Jakarta, INDONEWS.ID - Aktivis dan praktisi farmasi, Ferdinandus Wali Ate, S.Farm. resmi meluncurkan buku manifesto berjudul "Amor et Ratio". Buku yang menurutnya merupakan sebuah karya yang bertujuan membedah arah gerak organisasi di tengah tantangan zaman yang kian kompleks diluncurkan di sela-sela Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Buku ini bukan sekadar kumpulan visi-misi kandidat, melainkan sebuah refleksi mendalam atas kondisi intelektualitas mahasiswa saat ini. Ferdy Ate, demikian ia akrab disapa menyoroti adanya jurang pemisah antara semangat pergerakan dan ketajaman nalar dalam mengelola isu-isu publik.
"Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika di jalanan. PMKRI harus kembali menjadi laboratorium gagasan. Sebagai seorang yang berlatar belakang sains, saya menawarkan ketegasan dan ketajaman dalam berorganisasi, di mana nalar kritis (Ratio) dipandu oleh nilai kemanusiaan yang tulus (Amor)," ujar Ferdy dalam keterangannya, Minggu (19/4/26).
Ferdy menjelaskan bahwa esensi dari "Amor et Ratio" adalah penggabungan antara spiritualitas kasih dan kekuatan akal budi. Ia berpendapat bahwa aktivis seringkali terjebak pada semangat yang meluap-luap namun miskin substansi, atau sebaliknya, terlalu teknokratis namun kehilangan empati.
Menuju Manusia Merdeka
Dalam manifestonya, Ferdy Ate juga membedah fenomena apatisme di kalangan kader. Ia menekankan pentingnya menjadi "Manusia Merdeka" sebagai sebuah konsep yang ia pinjam dari semangat Soe Hok Gie untuk melawan arus pragmatisme yang seringkali menggerus idealisme mahasiswa.
"Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi melalui buku ini, saya mengajak seluruh kader untuk memilih jalan ketiga, yakni menjadi manusia merdeka yang mampu memberikan solusi konkret bagi bangsa lewat Panca Dharma Transformasi," tegasnya.
Buku ini juga menyentuh aspek digitalisasi dan peran teknologi AI dalam advokasi kebijakan publik. Ferdy Ate berargumen bahwa PMKRI harus mampu bertransformasi menjadi organisasi yang adaptif tanpa kehilangan akar moralnya sebagai intelektual profetik.
Manifesto "Amor et Ratio" ini direncanakan akan menjadi bahan dialektika utama bagi para utusan cabang di seluruh Indonesia. Bagi Ferdy, memenangkan gagasan adalah langkah pertama untuk memenangkan masa depan perhimpunan.
Untuk diketahui, Ferdinandus Wali Ate (akrab disapa Ferdy) adalah aktivis literasi digital, pemimpin muda, sekaligus entrepreneur yang berkomitmen mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi di Universitas Pakuan, Bogor, dan kini sedang melanjutkan pendidikan Profesi Apoteker di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta.
Perjalanan kepemimpinannya dimulai dari BEM FMIPA Universitas Pakuan (2018–2019) hingga menjabat Menteri Luar Kampus BEM-KBM Universitas Pakuan (2019–2020).
Kiprahnya di PMKRI dimulai sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Bogor (2021–2022) dan saat ini mengemban amanah sebagai Presidium Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat PMKRI (2024–2026).
Selain itu, Ferdy adalah Founder Komunitas Literasi Nusantara (KLN), sebuah gerakan yang berfokus pada penguatan budaya literasi di era digital.