Nasional

Trump Desak Negara Arab Normalisasi Hubungan dengan Israel dalam Kesepakatan Damai Iran

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 26/05/2026 07:38 WIB


 

Jakarta, INDONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendesak sejumlah negara Arab untuk segera menandatangani perjanjian normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang dikenal sebagai Abraham Accords. Menurut Trump, langkah tersebut dapat menjadi bagian penting dari upaya menciptakan perdamaian yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, termasuk dalam negosiasi dengan Iran.

Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada Senin (25/5), Trump mengaku telah berbicara dengan sejumlah pemimpin negara terkait pentingnya memperluas dukungan terhadap Abraham Accords.

“Setelah semua upaya yang dilakukan Amerika Serikat mencoba menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya secara bersamaan, untuk menandatangani Perjanjian Abraham (Abraham Accords),” tulis Trump.

Negara-negara yang disebut Trump antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain.

Trump mengklaim sebagian besar negara tersebut telah menunjukkan kesiapan untuk mendukung langkah normalisasi hubungan dengan Israel. Ia berharap kesepakatan dengan Iran dapat menjadi momentum bersejarah yang mendorong terciptanya stabilitas kawasan.

“[Mereka harus] siap, bersedia, dan mampu menjadikan kesepakatan dengan Iran ini sebagai peristiwa yang jauh lebih bersejarah daripada yang seharusnya,” ujarnya.

Trump juga menilai proses penandatanganan Abraham Accords sebaiknya dimulai oleh Arab Saudi dan Qatar. Menurutnya, langkah kedua negara itu dapat mendorong negara-negara lain mengikuti jejak yang sama. Bahkan, ia mengisyaratkan bahwa Iran, yang selama ini dikenal sebagai musuh utama Israel di kawasan, seharusnya turut bergabung dalam perjanjian tersebut.

Abraham Accords merupakan kesepakatan yang mengatur normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab yang sebelumnya tidak memiliki hubungan resmi atau bahkan bermusuhan dengan negara Yahudi tersebut. Perjanjian itu pertama kali dipromosikan secara intensif oleh Trump pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS.

Meski demikian, Abraham Accords masih menuai kritik di Timur Tengah karena tidak secara langsung membahas penyelesaian konflik Palestina-Israel. Arab Saudi, misalnya, berulang kali menegaskan bahwa pembentukan negara Palestina yang merdeka merupakan syarat utama sebelum menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Israel.

Di tengah upaya perluasan Abraham Accords, Amerika Serikat dan Iran saat ini masih terlibat dalam perundingan untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu. Washington terus menekan program nuklir Teheran, sementara Iran menuntut jaminan bahwa hak mereka untuk melakukan pengayaan uranium tetap dihormati dalam setiap kesepakatan yang dicapai.

Pernyataan terbaru Trump tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintahannya ingin mengaitkan proses normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab sebagai bagian dari arsitektur perdamaian baru di Timur Tengah, sekaligus memperkuat hasil negosiasi dengan Iran.

Artikel Lainnya