Bisnis

Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Guncangan Ekonomi Global

Oleh : very - Selasa, 07/04/2026 11:16 WIB


Perang Israel versus Iran. (Foto: CNN)

Jakarta, INDONEWS.ID – Forum Guru Besar dan Doktor INSAN CITA menggelar diskusi bertajuk "Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global" di Jakarta, Senin, 6 April 2026. Diskusi menghadirkan peneliti Indef, Dr. Ariyo DP Irhamna, dan Dr. Halim Alamsyah.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ariyo DP mengatakan ada 4 guncangan ekonomi dunia yang berpengaruh saat ini.

Pertama, eskalasi perang di Timur Tengah. ”Diperkirakan kenaikan 10 USD per barel telah menekan Current Account Devisit (CAD) Indonesia senilai 3-4 miliar USD yang langsung teraca di neraca pembayaran,” ujarnya.

Kedua, terdapat juga fragmentasi US tariff dari 32% turun ke 19%. Ada section 122 dengan tarif menjadi 10%, dan sedang menunggu investigasi. ”Hal ini selain besaran dan agreement-nya yang merusak, tapi juga ketidakpastiannya yang tidak kalah merusak,” katanya.

Ketiga, katanya, China saat ini tengah menekan baja, elektronik dan tekstil yang membanjiri pasar domestik Indonesia dan berbagai policy non tarif yang ternyata tidak efektif untuk menahan arus itu.

Keempat, ada decoupling technology antara China dan USA. ”Dan kita terjepit, karena 34 % impor mesin Indonesia dari China, juga 25% total impor kita dari china tapi sekira 12-13 miliar dolar US ekspor kita ke USA,” ujarnya.

Aryo mengatakan, fakta yang tidak bisa dibantah yaitu ada gap produksi dan konsumsi minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Sementara, produksi kita hanya mampu 600 ribu barel/hari sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel/hari.

Sementara itu, sumber daya minyak kita banyak disebut telah masuk tahap mature bahkan declining. Karena itu, wajar jika mayoritas penduduk banyak yang menyimpulkan bahwa Indonesia pasti merugi akibat guncangan harga dari eskalasi perang di Timteng tersebut.

Yang perlu menjadi pertimbangan, katanya, saat ini Indonesia mengalami net eksportir Batubara, net eksportir LNG, dan net eksportir CPO. ”Karena itu, ada hal strategis yang harus dilihat, tidak hanya minyak bumi, tetapi energi at all. Lagipula kita punya agenda transisi energi,” imbuhnya.

”Pertanyaan sebenarnya bukan berapa kenaikan biaya impor BBM, tapi bagaimana net term of trade (ToT) bergeser ketika semua harga energi naik bersamaan,” tambahnya.  

Dia mengatakan, mayoritas minyak mentah dan BBM olahan Indonesia berasal dari Saudi Arabia untuk crude oil. “Tapi kita perhatikan, Angola melonjak 66 kali lipat sejak 2010. Sedang BBM olahan kita mayoritas impor dari Singapore. Hal ini penting diketahui, karena lebih dari 80% crude BBM kita transit via Selat Hormuz Iran. Jadi kira-kira 28 miliar dolar US impor BBM kita terancam. Hal hal ini baru dari sisi pengeluaran,” katanya.

Dari sisi pendapatan, eskpor energi Indonesia secara keseluruhan seperti Batubara, LNG dan CPO senilai total 54,5 miliar dolar USD pada 2025. Sementara impor BBM 28.5 miliar dolar US. ”Sehingga ada surplus net balance kita 26 miliar dolar US untuk energi, bukan hanya minyak. Betul bahwa kita net impor minyak, tapi kita juga net eskportir energi,” ujarnya.

 

Empat Jalur yang Memengaruhi Sistem Ekonomi Domestik

Sementara itu, Halim Alamsyah mengatakan, dari perkembangan situasi di Timur Tengah (Timteng) yang tengah mempengaruhi ekonomi dalam negeri, tercatat ada 4 jalur yang akan menyebabkan stabilitas sistem keuangan ataupun sistem ekonomi domestik.

Dia mengatakan, dari jalur perdagangan, Timteng sebenarnya tidak terlalu berdampak besar pada ekspor impor Indonesia.

Data BPS dari data mitra dagang RI di Saudi Arabia setiap tahun nilai ekspor RI sekitar 3- 5 miliar dolar US. Dari negara UEA dan sekitarnya juga tidak terlalu besar. Halim mengatakan, dampaknya memang ada, tapi tidak besar.

Sementara dari jalur keuangan, masyarakat dunia terutama para orang kaya, lebih melihat resiko yang berubah. Berbagai resiko geopolitik menyebabkan orang cenderung melepas USD dan membeli emas. Sehingga harga emas pernah menyentuh harga 5.000 USD/ons. Terakhir turun menjadi 4600 USD/ons. Itu lebih karena adanya ekspektasi bahwa emas tidak menghasilkan apa-apa kecuali nilainya saja.

”Sementara orang berduit sudah berekspektasi bahwa kalau inflasi dunia naik, maka ada kemungkinan bank sentral USA akan menaikkan suku bunga. Karena itu mereka siap siap menjual dulu emas dan membeli currency USD. Itu sebabnya harga emas turun lagi,” ujarnya.

Dia mengatakan, capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun. Sejak era Prabowo, perlahan mereka yang memiliki uang (domestic ataupun orang asing) melarikan dananya ke luar negeri dan belum kembali sampai saat ini.

“Jadi perang Iran vs USA-Israel sebenarnya menambah saja risiko keuangan kita yang telah ada,” ujarnya.

Halim mengatakan, untuk jalur APBN dan jalur ekspektasi perlu diamati. Dari jalur perdagangan, keuangan dan APBN sebenarnya memerlukan waktu karena ada proses di situ, jadi tidak serta merta.

”Tapi jalur ekspektasi bisa sekaligus cepat sekali bereaksi. Para pemilik modal jika berekspektasi misalnya besok akan terjadi sesuatu dengan inflasi/ ekonomi Indonesia, maka akan cepat sekali terjadi capital outflow,” ucapnya.

Dia mengatakan, ihwal pertumbuhan ekonomi yang stuck 5% selama 15 tahun terakhir sebetulnya menimbulkan pertanyaan. ”Karena jarang sekali suatu negara yang stagnan growth-nya bisa pukul rata di 5%/tahun. Hal itu menimbulkan keraguan kredibilitas dari angka growth seperti itu,” pungkasnya. *

Artikel Lainnya