Jakarta, INDONEWS.ID – Serangan besar-besaran yang dilancarkan militer Israel ke wilayah Lebanon pada Rabu (8/4/2026) menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya. Operasi militer ini terjadi hanya sehari setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan.
Data korban disampaikan oleh Badan Pertahanan Sipil Lebanon, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Kamis (9/4/2026).
Dalam operasi tersebut, militer Israel menyasar sejumlah titik yang disebut sebagai basis Hizbullah, termasuk di wilayah Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, serta desa-desa di Lebanon selatan.
Militer Israel mengklaim serangan ini ditujukan untuk melumpuhkan infrastruktur militer Hizbullah.
“Kami menargetkan lebih dari 100 pos komando Hizbullah dan situs militer,” demikian pernyataan militer Israel.
Namun, dampak serangan tersebut memicu krisis kemanusiaan dan kekacauan di sektor kesehatan Lebanon. Seorang pemimpin komunitas medis, Elias Chlela, menyerukan mobilisasi darurat tenaga kesehatan.
“Semua tenaga medis dari semua kecabangan diharap menuju ke rumah sakit terdekat untuk memberi bantuan,” ujarnya.
Kota Beirut juga dilaporkan mengalami kekurangan stok darah dan membutuhkan bantuan dari berbagai pihak.
Besarnya jumlah korban mendorong Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menetapkan Kamis (9/4) sebagai Hari Berkabung Nasional. Pemerintah memerintahkan penutupan layanan administrasi publik serta pengibaran bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Salam juga menegaskan bahwa pemerintah Lebanon tengah menggalang dukungan internasional untuk menghentikan serangan tersebut.
“Kami sedang memobilisasi semua sumber daya diplomatik dan politik Lebanon untuk menghentikan mesin pembunuh Israel,” tegasnya.
Situasi di Lebanon hingga kini masih tegang, sementara upaya diplomatik terus dilakukan guna meredakan eskalasi konflik di kawasan tersebut.