Nasional

Dr. Jusuf Kristianto: Virus Nipah Ancaman Serius, Waspada Tanpa Panik

Oleh : rio apricianditho - Jum'at, 20/02/2026 10:48 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Virus Nipah kembali menjadi perhatian global setelah dimasukkan dalam daftar penyakit prioritas oleh World Health Organization (WHO). Ahli kesehatan masyarakat, Dr. Jusuf Kristianto, MPH, PhD, menegaskan bahwa kewaspadaan dini menjadi kunci utama menghadapi ancaman virus dengan tingkat kematian tinggi tersebut.

Menurut Dr. Jusuf, Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik atau infeksi yang menular dari hewan ke manusia. Pembawa utamanya adalah kelelawar buah (Pteropus spp.), namun penularan juga dapat terjadi melalui babi yang terinfeksi atau konsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi.

“Fatalitas Virus Nipah dilaporkan mencapai 40 hingga 75 persen. Ini angka yang sangat tinggi sehingga dunia kesehatan menaruh perhatian serius,” ujarnya.

Virus yang pertama kali terdeteksi pada 1998 di Malaysia ini telah menimbulkan kasus di sejumlah negara Asia seperti Bangladesh dan India. Hingga kini memang belum ada laporan kasus pada manusia di Indonesia, namun penelitian menunjukkan virus serupa ditemukan pada populasi kelelawar buah di beberapa wilayah.

Dr. Jusuf menjelaskan, gejala awal sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun dalam beberapa hari, kondisi bisa berkembang menjadi gangguan neurologis serius seperti radang otak (ensefalitis), kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kejang.

“Jika seseorang mengalami gejala berat setelah kontak dengan hewan berisiko atau berada di wilayah terdampak, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk Virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif, yakni mengendalikan gejala dan menjaga fungsi vital pasien. Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif.

Dr. Jusuf mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan makanan dengan mencuci buah sebelum dikonsumsi, menghindari nira mentah, tidak melakukan kontak langsung dengan hewan liar atau ternak sakit, serta menerapkan protokol kebersihan diri.

“Pesan kami jelas: waspada, bukan panik. Perilaku hidup bersih dan kesadaran bersama adalah benteng utama agar virus ini tidak berkembang menjadi ancaman nyata di Indonesia,” pungkasnya.

Artikel Lainnya