Nasional

Suara yang Tak Pernah Padam di Gedung KOWANI

Oleh : luska - Selasa, 21/04/2026 17:15 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID — Malam baru saja turun di kawasan Menteng ketika aula Gedung Kongres Wanita Indonesia dipenuhi cahaya temaram dan suara-suara lirih yang perlahan menguat. Di tempat inilah, sehari menjelang peringatan Hari Kartini, digelar “Malam Refleksi Kartini” bertema Suara yang Tak Pernah Padam—sebuah perenungan kolektif tentang jejak panjang emansipasi perempuan Indonesia.

Sejumlah tokoh hadir, membaur tanpa sekat: Pemimpin Redaksi Indonews Asri Hadi, wartawan senior Ahmed Kurnia, desainer Keyko, fotografer Peter Momora, pakar gizi Ati Nirwanawati dari Persagi, tokoh perbukuan Nova Rasdiana dari IKAPI, dr. Hary dan sejumlah dokter lainnya dari IDI, hingga para tokoh Pramuka. Mereka datang dengan satu kesamaan: keinginan untuk merawat ingatan tentang seorang perempuan yang gagasannya melampaui zamannya, Raden Ajeng Kartini.

Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter biografi Kartini. Gambar-gambar hitam putih dan narasi yang mengalun pelan membawa hadirin kembali ke awal abad ke-20—masa ketika ruang gerak perempuan dibatasi, namun gagasan justru menemukan jalannya melalui surat-surat. Film itu bukan sekadar pengantar, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan kegelisahan hari ini.

Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa refleksi semacam ini bukan seremoni, melainkan upaya membaca ulang arah perjuangan. “Acara Malam Refleksi Kartini adalah kesempatan bagi kita untuk menelusuri perjuangan Kartini. Kita menghormati dan mengenang nama besar beliau sebagai tokoh sejarah dan inspirasi. Kartini adalah visioner bagi perjuangan wanita Indonesia,” ujarnya.

Ia mengingatkan, Kartini hidup dalam keterbatasan, tetapi justru dari sanalah lahir gagasan tentang kemerdekaan berpikir dan kesetaraan. “Kini perempuan Indonesia menikmati hasil perjuangan tersebut. Pertanyaannya, apakah cahaya itu masih menyala?” kata Nannie. Ia menautkan pertanyaan itu dengan langkah KOWANI hari ini, yang tengah menginisiasi program “KOWANI Goes to UNESCO”, sebuah upaya mendorong pengakuan dunia terhadap warisan sejarah perempuan Indonesia, termasuk jejak Kongres Perempoean Indonesia 1928.

Malam beranjak khidmat ketika satu per satu tokoh naik ke panggung membacakan penggalan surat Kartini. Sepuluh fragmen dipilih, masing-masing menyuarakan keresahan yang terasa tak lekang. Asri Hadi membacakan bagian tentang kesetaraan dengan suara yang tenang namun tegas: “Kami tidak menghendaki menjadi lebih tinggi dari laki-laki… Perjuangan ini bukan tentang persaingan, melainkan tentang keseimbangan. Ketika perempuan dan laki-laki berjalan berdampingan, di situlah peradaban menemukan kekuatannya …” Kalimat itu menggantung di udara, seakan menguji apakah dunia hari ini benar-benar telah menjawabnya.

Di giliran lain, Keyko membacakan surat tentang pendidikan perempuan. “Ilmu bukan sekadar hiasan, melainkan cahaya…” ucapnya, lirih namun jelas. Beberapa hadirin tampak mengangguk, sebagian lainnya menatap kosong ke depan - mungkin mengingat kenyataan bahwa akses pendidikan yang setara masih menjadi pekerjaan rumah di banyak tempat.

Puncak malam datang ketika Cornelia Agatha tampil membawakan monolog Refleksi Perjuangan Kartini. Dengan penghayatan yang nyaris tanpa jeda, ia menghidupkan kembali suara Kartini dalam konteks hari ini—tentang perempuan yang masih berjuang di ruang domestik, di tempat kerja, hingga di ruang publik yang belum sepenuhnya aman. Aula seketika senyap. Beberapa pasang mata berkaca-kaca; sebagian bahkan tak kuasa menahan air mata. Di balik tepuk tangan yang panjang, terselip kesadaran bahwa perjuangan itu belum selesai.

Refleksi malam itu tidak berhenti pada romantisme sejarah. Ia menyentuh realitas: kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi, ketimpangan akses ekonomi, hingga tantangan baru di era digital. Kartini, dalam sunyinya, seakan kembali bertanya—bukan kepada masa lalu, tetapi kepada generasi hari ini.

Acara ditutup dengan penyalaan lilin. Satu per satu cahaya kecil menyala, membentuk lingkaran hangat di tengah ruangan. Simbol sederhana, tetapi sarat makna: bahwa api perjuangan itu tidak pernah padam—ia hanya berpindah tangan.

Di Gedung KOWANI malam itu, Kartini tidak sekadar dikenang. Ia dihidupkan kembali - dalam suara, dalam air mata, dan dalam tekad untuk melanjutkan apa yang belum selesai.

TAGS : Kowani

Artikel Lainnya