Olah Raga

Juergen Klopp Jadi Tumuan Ketika 3 Piala Dunia Jerman Kehilangan Jati Diri, Mentalitas, dan Identitas

Oleh : donatus nador - Minggu, 26/07/2026 11:38 WIB



Jakarta, INDONEWS.ID--Nasib Timnas Jerman kian terpuruk setelah terakhir kali menjadi juara dunia pada 2014. Dalam tiga Piala Dunia setelah juara tahun 2014, yaitu Piala Dunia 2018, Piala Dunia 2022 dan Piala Dunia 2026, pencapaian tertinggi Der Panzer adalah lolos ke 32 besar.

Dan itu terjadi pada Piala Dunia 2026. Di babak 32 besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Boston Stadium, Foxborough, pada 30 Juni, Jerman kalah 4-3 adu penalti melawan timnas Paraguay, usai waktu normal dan waktu ekstra imbang 1-1.

Dampaknya, sang pelatih Julian Nagelsmann mengikuti teladan pelatih sebelumnya, yaitu mengundurkan diri dari kursi kepelatihan sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Nasib yang paling nahas sejatinya menimpa pelatih Hansi Flick yang gagal membawa Jerman lolos dari fase grup pada Piala Dunia 2022.

Flick, yang merupakan mantan asisten Joachim Loew pada Piala Dunia 2014, kemudian mundur sebelum resmi dicopot dari kursi kepelatihan.

Ia mengikuti pendahuluhnya Joachim Loew, yang sukses membawa Jerman mengangkat trofi Piala Dunia 2014 tetapi gagal membawa tim lolos dari fase grup Piala Dunia 2018, dan legawa mundur dari kursi kepelatihan.

Tiga kegagalan di Piala Dunia membuat Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) pusing untuk kembali melakukan restrukturisasi tim kepelatihan.

Hasil pemantauan, analisis dan negosiasi, ditemukan sosok Juergen Klopp yang dinilai tepat untuk menduduki kursi pelatih kepala timnas Jerman.

DFB membidik mantan pelatih Liverpool dan mulai didekati di New York sejak 10 Juni lalu. Pendekatan tersebut akhirnya mebuahkan hasil ketika Head of Global Soccer Red Bull itu menerima pinangan DFB. Penunjukan Klopp tersebut kemudian diumumkan secara resmi pada Jumat (24/7).

Penunjukkan klopp bisa jadi tidak lepas dari analisis tajanya atas kondisi Timnas Jerman pasca juara Piala Dunia 2014.

Menurut Klopp, secara fundamental, Jerman saat ini tidak memiliki jati diri, mentalitas, dan identitas. Persoalan pelik tersebut kini menggerogoti Timnas Jerman.

"Kami membutuhkan perubahan secara fundamental," kata Klopp ketika menjadi komentator di stasiun televisi Jerman, Magenta TV, pada 30 Juni lalu.

Saat ini, sepak bola Jerman sedang berada dalam situasi pelik. Lemahnya pengembangan pemain muda dan kesalahan dalam memahami sepak bola sebagai permainan kolektif, yang pada akhirnya mengorbankan kualitas individu pemain.

Sepak bola Jerman kini berada dalam fase yang sangat buruk dalam upaya mencari bakat-bakat muda untuk menggantikan generasi emas mereka pada Piala Dunia 2014.

Dari sisi permainan kolektif, Hummels, salah satu anggota skuad juara Piala Dunia 2014 sepandangan dengan Klopp.

Mantan pemain Bayern Muenchen itu menilai Jerman saat ini mencoba meniru gaya permainan tiki-taka timnas Spanyol dan telah kehilangan identitas permainannya sendiri.

Ketika Jerman kehilangan jatidiri, mentalitas dan identitas, mampukah Klopp mengebalikan timnas Jerman ke masaa kejayaan yang ditunjukkan dengan menaklukkan Brasil dengan skor 1-7 di semifinal Piala Dunia 2014 pada 8 Juli 2014.

Tentu ini pekerjaan berat harus diurai satu per satu oleh juru taktik yang terikat kontrak hingga 2030 tersebut.

Kehadiran Klopp diharapkan mampu menghadirkan permainan yang lebih beridentitas Jerman, sebab mantan pelatih FSV Mainz itu memiliki filosofi yang autentik dalam sepak bola Jerman, yakni permainan agresif tanpa bola dan pendekatan gegenpressing.

 

Artikel Lainnya