Nasional

Menapaki Jejak Lima Abad Sejarah Wastra dan Kota Jakarta: Himpunan Wastraprema Gelar Bincang Wastra

Oleh : luska - Sabtu, 04/07/2026 15:06 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun emas ke-50 Himpunan Wastraprema (HWP) Kembali menggelar acara bincang bincang bertajuk Dwaja Pusaka Caruban Nagari mengangkat tema Sejarah Umbul Umbul Keraton Cirebon (Caruban Nagari).
Kegiatan ini sekaligus menjadi momen penting dalam menapak jejak lima abad sejarah wastra dan perkembangan Kota Jakarta.

Acara yang berlangsung di Museum Tekstil Jakarta menghadirkan dua nara sumber yaitu budayawan sekaligus sejarawan Cirebon Mustaqim Asteja dan kepala seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat Bayu Niti Permana yang dipandu pemerhati wastra Nurdiansyah Dalidjo Sabtu 4/7/2026.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Sri Sintasari (Neneng) Iskandar menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena memiliki keterkaitan emosional dan historis yang sangat erat dengan hari jadi kota Jakarta. Kerajaan kerajaan tua di Indonesia termasuk keraton Cirebon memiliki bendera atau panji yang menjadi lambang kebesarannya.
Dwaja Pusaka Caruban Nagari yang sekarang tersimpan di Museum Tekstil merupakan bendera berbahan katun dengan tehnik batik tulis motif kaligrafi Arab berukuran 310 kali 196 cm dibuat tahun 1776 Masehi dengan mencontoh bendera generasi sebelumnya. Umbul Umbul Keraton Cirebon ini diserahkan pada tahun 1976 sebagai koleksi utama sumbangan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara VIII dengan nomor inventaris 0017, újar Neneng Iskandar.
 Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud visi dan misi HWP dalam memberikan edukasi kepada generasi penerus agar warisan leluhur tetap lestari 

Sementara itu,Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati meyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara ini.Menurutnya Museum Tekstil memiliki peran vital dalam menjaga, merawat mengembangkan sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra nusantara.Kami berharap pameran dan bincang bincang ini dapat meningkatkan sinergi serta menginspirasi masyarakat untuk mengenal lebih dekat budaya dan sejarah wastra. Pameran edukatif ini sendiri akan berlangsung hingga 30 Agustus mendatang ujar Sri Kusumawati.

Dalam sesi bincang bincang Budyawan sekaligus Sejarawan Cirebon Mustaqim Asteja menjelaskan secara historis, armada gabungan kerajaan islam Cirebon-Demak-Banten dibawah pimpinan Panglima Perang Fatahillah mengusung umbul-umbul tersebut saat memenangkan pertempuran di Bandar Pajajaran Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Kemenangan atas balatentaraPortugis tersebut mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (kota kemenangan), yang kini menjadi Ibu kota Jakarta dan akan genap berusia lima abad pada tahun 2027 mendatang.

Dalam sesi diskusi Mustaqim Asteja memaparkan bahwa motif batik pada bendera tersebut memuat dua kalimat syahadat, tiga kaligrafi macan, pedang berbelah dua (Zulfikar), basmalah, surat Al -Ikhlas, serta rajah dalam bentuk singa dan bentuk menyerupai simpul yang tidak berujung pangkal. Kombinasi ini menghasilkan karya seni bernilai tinggi yang sarat makna simbolik perjuangan bangsa.Sejalan dengan hal itu Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat Bayu Niti Permana menambahkan bahwa fungsi bendera ini merupakan symbol kedaulatan negara Caruban Nagari sekaligus pembakar semangat nasionalisme pribumi melawan penajajah, yang visualisasinya pernah diabadikan oleh Kantor Pos Jakarta dalam bentuk perangko resmi.

Sebagai bentuk apresiasi Ketua Himpunan Wastraprema Sri Sintasari Iskandar memberikan piagam berupa sertifikat  kepada kedua Nara sumber dan moderator dalam acara bincang wastra
Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng untuk memperingati ulangtahun ke 50  Himpunan Wastraprema dan Museum Tekstil Jakarta  dan dilanjutkan   ramah tamah bersama para pencinta wastra dan generasi muda  pencinta wastra yang hadir.

Sekilas mengenai Himpunan Wastraprema (HWP)

Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.
Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastraprema pada tanggal 28 Juni 1976 .

Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang merupakan hibah dari beberapa gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.

Misi Himpunan Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.
Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta,

Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Periode 2023-2027 Sri Sintasari Iskandar atau Neneng Iskandar

 

Artikel Lainnya