Nasional

Krisis Air Global Ancam Perdamaian Dunia, PBB Peringatkan Potensi "Perang Air" di Masa Depan

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 05/06/2026 21:24 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Krisis air bersih diperkirakan menjadi salah satu ancaman terbesar dunia pada masa depan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan memperingatkan bahwa kelangkaan air berpotensi memicu konflik besar antarnegara jika tidak segera ditangani melalui kerja sama global dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Dalam laporan unggulan yang dirilis pada Januari 2026, para peneliti PBB menyebut dunia kini berada dalam kondisi “kebangkrutan air” (water bankruptcy), yaitu situasi ketika permintaan manusia terhadap air dan penyusutan sistem air alami melampaui kemampuan alam untuk mengisi ulang sumber daya tersebut.

Kondisi ini dinilai mengancam ketahanan pangan, keamanan energi, serta stabilitas ekologi global yang berpotensi mengalami kerusakan permanen.

Lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia saat ini diketahui masih kekurangan akses memadai terhadap air bersih. Situasi tersebut diperkirakan akan semakin memburuk seiring meningkatnya populasi dunia dan dampak perubahan iklim.

Laporan yang dikutip dari Council on Foreign Relations (CFR) menyebut krisis air memiliki dampak yang berbeda di tiap wilayah, mulai dari ancaman terhadap kesehatan masyarakat, perlambatan pembangunan ekonomi, hingga terganggunya perdagangan internasional.

PBB menilai istilah “krisis air” kini tidak lagi cukup menggambarkan kondisi global. Menurut laporan tersebut, dunia telah memasuki fase yang lebih serius, yakni kerusakan struktural pada sistem air akibat eksploitasi berlebihan terhadap air tanah dan air permukaan.

Penyusutan gletser dan kerusakan lahan basah disebut bukan lagi sekadar tanda tekanan lingkungan, melainkan gejala ekosistem yang telah melewati titik pemulihan.

“Dampaknya akan menciptakan efek domino terhadap harga pangan, lapangan kerja, migrasi, dan stabilitas geopolitik,” tulis laporan tersebut.

Ancaman konflik akibat kelangkaan air juga sebelumnya disoroti Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay pada 2024 memperingatkan bahwa meningkatnya kelangkaan air akan memperbesar risiko konflik lokal maupun regional.

“Seiring meningkatnya kelangkaan air, risiko konflik lokal atau regional juga meningkat. Jika kita ingin menjaga perdamaian, kita harus bertindak cepat untuk melindungi sumber daya air dan meningkatkan kerja sama regional maupun global,” ujar Audrey.

Di tengah ancaman tersebut, sejumlah negara sebenarnya telah membangun kerja sama pengelolaan air lintas batas. Sejak 1948, hampir 300 perjanjian internasional terkait air telah ditandatangani untuk mengatur pembagian, pengelolaan, dan perlindungan kualitas air.

Salah satu contoh kerja sama yang dinilai berhasil adalah Organisasi Cekungan Sungai Senegal yang dibentuk Guinea, Mali, Mauritania, dan Senegal pada 1972 untuk mengelola sumber daya air bersama.

Namun, di sisi lain, air juga menjadi sumber ketegangan geopolitik. Salah satu konflik paling menonjol terjadi di kawasan Sungai Nil antara Mesir dan Ethiopia terkait pembangunan Bendungan Grand Ethiopian Renaissance (GERD).

Mesir menilai proyek pembangkit listrik tenaga air raksasa di Sungai Nil Biru itu berpotensi mengurangi pasokan air yang selama ini menjadi sumber utama kehidupan negaranya.

Konflik terkait air juga muncul dalam peperangan modern. Dalam perang Ukraina, Rusia dilaporkan merusak sejumlah infrastruktur air penting seperti bendungan dan instalasi pengolahan air. Sejumlah ahli menyebut tindakan itu sebagai “aquacide”, yakni penghancuran atau penggunaan sistem air sebagai alat perang.

Sementara itu, dalam konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 2026, pemerintah Iran menuduh AS menyerang fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm di Teluk Persia yang menyebabkan gangguan pasokan air bagi puluhan desa.

Meski demikian, sejumlah ahli menilai air tidak hanya berpotensi menjadi pemicu konflik, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun perdamaian.

“Jika negara atau pihak yang berbeda tidak mau membicarakan hal lain, mereka harus duduk bersama untuk membicarakan air karena tidak ada yang dapat dilakukan tanpa air,” kata peneliti keamanan air World Resources Institute, Liz Saccoccia.

Menurutnya, kebutuhan bersama terhadap air justru dapat menjadi faktor pemersatu di tengah berbagai perbedaan politik dan konflik antarnegara.

Artikel Lainnya