Nasional

Ketika Dubes RI Buka Indonesia Updates dan Bertemu Pimpinan Tertinggi Provinsi Sichuan

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 19/04/2026 11:46 WIB


 

Jakarta, INDONEWS.ID – Duta Besar RI Beijing membuka program Indonesia Updates bertema Partnership for Resilience dan bertemu dengan Pimpinan Tertinggi (Party Secretary) Provinsi Sichuan, Y.M Wang Xiaohui, di Chengdu, Provinsi Sichuan, 17 April 2026.

Indonesia Updates dihadiri oleh seratusan undangan dari kalangan media, pengusaha, dan akademisi serta perwakilan pemerintah. Dubes Djauhari Oratmangun dalam sambutan pembuka selain menyampaikan perkembangan hubungan RI-RRT juga menegaskan komitmen Indonesia untuk membuka Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Chengdu.

“Pada bulan Maret 2026 lalu, Presiden RI telah menandatangani Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2026 yang menjadi dasar pembukaan KJRI Chengdu. Hal ini merefleksikan prioritas Indonesia untuk terus meningkatkan kerja sama strategis antara Indonesia dengan kawasan Tiongkok Barat Daya, dengan Chengdu di Provinsi Sichuan sebagai gateway-nya”, ungkap Dubes Djauhari Oratmangun.

“Tahun lalu, perdagangan Indonesia-Provinsi Sichuan mencapai lebih dari USD 2.1 miliar. Dengan pembukaan ini, Chengdu akan menjadi hub penting bagi penguatan kerja sama tidak hanya di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi, namun juga sektor lain seperti kesehatan, transformasi industri dan energi, pendidikan dan juga pariwisata”, imbuh Dubes Djauhari.

Selain Provinsi Sichuan, KJRI Chengdu nantinya akan menangani kerja sama dengan beberapa wilayah di Tiongkok, termasuk Chongqing, Provinsi Yunnan, Shaanxi, dan Gansu.

Sebagai informasi, Indonesia telah memiliki tiga (3) Konsulat Jenderal, di Guangzhou, Shanghai dan Hong Kong. Sementara beberapa negara ASEAN lain telah memiliki lebih dari dua konsulat. Thailand misalnya memiliki 8, Vietnam 5 dan Malaysia 9.

Pada program ini, KBRI Beijing juga menyampaikan updates perkembangan kerja sama Indonesia-Tiongkok dan potensi strategis kerja sama ke depan kepada mitra-mitra terkait di area Chengdu.

Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Beijing, Anindityo Adi Primasto, menekankan bahwa dengan komposisi penduduk usia muda yang besar, sumber daya alam melimpah, perekonomian yang stabil, dan fokus pemerintah dalam mendorong industri bernilai tambah menjadikan Indonesia tidak hanya mitra ekonomi menjanjikan,

namun juga saling melengkapi bagi Sichuan. Perdagangan bilateral Indonesia Tiongkok tahun 2025 mencapai lebih dari USD 167 miliar atau sekitar Rp. 2.862 triliun, sementara investasi mencapai USD 7,5 miliar atau sekitar Rp. 128,5 triliun.

Sektor pendidikan juga potensial untuk terus diperkuat, termasuk bidang vokasi. Lestari Puspitaningsih, Atase Pendidikan di KBRI Beijing menyampaikan bahwa kerja sama pendidikan kedua negara semakin intensif. Lestari Puspitaningsih juga harapkan semakin banyaknya mahasiswa Tiongkok yang berminat belajar di Indonesia, termasuk dengan memanfaatkan beasiswa Darmasiswa.

Sementara itu, Atase Imigrasi KBRI Beijing, Herawan Sukoaji menjelaskan bahwa kebijakan imigrasi Indonesia juga mendukung upaya penguatan kerja sama ekonomi dan people-to-people. Fasilitator golden visa memberikan kesempatan bagi investor, inovator dan diaspora Indonesia untuk tinggal di Indonesia selama 5-10 tahun untuk berinvestasi dan mendukung pembangunan di Indonesia.

Perwakilan Pemerintah Provinsi Sichuan, Ibu Liu Min, turut menghadiri acara ini sekaligus menyampaikan sambutan yang menekankan kesiapan Sichuan untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia.

KBRI Beijing juga mempromosikan durian beku Indonesia yang telah memasuki pasar Tiongkok sejak Januari 2026 dan aneka produk makanan dan minuman Indonesia lainnya seperti chips, kerupuk, kopi, dll.

Indonesia Updates juga dimeriahkan dengan tarian nusantara yang dibawahakan oleh mahasiswa Indonesia di Chengdu.

Bertemu Party Secretary Sichuan, Bahas Panda Hingga Kerja Sama Industri

Duta Besar RI juga bertemu dengan pimpinan tertinggi (Party Secretary) Provinsi Sichuan, Y.M. Wang Xiaohui. Pada pertemuan tersebut, Dubes Djauhari selain menyampaikan perkembangan rencana pembukaan KJRI Chengdu, juga mengusulkan beberapa area kerja sama strategis.

“Dengan besarnya potensi Indonesia dan Provinsi Sichuan, ada banyak bidang kerja sama yang dapat terus kita kembangkan, termasuk industri dan hilirisasi, energi terbarukan seperti solar panel, obat-obatan dan kesehatan, pengembangan battery storage dan ekosistem energi” ungkap Dubes Djauhari.

Dubes Djauhari menambahkan bahwa hubungan antar masyarakat juga menjadi pilar penting kerja sama Indonesia-Sichuan, baik melalui pendidikan, pariwisata dan budaya.

Dubes Djauhari menyampaikan “Tahun lalu bayi Panda yang diberi nama “Ksatrio” atau Rio lahir di Taman Safari Bogor, menjadi simbol persahabatan yang kuat antara Indonesia-Tiongkok, khususnya Sichuan, mengingat Sichuan merupakan pusat konservasi Panda”.

“Pariwisata juga sangat menjanjikan, dengan telah adanya penerbangan langsung dari Chengdu ke Jakarta dan Bali”, Imbuhnya

Menurut Party Secretary Wang Xiaohui, Sichuan merupakan provinsi dengan ekonomi terbesar ke-6 di Tiongkok. GDP Sichuan mencapai sekitar USD 1 triliun dengan pertumbuhan mencapai 5.5%, 0.5% lebih tinggi dari pertumbuhan nasional.

Sichuan juga dikenal memiliki kapasitas industri di bidang elektronik, energi terbarukan, kereta api dan transportasi, fotovoltaik, kimia, dan AI. Sichuan juga memiliki industri baterai yang menguasai 10% produksi baterai dunia. Perusahaan energi terbarukan dari Sichuan juga tengah menjalin kerja sama dengan Indonesia di bidang solar panel.

Kerja sama Indonesia-Sichuan telah berlangsung intensif. Provinsi Sichuan telah memiliki kerja sama Provinsi Kembar dengan Jawa Barat, sementara itu Chengdu memiliki kerja sama kota kembar dengan Medan.

Artikel Lainnya