Opini

KEBEBASAN YANG DIIZINKAN

Oleh : luska - Jum'at, 13/02/2026 10:06 WIB


Mengapa Kejahatan, Perbudakan, dan Perang Pernah (dan Masih) Ada, Padahal Manusia Berasal dari Unsur yang Sama?

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Jika manusia berasal dari unsur yang sama, mengapa sepanjang sejarah kita justru saling memperbudak, membunuh, dan berperang? Sejarah manusia adalah catatan panjang tentang paradoks: kita berbicara tentang kemanusiaan, tetapi hidup dari penindasan; kita mengagungkan moral, tetapi membenarkan pembunuhan massal bernama perang.

Mungkin persoalannya bukan pada asal-usul manusia, melainkan pada kebebasan yang menyertainya. Bahwa kesamaan benih tidak menjamin kesamaan hasil. Bahwa manusia benar-benar diberi hak paling berbahaya sekaligus paling mulia: memilih menjadi apa ia akan tumbuh, dan dari pilihan itulah arah peradaban ditentukan.

Pertanyaan tentang kejahatan bukanlah pertanyaan baru. Ia telah diajukan jauh sebelum ada negara, kitab, atau hukum modern. Setiap zaman hanya mengganti istilahnya. Dulu disebut takdir atau kehendak langit, kini disebut sistem, geopolitik, atau kepentingan. Namun kegelisahannya tetap sama: mengapa ketidakadilan seolah memiliki ruang hidupnya sendiri?

Hampir semua tradisi besar—apa pun bahasa dan simbolnya—bertemu pada satu titik: manusia bukan sekadar tubuh. Ada kesadaran, nurani, atau jiwa yang menjadi inti kemanusiaan. Jika demikian, mengapa manusia justru menjadi ancaman terbesar bagi sesamanya?

Jawaban yang sering tidak kita sukai adalah ini: karena manusia tidak diciptakan sebagai makhluk otomatis. Kesadaran tidak diprogram seperti mesin. Ia bertumbuh—atau mandek—melalui pilihan.

Kebebasan adalah fondasi kemanusiaan. Tanpa kebebasan, kebaikan kehilangan makna. Sebab kebaikan hanya bernilai ketika keburukan mungkin dilakukan, tetapi tidak dipilih. Dalam pengertian ini, kejahatan bukan bukti ketiadaan kebaikan, melainkan bukti adanya kebebasan yang disalahgunakan.

Di sinilah banyak orang tersandung. Mereka berharap dunia adil sejak awal, padahal dunia justru menjadi arena tempat keadilan diperjuangkan. Jika kejahatan langsung dicegah dari luar, manusia tidak pernah belajar bertanggung jawab dari dalam. Sejarah akan berhenti, tetapi kesadaran tidak pernah tumbuh.

Perbudakan pernah sah bukan karena ia benar, tetapi karena kesadaran manusia saat itu belum melampauinya. Perang diagungkan bukan karena ia mulia, tetapi karena manusia belum menemukan cara lain menyelesaikan ketakutan dan keserakahan. Kekerasan dilegalkan bukan karena nurani mati, melainkan karena ia tertutup oleh kepentingan.

Menariknya, di setiap zaman yang gelap, selalu ada segelintir manusia yang berjalan melawan arus. Mereka menolak memperbudak ketika perbudakan dianggap wajar. Mereka menolak membunuh ketika perang dipuja. Mereka tidak banyak, tetapi kehadiran merekalah yang perlahan menggeser arah sejarah.
Ini memberi pelajaran penting: perubahan peradaban tidak pernah dimulai dari mayoritas. Ia selalu lahir dari minoritas sadar yang berani membayar harga sosial.

Mengapa manusia seperti ini jarang? Karena menjadi manusia utuh menuntut runtuhnya ego. Dan ego adalah benteng paling kokoh yang dimiliki manusia. Ia bisa bersembunyi di balik agama, ideologi, bahkan moralitas. Pengetahuan dapat memperbesar ego, tetapi kesadaran justru meluruhkannya.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah romantisasi kesatuan. Bahwa karena manusia berasal dari sumber yang sama, maka semua akan otomatis saling mengasihi. Ini ilusi yang berbahaya. 
Kesatuan bukan jaminan perilaku, melainkan panggilan tanggung jawab. Dari sumber yang sama, manusia justru diuji: apakah ia akan merawat, atau merusak?

Maka pertanyaan lintas zaman itu layak dibalik: bukan lagi “mengapa kejahatan diizinkan?”, melainkan “apa yang terjadi pada manusia yang memilihnya?”

Jawabannya konsisten di berbagai tradisi dan pengalaman manusia: mereka mungkin menang secara lahiriah, tetapi kehilangan sesuatu yang lebih mendasar. Manusia yang memilih kejahatan hidup dalam ketegangan batin. Ia membutuhkan pembenaran terus-menerus, karena di dalamnya tidak ada kedamaian. Ia boleh berkuasa, tetapi tidak pernah benar-benar bebas.

Hukuman paling berat bukanlah yang datang dari luar, melainkan keterasingan dari dirinya sendiri. Hidupnya menjadi reaksi, bukan keutuhan. Ia dikuasai oleh ketakutan kehilangan apa yang direbutnya.

Sebaliknya, apa yang terjadi pada manusia yang memilih kebaikan? Jawabannya tidak selalu manis. Mereka tidak selalu berhasil. Bahkan sering kalah secara duniawi. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa dirampas: keutuhan batin.

Manusia seperti ini tidak perlu membenci untuk merasa benar. Tidak perlu merendahkan untuk merasa tinggi. Dalam keterbatasan, mereka tetap utuh. Dalam kesunyian, mereka tetap bernilai. Mereka mungkin tidak menguasai sejarah, tetapi memberi arah padanya.

Di sinilah kebebasan menemukan maknanya. Bukan sebagai izin untuk berbuat apa saja, melainkan sebagai ruang untuk bertanggung jawab atas apa yang dipilih. Dunia tidak dijanjikan adil. Tetapi manusia diberi kemampuan untuk menjadi adil—meski harus melawan arus.

Hari ini, bentuk kejahatan mungkin berubah. Perbudakan berganti rupa menjadi eksploitasi. Perang disamarkan sebagai stabilitas. Kekerasan berpindah dari senjata ke narasi. Namun akar persoalannya sama: kesadaran yang belum tumbuh seiring kekuasaan.

Tulisan ini tidak mengajak manusia menjadi suci. Ia hanya mengingatkan bahwa kebebasan bukan tanpa konsekuensi. Setiap manusia, sadar atau tidak, sedang menjawab pertanyaan yang sama melalui hidupnya sendiri.

Aku memilih menjadi apa, ketika aku bebas memilih?

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari kebebasan yang diizinkan: bukan untuk membenarkan kejahatan, melainkan untuk menguji kemanusiaan.

Jakarta ,   Febuari 2026

Artikel Lainnya