Jakarta, INDONEWS.ID - Manajemen PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) mengklarifikasi dan menyatakan menyesalkan beredarnya informasi yang tidak dikonfirmasi secara menyeluruh dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat, mitra usaha, maupun para pemangku kepentingan.
“Sehubungan dengan pemberitaan di beberapa media nasional yang menyebutkan bahwa PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) mengalami kolaps dengan narasi ‘shutdown 5 line dari 20 line’, bersama ini kami menyampaikan klarifikasi bahwa informasi tersebut tidak benar dan merupakan misinformasi,” ujar Komisaris PT GNI, Jiang Haiting, didampingi Ismeth Wibowo selaku Advisor di kantor PT GNI Jakarta, melalui pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (4/3/2026).

(Komisaris PT GNI, Jiang Haiting (kiri), didampingi Ismeth Wibowo selaku Advisor di kantor PT GNI Jakarta. Foto: Ist)
Dia mengatakan, bahwa majemen PT GNI hingga saat ini masih menjalankan kegiatan operasional secara normal. Seluruh aktivitas produksi dan operasional perusahaan berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan perencanaan serta standar operasional yang berlaku.
Manajemen menyampaikan bahwa pengelolaan lini produksi dalam industri merupakan hal yang dinamis dan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan operasional, pemeliharaan, serta efisiensi proses.
“Namun demikian, hal tersebut tidak dapat dimaknai sebagai penghentian operasional perusahaan secara keseluruhan, apalagi disebut sebagai kolaps,” ujarnya.
PT GNI berkomitmen untuk terus menjalankan operasional perusahaan secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan kerja serta menjaga stabilitas produksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perusahaan juga terus melakukan evaluasi dan penguatan kinerja operasional guna mendukung keberlangsungan usaha dalam jangka panjang, dengan dukungan dari investor baru BUMN asal Tiongkok.
“Kami mengimbau kepada seluruh pihak, khususnya media massa, agar dapat mengedepankan prinsip keberimbangan dan konfirmasi dalam menyajikan informasi kepada publik. PT GNI senantiasa terbuka untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan yang dibutuhkan demi informasi yang akurat dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Saat ini PT GNI telah mendapat calon investor baru yaitu sebuah perusahaan terkemuka milik pemerintahan China.
Sementara itu, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) juga memberikan klarifikasi atas pemberitaan terkait revisi RKAB nikel 2026 dan kabar tiga smelter yang disebut kolaps akibat penekanan kuota produksi.
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, menegaskan bahwa pernyataan yang dikutip media bukan berasal dari wawancara langsung, melainkan dari paparan dalam forum diskusi yang digelar Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) pada 2 Maret 2026 lalu.
APNI membenarkan bahwa pemerintah telah menetapkan kuota RKAB nikel 2026 sekitar 250–260 juta ton melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM.

(Smelter PT GNI. Foto: ist)
Terkait isu tiga smelter, APNI membantah bahwa penghentian operasional disebabkan pemangkasan RKAB. Juga dijelaskan bahwa PT GNI tengah melakukan maintenance pada lima lini produksi pada 2026.
Sementara itu, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia menghentikan produksi sejak akhir 2025, serta PT Wanxiang Nickel Indonesia menghentikan beberapa lini produksi sejak akhir 2025. Namun hal ini sama sekali tidak memiliki kaitan sebagai dampak langsung kebijakan RKAB tersebut.
Sebelumnya diberitakan bahwa keputusan pemerintah untuk melakukan pemangkasan produksi melalui pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel tahun ini di angka 260-270 juta ton, berdampak pada menurunnya kinerja sejumlah smelter atau pabrik pemurnian nikel di dalam negeri.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) membeberkan terdapat tiga smelter yang mengalami penurunan produksi akibat pemangkasan ini adalah PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan; PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi tengah; dan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali.
“3 smelter sudah kami konfirmasi (kolaps). Huadi shutdown total, Wanxiang tinggal 2 line, Gunbuster shutdown 5 line dari 20 line,” kata Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey saat ditemui di sela diskusi RKAB yang dilaksanakan oleh APINDO di Jakarta, Senin (2/3/2026) seperti dikutip Kontan.co.id. *