Jakarta, INDONEWS.ID - Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, namun prospek damai di Timur Tengah masih diragukan karena Israel terus melakukan serangan militer ke Lebanon.
“Kesepakatan itu memberi secercah harapan baru bagi terciptanya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Tapi jangan terlalu banyak berharap damai segera terwujud. MOU AS-Iran itu bisa terganjal oleh tindakan agresi Israel ke Lebanon,” demikian disampaikan Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Dr. Darmansjah Djumala, dalam keterangan tertulisnya menanggapi penandatanganan MoU AS-Iran yang dilakukan secara digital pada 17 Juni lalu.
Dalam keterangannya, Dr. Djumala, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB itu menyatakan setelah bertahun-tahun terjebak dalam siklus konfrontasi, sanksi, dan ancaman militer, kedua negara akhirnya menunjukkan kesediaan untuk menempuh jalur diplomasi sebagai instrumen penyelesaian konflik.
Bagi Dubes Djumala, MoU tersebut memiliki beberapa arti strategis.
Pertama, kesepakatan itu dapat menurunkan ketegangan antara Washington dan Teheran yang selama ini menjadi salah satu sumber utama instabilitas kawasan.
Kedua, keberhasilan implementasi MoU akan memperkuat kembali diplomasi dan negosiasi sebagai mekanisme utama dalam menyelesaikan sengketa internasional.
Ketiga, terciptanya hubungan yang lebih konstruktif antara AS dan Iran berpotensi mendorong stabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk dan Timur Tengah secara lebih luas.
Lebih jauh Dubes Djumala, yang juga akademisi Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjajaran (Unpad) ini mengungkapkan optimisme damai AS-Iran kini menghadapi ujian serius.
Serangan militer Israel di Lebanon Selatan terjadi lagi hanya berselang dua hari dari kesepakatan disetujui.
Dubes Djumala mengatakan, bagi Iran agresi Israel tidak hanya sebagai ancaman terhadap sekutunya di kawasan, tetapi juga sebagai upaya untuk mempertahankan politik konfrontasi dan menghambat proses normalisasi hubungan Teheran-Washington.
Eskalasi di Lebanon Selatan dapat memicu reaksi berantai. Iran kemungkinan akan menghadapi tekanan domestik maupun regional untuk meningkatkan dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel akan berada dalam posisi yang sulit: di satu sisi ingin menjaga komitmen terhadap MoU dengan Iran, tetapi di sisi lain harus tetap mempertahankan dukungan strategis kepada Israel.
Karena itu, keberhasilan MoU AS-Iran sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk menyelaraskan peredaan eskalasi di Selat Hormus dengan penghentian agresi Israel di Lebanon.
Dalam pandangan Dubes Djumala, Washington juga perlu memainkan peran yang lebih aktif dalam menahan eskalasi militer Israel agar tidak merusak proses diplomasi yang sedang berlangsung.
“Perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dibangun hanya melalui kesepakatan bilateral semata. Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer. Tanpa kesadaran politik seperti itu, kesepakatan AS-Iran akan sia-sia di tengah pusaran konflik berkepanjangan di Timur Tengah,” pungkas Dubes Djumala. *