Nasional

Ya Tuhan! Ribuan Orang di Eropa Meninggal Akibat Gelombang Panas Ekstrem, Terbanyak di Prancis dan Spanyol

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 29/06/2026 11:51 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa terus memakan korban jiwa. Suhu udara yang menembus lebih dari 35 derajat Celsius menyebabkan lonjakan angka kematian, mengganggu sistem kesehatan, hingga meningkatkan tekanan terhadap pasokan energi di berbagai negara.

Prancis menjadi salah satu negara dengan dampak paling serius. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan lebih dari 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni 2026, ketika gelombang panas mulai melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.

"Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka yang belum dikonsolidasikan) telah diamati dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya," demikian pernyataan lembaga tersebut, dikutip dari AFP, Minggu (28/6).

Otoritas kesehatan menyebut sekitar 85 persen korban meninggal berusia 65 tahun ke atas. Sebagian besar korban mengembuskan napas terakhir di rumah masing-masing, terutama di kawasan Île-de-France yang mencakup Kota Paris.

Pemerintah Prancis juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap kelompok rentan, khususnya warga lanjut usia yang tinggal sendiri di kawasan perkotaan.

"Pengamatan ini menjadi pengingat akan perlunya tindakan solidaritas terhadap orang-orang yang terisolasi atau mengalami kesepian yang mendalam," tulis badan kesehatan tersebut.

Situasi serupa juga terjadi di Spanyol. Sistem pemantauan kematian nasional (MoMo) memperkirakan gelombang panas telah menyebabkan sedikitnya 212 kematian tambahan hanya dalam kurun 21 hingga 24 Juni 2026.

Perhitungan tersebut menggunakan metode excess mortality, yakni membandingkan jumlah kematian aktual dengan angka kematian yang diperkirakan berdasarkan rata-rata historis.

Data sebelumnya juga menunjukkan dampak panas ekstrem terus meningkat. Sepanjang musim panas 2025, Spanyol mencatat 3.832 kematian terkait cuaca panas, atau meningkat 87,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Gelombang panas kali ini tidak hanya menghantam Prancis dan Spanyol. Berdasarkan analisis prakiraan cuaca dari Layanan Meteorologi Jerman dan proyeksi populasi, sekitar 191 juta penduduk Eropa diperkirakan mengalami suhu minimal 35 derajat Celsius pada Minggu (28/6).

Bahkan sekitar 381 juta orang diprediksi menghadapi suhu di atas 30 derajat Celsius. Kondisi tersebut meluas ke sejumlah negara seperti Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Italia, Austria, hingga Prancis.

Wilayah perkotaan diperkirakan mengalami dampak yang lebih berat akibat fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan, yakni kondisi ketika suhu di kawasan kota jauh lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya akibat dominasi bangunan, jalan beraspal, serta minimnya ruang terbuka hijau.

Para ahli mengingatkan bahwa gelombang panas yang semakin sering dan intens merupakan salah satu konsekuensi perubahan iklim global. Pemerintah di berbagai negara Eropa pun terus mengimbau masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta memanfaatkan tempat-tempat yang memiliki pendingin udara guna mengurangi risiko kesehatan selama cuaca ekstrem berlangsung.

Artikel Lainnya