Nasional

PDIP Buka Suara Terkait Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat di Lampung

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 29/06/2026 11:27 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – PDI Perjuangan (PDIP) merespons prosesi adat yang dijalani Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" di Lampung. Salah satu rangkaian prosesi yang menjadi sorotan adalah momen Jokowi menginjak kepala kerbau dalam ritual adat yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6).

Juru Bicara PDIP Guntur Romli mempertanyakan makna di balik prosesi tersebut. Menurutnya, publik dapat menafsirkan ritual itu sebagai bagian dari adat, ekspresi simbolik, maupun bentuk lain yang memunculkan perdebatan.

"Pendukung Jokowi sedang berhalusinasi yang diinjak itu kepala banteng padahal kerbau," kata Guntur Romli kepada wartawan, Senin (29/6).

Guntur menjelaskan banteng merupakan satwa yang dilindungi sehingga tidak dapat dijadikan bagian dari ritual maupun kurban. Karena itu, ia menegaskan bahwa kepala yang digunakan dalam prosesi tersebut adalah kepala kerbau.

Lebih lanjut, Guntur menilai prosesi itu menguatkan pandangan yang pernah disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto dalam disertasinya mengenai karakter kepemimpinan Jokowi yang disebut sebagai perpaduan the triangle of authoritarian populism.

Menurutnya, konsep tersebut menggambarkan perpaduan antara feodalisme, populisme, dan karakter Machiavellianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan utama.

"Feodalisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat; dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya," ujarnya.

Guntur juga menilai kepala kerbau dalam ritual tersebut justru menjadi simbol para pengikut Jokowi, termasuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang dinilainya terlalu mengagungkan sosok mantan presiden tersebut.

"Kerbau bukan banteng. Kerbau adalah hewan ternak. Cocok dengan istilah termul. Ternak Mulyono," katanya.

Sementara itu, prosesi pemberian gelar adat kepada Jokowi mendapat penjelasan dari tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur. Ia menegaskan bahwa prosesi pemberian gelar adat atau muakhi merupakan tradisi masyarakat Lampung yang telah berlangsung sejak lama.

Menurut Mawardi, seluruh rangkaian prosesi merupakan bagian dari pelestarian budaya yang berlandaskan falsafah hidup masyarakat Lampung, yakni piil pesenggiri.

"Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi.

Prosesi adat tersebut digelar di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6). Dalam salah satu tahapan upacara, kepala kerbau diletakkan di atas karpet merah sebagai bagian dari ritual sebelum Jokowi menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa".

Ritual tersebut kemudian memicu beragam respons di ruang publik, termasuk kritik dari PDIP yang mempertanyakan makna simbolik prosesi tersebut. Di sisi lain, pihak adat Lampung menegaskan bahwa seluruh rangkaian upacara merupakan tradisi budaya yang telah diwariskan turun-temurun dan tidak dimaksudkan sebagai simbol politik.*

Artikel Lainnya