Nasional

AS-Israel Diduga Rancang Gulingkan Iran, Rencana Mossad Gagal Picu Pemberontakan

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 24/03/2026 10:47 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Laporan investigasi The New York Times mengungkap adanya rencana terstruktur antara Amerika Serikat dan Israel untuk melemahkan hingga menggulingkan pemerintahan Iran dalam konflik yang dimulai akhir Februari 2026.

Rencana tersebut disebut telah dipersiapkan matang oleh badan intelijen luar negeri Israel, Mossad. Kepala Mossad, David Barnea, dilaporkan mengusulkan strategi kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memicu kerusuhan internal di Iran melalui dukungan terhadap oposisi.

Proposal itu kemudian turut disampaikan kepada pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump dalam kunjungan ke Washington pada Januari 2026. Meski sempat menuai keraguan dari sebagian pejabat intelijen, Netanyahu dan Trump disebut tetap optimistis.

Strategi awal mencakup pembunuhan tokoh-tokoh penting Iran di fase awal konflik, disertai operasi intelijen untuk mendorong perubahan rezim. Trump bahkan secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan mereka” setelah serangan militer.

Namun, tiga pekan setelah perang dimulai, pemberontakan yang diharapkan tak kunjung terjadi. Penilaian intelijen AS dan Israel menyebut pemerintah Iran memang mengalami tekanan, tetapi tetap utuh dan mampu mempertahankan kendali.

Alih-alih melemah, Iran justru meningkatkan serangan balasan ke berbagai target, termasuk pangkalan militer, kota, serta instalasi energi di kawasan Teluk Persia. Ketakutan masyarakat terhadap aparat keamanan juga disebut menjadi faktor utama gagalnya mobilisasi pemberontakan.

Sejumlah pejabat militer AS bahkan memperingatkan bahwa warga Iran tidak akan turun ke jalan selama serangan udara masih berlangsung. Mereka menilai peluang pemberontakan massal sangat kecil dan berisiko memicu konflik yang lebih luas.

Dalam perkembangan lain, rencana Mossad juga mencakup kemungkinan melibatkan kelompok milisi Kurdi sebagai kekuatan proksi. Namun gagasan ini mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah AS sendiri.

Trump dilaporkan secara langsung melarang keterlibatan milisi Kurdi, sementara sekutu NATO, Turki, turut memperingatkan agar langkah tersebut tidak dilakukan karena berpotensi memicu instabilitas kawasan.

Analis menilai asumsi bahwa tekanan militer dapat memicu pemberontakan internal di Iran merupakan kesalahan mendasar dalam strategi perang. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Nate Swanson, menyebut ketakutan masyarakat serta keinginan hidup stabil menjadi faktor utama minimnya perlawanan terbuka.

Di sisi lain, Netanyahu mengakui bahwa keberhasilan operasi tidak bisa hanya bergantung pada serangan udara. Ia menekankan perlunya “komponen darat”, meski mengakui bahwa peran tersebut pada akhirnya bergantung pada rakyat Iran sendiri.

Meski hingga kini pemberontakan belum terjadi, pejabat Israel menyatakan belum menyerah. Mereka masih meyakini bahwa dinamika internal Iran dapat berubah seiring berlanjutnya konflik.

Laporan The New York Times tersebut didasarkan pada wawancara dengan lebih dari sepuluh pejabat dari AS, Israel, dan negara lain, baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun, sebagian besar secara anonim.*

Artikel Lainnya