. Elite sibuk mengelola kekuasaan, bukan arah peradaban.

Padahal bangsa yang besar bukan bangsa yang paling kaya, tetapi bangsa yang paling jelas arah jalannya.

Manfaat Membuka Sejarah Nusantara di Era Sekarang

Membuka kembali sejarah Nusantara bukan untuk romantisme, melainkan untuk:

Memulihkan kepercayaan diri nasional

Menanamkan visi jangka panjang dalam kepemimpinan

Menempatkan Indonesia sebagai subjek global, bukan objek

Membumikan Pancasila sebagai nilai hidup, bukan slogan

Sejarah adalah kompas. Tanpa kompas, kapal sebesar apa pun akan tersesat.

Pesan Sejarah untuk Elite dan Generasi Penerus

Sejarah tidak menuntut generasi hari ini untuk mengulang kejayaan Sriwijaya atau Majapahit. Sejarah hanya menuntut satu hal: kesadaran bahwa bangsa ini pernah besar, dan karena itu bertanggung jawab untuk tidak berpikir kecil.

Bagi elite nasional, jabatan bukan puncak pengabdian, melainkan titik rawan godaan. 

Ukuran keberhasilan bukan lamanya berkuasa, tetapi sejauh mana kebijakan hari ini masih relevan dan bermanfaat lima puluh tahun ke depan.

Bagi generasi penerus, Indonesia bukan sekadar tempat lahir, melainkan amanah peradaban. Di tangan merekalah akan ditentukan apakah Indonesia hanya menjadi pasar dan objek pengaruh global, atau kembali menjadi poros yang diperhitungkan dunia.

Penegasan Akhir
Bangsa besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya,
tetapi karena kehilangan arah sejarah.

Indonesia tidak kekurangan potensi.

Indonesia membutuhkan kesadaran sejarah yang diterjemahkan menjadi kepemimpinan dan kebijakan.
JEJAK SEJARAH NUSANTARA

Jakarta, Januari 2026

 

Artikel Lainnya