Nasional

PNM Dorong Ibu Rumah Tangga Kuningan Ubah Sampah Jadi Cuan Lewat Budidaya Maggot

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 24/02/2026 12:31 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID -  Sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tak bernilai kini berubah menjadi peluang usaha bagi puluhan ibu rumah tangga di Kabupaten Kuningan. Melalui Program Klasterisasi Budidaya Maggot, sebanyak 30 nasabah PNM Mekaar Unit Jalaksana belajar mengolah limbah organik menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Program yang berjalan di wilayah Region Cirebon-2 ini dirancang khusus menyasar perempuan prasejahtera. Tak sekadar pelatihan teknis, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar kolektif agar peserta mampu membangun usaha berbasis pasar sekaligus berkontribusi mengurangi timbulan sampah rumah tangga.

Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, menjelaskan bahwa budidaya maggot jenis Black Soldier Fly (BSF) dipilih karena memiliki prospek ekonomi yang jelas serta mudah diterapkan di skala rumah tangga.

“Dari limbah organik rumah tangga, peserta bisa menghasilkan maggot sebagai pakan ternak berprotein tinggi dan kasgot yang bernilai sebagai pupuk organik. Jadi ada manfaat ekonomi sekaligus lingkungan,” ujarnya kepada RRI, Senin (23/2/2026).

Selama tiga bulan, para peserta mendapat pendampingan intensif dari Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), mulai dari teknik budidaya, pengelolaan usaha sederhana, hingga strategi pemasaran produk. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan usaha agar tidak berhenti di tengah jalan.

Perubahan pola pikir pun mulai terlihat. Jika sebelumnya limbah organik langsung dibuang, kini para peserta justru mengumpulkan dan mengolahnya karena memiliki nilai jual. Maggot hasil budidaya dapat dipasarkan sebagai pakan ikan dan unggas, sementara kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian.

Bagi PT Permodalan Nasional Madani (PNM), program klaster maggot ini merupakan bagian dari strategi penguatan ekonomi perempuan. Erwin menegaskan, pemberdayaan perempuan menjadi kunci dalam membangun ketahanan keluarga.

“Kami ingin usaha yang tumbuh dari klaster ini bukan hanya produktif, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Ia berharap sinergi antara lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan masyarakat mampu membentuk ekosistem ekonomi sirkular di Kabupaten Kuningan—sebuah sistem ekonomi yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan.

Di tengah fakta bahwa timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai sekitar 24,94 juta ton per tahun, dengan dominasi sampah organik, inisiatif seperti ini dinilai semakin relevan. Limbah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan justru dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga prasejahtera.

“Melalui budidaya maggot, sampah rumah tangga yang selama ini menjadi beban bisa berubah menjadi peluang. Semoga ini memberi manfaat lebih luas,” tutup Erwin.*

Artikel Lainnya