Jakarta, INDONEWS.ID – Panel Discussion "Australia–Indonesia Creative Industries Collaboration" sukses diselenggarakan di Deheng House, Jakarta, mempertemukan para pemimpin industri kreatif, akademisi, musisi, pelaku bisnis, serta pemangku kepentingan dari Australia dan Indonesia untuk memperkuat kolaborasi bilateral di sektor ekonomi kreatif.
Hubungan Australia dan Indonesia selama ini telah terjalin erat melalui kerja sama di bidang pendidikan, perdagangan, pertukaran budaya, serta hubungan antarmasyarakat (people-to-people connections). Seiring dengan semakin diakuinya industri kreatif sebagai penggerak inovasi, pertumbuhan ekonomi, diplomasi budaya, dan pembangunan sosial, kedua negara memiliki peluang yang semakin besar untuk memperluas kolaborasi di bidang musik, seni pertunjukan, pendidikan, kewirausahaan kreatif, dan ekonomi kreatif secara lebih luas.
Kolaborasi kreatif tidak hanya menjadi sarana pertukaran artistik, tetapi juga memperkuat saling pengertian antarbangsa, membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan, serta mendukung lahirnya generasi baru talenta kreatif. Berbagai kemitraan yang telah terjalin antara institusi pendidikan, seniman, pelaku industri, dan dunia usaha menjadi fondasi penting bagi pengembangan kerja sama yang lebih erat di masa depan.
Panel diskusi ini menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka dari Australia dan Indonesia yang memiliki pengalaman luas di bidang musik, pendidikan, bisnis, dan hubungan internasional.
Dipandu oleh Chico Hindarto sebagai moderator, diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan empat panelis yang memberikan perspektif dan pengalaman berharga mengenai kolaborasi lintas negara.
Para panelis tersebut adalah:
- Dr. Andy Gander, PhD pakar internasional di bidang Music Education and Performance yang telah menginspirasi berbagai institusi pendidikan dan musisi di berbagai negara melalui kontribusinya dalam pengembangan pendidikan musik.
- Dwiki Dharmawan, komponis, pianis, dan tokoh budaya Indonesia yang dikenal luas atas kepemimpinannya dalam Artistic Leadership and Institution Building, serta dedikasinya membawa musik Indonesia ke panggung internasional.
- Mariam Kartikatresni, CEO Indonesia Australia Business Council (IABC), yang aktif membangun kemitraan bilateral, pendidikan, dan ekonomi kreatif sekaligus mendorong kolaborasi strategis antara Indonesia dan Australia.
- Natalie Ezmeralda, alumni JMC College Sydney, Australia, sebagai musisi, komposer dan praktisi kreatif yang memiliki pengalaman internasional dalam bidang musik, penciptaan lagu, dan kolaborasi kreatif lintas negara.
Diskusi berfokus pada berbagai contoh keberhasilan kolaborasi Australia–Indonesia sekaligus mengidentifikasi peluang konkret untuk memperkuat kemitraan di masa depan, khususnya dalam bidang:
- Musik dan seni pertunjukan
- Pendidikan dan pengembangan talenta
- Kewirausahaan kreatif
- Pertukaran budaya
- Kolaborasi industri dan institusi
Para panelis sepakat bahwa industri kreatif memiliki peran strategis dalam membangun hubungan yang lebih kuat antara Australia dan Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor, kedua negara dapat menciptakan ekosistem kreatif yang semakin inovatif, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas peluang bagi generasi muda untuk berkiprah di tingkat global.
Selain menjadi ruang berbagi gagasan, forum ini juga membuka peluang jejaring profesional dan kolaborasi baru yang diharapkan menghasilkan program-program nyata bagi perkembangan industri kreatif kedua negara.
Panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, khususnya Deheng House, Deheng Music Cipta, Lexi Budiman, Indonesia Australia Business Council (IABC), JMC Academy, Australian Institute of Music, Investment NSW – Government of New South Wales, PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia), serta The Dharmawangsa Jakarta.
Menutup sesi panel, Helen Nanlohy, selaku pembawa acara yang juga merupakan alumni Australia penerima Beasiswa AusAID, serta dikenal sebagai praktisi seni pertunjukan, produser acara, dan penggerak industri kreatif Indonesia, mengundang seluruh peserta untuk melanjutkan semangat kolaborasi melalui Sydney Reunion Concert yang diselenggarakan pada pukul 19.30 WIB di Lantai 4 Deheng House.
Konser dibuka dengan penampilan Alonzo Brata bersama para musisi Eliezer Robby (bass), Nial Djuliarso (piano), Arthur Wiyono (trumpet), dan Brury Effendi (drum). Penampilan mereka menghadirkan atmosfer hangat sekaligus menjadi pembuka yang memikat bagi malam perayaan kolaborasi musik Australia–Indonesia.
Puncak acara menghadirkan Indra Lesmana dalam proyek Sydney Reunion, berkolaborasi dengan tiga musisi jazz Australia, yaitu Steve Hunter (bassist), Dr. Andy Gander (drummer), dan Dale Barlow (saxophonist). Ketiganya merupakan sahabat sekaligus rekan bermusik Indra Lesmana sejak menempuh pendidikan di Sydney Conservatorium of Music lebih dari empat dekade lalu. Pertemuan kembali mereka di atas panggung menjadi simbol kuat persahabatan lintas negara, pertukaran budaya, serta hubungan Australia–Indonesia yang terus terjalin melalui bahasa universal musik.
Lebih dari sekadar sebuah konser, Sydney Reunion menjadi representasi nyata bagaimana hubungan yang terjalin melalui pendidikan mampu berkembang menjadi kolaborasi artistik yang melintasi waktu dan batas negara. Pertunjukan ini sekaligus menjadi penutup yang sempurna bagi rangkaian kegiatan Australia–Indonesia Creative Industries Collaboration, menegaskan bahwa musik merupakan jembatan yang mempererat persahabatan, memperkaya pertukaran budaya, dan membuka peluang kolaborasi baru bagi kedua negara.
Melalui penyelenggaraan forum ini, diharapkan lahir lebih banyak inisiatif bersama yang memperkuat hubungan bilateral, memperluas kesempatan bagi insan kreatif kedua negara, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berdaya saing global