Olah Raga

Bahas Piala Dunia hingga Jalan Indonesia ke 2030, Footcast Hadirkan Tiga Perspektif Media Digital

Oleh : donatus nador - Minggu, 19/07/2026 21:13 WIB


-Mahasiswa Pascasarjana STIKOM Interstudi menggelar Footcast: The Football Communication Live Podcast bertajuk

Jakarta, INDONEWS.ID--Mahasiswa Pascasarjana STIKOM Interstudi menggelar Footcast: The Football Communication Live Podcast bertajuk "Beyond The Final Whistle 2026: Piala Dunia, Media Digital dan Jalan Indonesia Menuju 2030" di Teratai Coffee House and Kitchen, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2026).

Podcast berdurasi sekitar 45 menit ini menghadirkan tiga narasumber lintas profesi yaitu Peksi Cahyo, fotografer profesional dan mantan jurnalis Tabloid BOLA serta Bola.com yang pernah meliput Piala Dunia 2010.

Selain itu hadir pula Vannico Soekarno, sportcaster sekaligus host tayangan Piala Dunia 2026. Dan narasumber terakhir Muhammad Darwinsyah, akademisi sekaligus content creator.

Acara yang dibuka oleh dosen senior STIKOM Interstudi, Dr. Sehendra Atmaja, S.Sos., M.Si ini berlangsung dalam tiga bagian.

Diawali dengan pengalaman pribadi masing-masing narasumber di dunia sepak bola, diskusi dilanjutkan dengan sorotan isu-isu yang ramai dibicarakan sepanjang Piala Dunia 2026 — mulai dari kontroversi VAR, dinamika narasi di media sosial, hingga peran platform digital dalam membentuk opini publik — dan ditutup dengan pembahasan peluang Indonesia menuju Piala Dunia 2030.

Menutup diskusi, ketiga narasumber menyampaikan pandangan yang berbeda namun sama-sama menohok.

"Pemenang Piala Dunia sebenarnya bukan lagi Spanyol atau Argentina, tapi FIFA — organisasi yang berhasil me-generate miliaran dolar AS untuk dibagikan ke seluruh anggotanya. Itu desain organisasi yang luar biasa," ujar Peksi Cahyo.

Sementara Muhammad Darwinsyahoptimistis Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia 2030.

"Buat saya, Garuda Indonesia tetap juara. Bola resmi Piala Dunia diproduksi di sebuah pabrik di Madiun, dengan sensor yang terhubung ke ruang kontrol VAR. Jadi meski Indonesia belum bertanding di 2026, sebenarnya kita selalu ada di setiap laga," katanya.

"Manfaatkan platform digital sebaik mungkin untuk mengasah potensi diri. Dengan rencana perluasan peserta Piala Dunia menjadi 64 negara, semoga Indonesia bisa membuka jalan sebagai tuan rumah bersama negara lain," tambah Vannico Soekarno.

Melalui Footcast, sepak bola ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yakni sebagai fenomena komunikasi yang terus berkembang seiring perubahan cara publik mengonsumsi, membicarakan, dan memaknai pertandingan lewat media digital.

Bagi Indonesia, momentum ini menyisakan satu harapan yang sama — bahwa suatu hari nanti, mimpi menyaksikan Timnas Garuda berlaga di panggung Piala Dunia bukan lagi sekadar angan.

Artikel Lainnya