Jakarta, INDONEWS.COM - Tinggal tiga bulan lagi Piala Dunia 2026 akan digelar. Laga pembukaan akan berlangsung di Meksiko pada 11 Juni.
Kemudian iven internasional akan berlangsung di AS dan Kanada pada hari berikutnya, di negara bagian dan kota yang menjadi tuan rumah.
Seiring meningkatnya perang Iran kontra Israel yang bersekutu dengan Amerika Serikat (AS), kabar kurang menyenangkan terungkap jelang gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut.
Menurut laporan intelijen, potensi adanya aksi kaum ekstemis dan penjahat yang menargetkan iven Piala Dunia sangat tinggi.
Potensi ini semakin terbuka ketika persiapan pengamanan Piala Dunia belum optimal.
Penyebabnya disinyalir karena terhambatnya pencarian dana hibah keamanan federal sebesar $625 juta atau setara Rp9,7 triliun.
Reuters memaparkan ratusan juta dolar dana keamanan yang telah disetujui mengalami penundaan, sehingga persiapan Amerika Serikat belum maksimal.
Sebelumnya pejabat federal dan negara bagian AS serta FIFA, federasi internasional yang mengawasi Piala Dunia, menguraikan risiko serangan ekstremis antara lain infrastruktur transportasi dan kerusuhan sipil.
Ini ada kaitannya dengan tindakan keras Presiden Donald Trump terhadap imigrasi.
Beberapa pekan terakhir para pejabat yang bekerja mempersiapkan Piala Dunia di Amerika Serikat semakin menyuarakan kekhawatiran mereka.
Terutama terkait dana hibah keamanan federal sebesar $625 juta atau setara Rp9,7 triliun yang terhambat.
Padahal, dana itu merupakan bagian dari rancangan undang-undang pengeluaran yang didukung Partai Republik yang telah disahkan pada Juli 2025.
Badan Manajemen Keadaan Darurat Federal (FEMA), yang bertugas mendistribusikan uang tersebut, mengatakan pada bulan November bahwa pihaknya memperkirakan akan mengalokasikan dana tersebut paling lambat tanggal 30 Januari.
Proses pendistribusian dana hibah biasanya memakan waktu berbulan-bulan, dan upaya untuk membeli teknologi dan peralatan bahkan bisa memakan waktu lebih lama lagi.
Hal itu disampaikan Mike Sena, presiden National Fusion Center Association, yang mewakili jaringan 80 pusat informasi di seluruh AS yang memfasilitasi berbagi intelijen federal, negara bagian, dan lokal.
Menurutnya, pengamanan akan dilakukan semaksimal mungkin untuk meminimalisir risiko serangan. "Akan sangat ketat," katanya, dilansir Minggu (22/3/2026).
Sebuah laporan intelijen Desember 2025 dari New Jersey yang meneliti potensi ancaman terhadap pertandingan di negara bagian tersebut menyoroti serangan domestik baru-baru ini.
Rencana teror itu digagalkan, dan proliferasi propaganda ekstremis. Laporan itu juga mencatat kemungkinan pertemuan spontan yang terkait dengan ketegangan antar negara.
Sementara di internal pemerintah AS, Partai Demokrat menyalahkan Menteri Keamanan Dalam Negeri yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Kristi Noem, karena menunda pencairan dana tersebut
Di bawah kepemimpinan Noem, DHS juga menahan ratusan juta dolar dana keamanan dalam negeri tahun lalu dari selusin negara bagian yang dipimpin Partai Demokrat dan Washington, DC, sambil mendesak mereka untuk meningkatkan penegakan hukum imigrasi.
Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle menyalahkan Partai Demokrat atas keterlambatan pendanaan tersebut, dengan alasan adanya perbedaan pendapat mengenai taktik penegakan hukum imigrasi.
"Presiden fokus untuk menjadikan ini Piala Dunia terbaik sepanjang masa sekaligus memastikan bahwa ini adalah Piala Dunia teraman dan paling terjamin dalam sejarah," kata Ingle dalam sebuah pernyataan.