Jakarta, INDONEWS.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai "londo ireng" terus menjadi perhatian publik. Terbaru, isu tersebut mendapat sorotan dari surat kabar Belanda, De Volkskrant, yang menyinggung pidato Prabowo dalam laporan mengenai kondisi ekonomi Indonesia.
Sorotan media Belanda itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial setelah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Berly Martawardaya, mengunggah cuplikan pemberitaan tersebut melalui akun X pribadinya.
Dalam unggahannya, Berly juga membagikan terjemahan artikel dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris menggunakan Grok dengan penyuntingan ringan.
"Translate liputan tentang pidato Londo Ireng yang ditulis oleh Londo-Ora-Ireng di De Volkskrant (arti literal: yapping-nya masyarakat) yang koran besar di Belanda by Grok (Belanda ke Inggris) dengan sedikit polesan," tulis Berly, dikutip Jumat (31/7/2026).
Artikel tersebut berjudul "Is Indonesia on the Way to Bankruptcy?" atau "Apakah Indonesia Sedang Menuju Kebangkrutan?". Dalam laporannya, De Volkskrant menyoroti sejumlah indikator ekonomi Indonesia sekaligus mengulas pernyataan Prabowo yang menepis anggapan bahwa Indonesia tengah menuju krisis.
Artikel itu menyebut Prabowo menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level 5,6 persen. Media tersebut juga mengutip pidato Prabowo yang menyamakan para pengkritik pemerintah dengan "londo ireng", istilah dalam bahasa Jawa yang dijelaskan sebagai sebutan bagi pihak yang dianggap berpihak kepada Belanda pada masa perjuangan kemerdekaan.
Dalam terjemahan yang dibagikan Berly, De Volkskrant menulis bahwa Prabowo menyebut "londo ireng" kini hadir dalam bentuk jurnalis, analis, dan organisasi non-pemerintah (NGO). Artikel tersebut juga mengutip pernyataan Prabowo yang menyindir prediksi berulang mengenai Indonesia yang disebut-sebut akan mengalami kolaps ekonomi, namun hingga kini belum terjadi.
Sebelumnya, pernyataan mengenai "londo ireng" disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center, Kamis (23/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan pemerintah menargetkan perbaikan lebih dari 100.000 sekolah pada 2027. Namun, menurutnya, masih ada media yang lebih memilih memberitakan sekolah yang belum diperbaiki dibandingkan ribuan sekolah yang telah selesai direnovasi.
"Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama," kata Prabowo.
Meski demikian, Prabowo tidak menyebut media yang dimaksud. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi dan pemerintah tidak anti terhadap kritik.
"Kalian sudah tahu lah kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik, tapi kita bukan anak kecil," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengatakan masih ada pihak yang dinilainya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Kelompok tersebut, menurutnya, merupakan sosok yang dahulu dikenal sebagai "londo ireng".
"Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan, wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, apa itu LSM," kata Prabowo.
Ia juga mempertanyakan sumber pendanaan pihak-pihak yang dimaksud, seraya menuding selama ini mereka terus menyuarakan narasi bahwa Indonesia akan mengalami kolaps ekonomi.
"Indonesia kolaps. Bulan April lewat nggak kolaps, Mei lewat nggak kolaps, bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps," ujar Prabowo.
Jika diperlukan, naskah ini dapat disesuaikan dengan gaya penulisan media tertentu (misalnya Tempo, Kompas, Antara, atau CNN Indonesia) atau dipersingkat menjadi 400–500 kata untuk kebutuhan portal berita daring.
Berikut ini sebagian terjemahan Berly dari bahasa Belanda ke Inggris dengan judul "Is Indonesia On The Way to Bancruptcy?"
The Indonesian economy is threatening to collapse, but President Prabowo Subianto denies it in every possible tone. He calls critics “black Hollanders” (traitors) and for the time being does not appear to plan to stop his enormous, money-devouring projects.
A sample from the Indonesian newspaper headlines of recent times: governor of the central bank Perry Warjiyo steps down; the rupiah is still fluctuating around a historic low; the number of bananas is still more than thirty thousand kilos higher a year later.
But Indonesian President Prabowo Subianto denies that his country, the world’s fourth-largest economy by purchasing power, is heading for a crisis. He emphasises that growth is still a solid 5.6 percent.
In a speech last week he compared critics to londo ireng, Javanese for “black Dutchmen.” The term originally referred to Ghanaian mercenaries in the colonial army, but was later extended to Indonesians who sided with the Dutch during the war of independence.“They still exist, they are now journalists, analysts, NGOs,” according to Prabowo.
In a mocking tone: “They have been claiming for months that Indonesia is going to collapse. First it was going to happen in April, then in May, June, July… But nothing is happening!”