Nasional

Lebaran 2026 Berpotensi Beda! Ini Prediksi Tanggal Idul Fitri Versi BRIN, BMKG, dan Muhammadiyah

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 15/03/2026 12:10 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia berpotensi tidak berlangsung serentak. Perbedaan penentuan awal Syawal diperkirakan terjadi antara pemerintah dan organisasi masyarakat Islam Muhammadiyah pada Lebaran tahun 2026.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan, secara astronomi posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026 saat waktu Maghrib di kawasan Asia Tenggara diperkirakan belum memenuhi kriteria yang digunakan negara anggota MABIMS, yakni Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kriteria tersebut menetapkan bahwa tinggi hilal minimal harus mencapai 3 derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat agar dapat dinyatakan terlihat.

"Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026," kata Thomas dalam tulisan di blognya pada Juni 2025.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat kemungkinan besar Idul Fitri versi pemerintah akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun hasilnya bisa berbeda jika menggunakan kriteria lain yang berlaku di negara tertentu.

"Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026," tambahnya.

Sementara itu, data pengamatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan posisi hilal pada 19 Maret 2026 belum sepenuhnya memenuhi standar MABIMS.

BMKG mencatat ketinggian hilal saat Matahari terbenam berada pada kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Sedangkan elongasi geosentris diperkirakan berada di rentang 4,54 derajat di Waris, Papua hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan bahwa proses rukyat atau pengamatan hilal bisa terganggu oleh objek astronomi lain seperti planet atau bintang terang yang posisinya berdekatan dengan Bulan sehingga berpotensi disalahartikan sebagai hilal.

Jika hilal memang tidak terlihat pada 19 Maret 2026, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

Di sisi lain, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026. Penentuan tersebut menggunakan metode hisab yang mengacu pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Adapun pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia biasanya baru menentukan tanggal resmi Idul Fitri melalui sidang isbat yang digelar pada 29 Ramadan.

Thomas menilai potensi perbedaan penetapan awal Ramadan, Syawal, maupun Idul Adha di Indonesia cukup besar dan kemungkinan akan terus terjadi di masa depan.

Ia menilai perbedaan tersebut bukan hanya disebabkan metode hisab dan rukyat, tetapi juga karena perbedaan kriteria yang digunakan.

"Penggunaan KHGT yang secara resmi akan dimulai pada 1447/2025 berpotensi makin sering terjadi perbedaan awal Ramadan, Syawal, atau Idul Fitri," jelas Thomas.

Analisis lain menggunakan aplikasi Hisab Astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam (Persis) juga memperkirakan potensi perbedaan Idul Fitri masih bisa terjadi hingga tahun 2029 atau 1450 Hijriah.

Meski demikian, pada periode tersebut awal Ramadan diprediksi tetap berlangsung bersamaan. Perbedaan Idul Fitri diperkirakan akan terus terjadi selama pemerintah dan Muhammadiyah menggunakan kriteria penentuan yang berbeda.

Artikel Lainnya