Jakarta, INDONEWS.ID - Kelompok Hizbullah di Lebanon menyatakan siap menghadapi perang terbuka dengan Israel menyusul eskalasi serangan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran yang berdampak langsung ke kawasan tersebut.
Pejabat senior Hizbullah, Mahmoud Qmati, menegaskan bahwa serangan Israel terbaru membuat kelompok itu tidak memiliki pilihan selain kembali melakukan perlawanan.
“Kalau Israel mau perang terbuka, biarlah ini menjadi perang terbuka. Era kesabaran telah berakhir,” kata Qmati seperti dilaporkan Al Jazeera.
Hizbullah kembali menembakkan roket sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Teheran.
Aksi tersebut dibalas dengan agresi udara Israel ke wilayah Lebanon yang dilaporkan menewaskan lebih dari 50 orang.
Dalam pernyataannya, Hizbullah menegaskan bahwa agresi Israel selama 15 bulan terakhir tidak dapat dibiarkan tanpa tanggapan. Kelompok itu menyebut konfrontasi sebagai hak yang sah dan defensif dalam menghadapi pelanggaran yang terus berlangsung.
Mereka juga menuding Israel terus melakukan “pembunuhan, penghancuran, buldoser, dan segala bentuk kriminalitas” meskipun telah ada upaya diplomatik untuk menegakkan gencatan senjata yang disepakati pada November 2024.
Pemerintah Lebanon Larang Aktivitas Militer Hizbullah
Di tengah eskalasi, Presiden Lebanon Michel Aoun menyatakan keputusan pemerintah untuk melarang seluruh aktivitas militer dan intelijen Hizbullah bersifat final.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Aoun menegaskan bahwa hanya negara yang berhak memegang keputusan perang dan damai.
Keputusan kabinet tersebut juga mewajibkan Hizbullah menyerahkan senjatanya kepada negara. Pemerintah menyebut langkah itu sebagai upaya memulihkan kedaulatan nasional, bukan karena tekanan dari Washington atau Tel Aviv.
Namun, Hizbullah mengisyaratkan peringatan bahwa keputusan tersebut berpotensi memicu persoalan internal. Kelompok itu sebelumnya menolak upaya pelucutan senjata di wilayah utara Sungai Litani sebagaimana diatur dalam kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan telah menginstruksikan militer untuk memperluas penguasaan wilayah di Lebanon selatan.
“Netanyahu dan saya telah menyetujui militer untuk maju dan merebut wilayah kendali tambahan di Lebanon untuk mencegah penembakan di permukiman perbatasan Israel,” ujarnya melalui X.
Militer Israel mengonfirmasi peluncuran operasi darat guna membangun “zona keamanan”. Di sisi lain, sumber militer Lebanon menyebut tentara negara itu telah menarik pasukan dari sejumlah posisi garis depan demi keselamatan personel di tengah intensitas serangan Israel yang meningkat.
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan evakuasi sejumlah posisi terdepan di sepanjang perbatasan. Laporan Reuters menyebut setidaknya tujuh posisi operasi depan telah ditinggalkan.
Langkah pemerintah Lebanon melarang aktivitas militer Hizbullah dinilai sebagai keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun muncul kekhawatiran, apabila tentara Lebanon menggunakan kekuatan untuk menegakkan keputusan tersebut, potensi konflik internal tidak dapat dihindari.
Sebagian kalangan menilai risiko tersebut mungkin harus diambil demi menghentikan serangan Israel dan memperkuat otoritas negara atas seluruh wilayahnya.
Hingga kini, belum ada negara yang secara terbuka menawarkan diri untuk menengahi atau meredakan konfrontasi yang terus meningkat di kawasan tersebut, sementara situasi di perbatasan Lebanon–Israel semakin mendekati konflik berskala lebih luas.