Jakarta, INDONEWS.ID - Israel kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Jalur Gaza pada Minggu (2/8). Sedikitnya sembilan warga Palestina dilaporkan meninggal dunia, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Serangan ini terjadi di tengah munculnya klaim mengenai kemajuan upaya implementasi gencatan senjata yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Otoritas kesehatan Palestina menyebut serangan menghantam beberapa lokasi, termasuk Kota Gaza di bagian utara, Deir al-Balah di wilayah tengah, serta Khan Younis di selatan.
Di Deir al-Balah, serangan terhadap sebuah apartemen menewaskan sepasang suami istri dan melukai empat orang lainnya. Sementara itu, dua korban jiwa, termasuk seorang anak, dilaporkan tewas akibat serangan di Kota Gaza.
Korban lain berasal dari kawasan Mawasi, Khan Younis, tempat satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak laki-laki mereka yang berusia sembilan tahun meninggal setelah rumah mereka dihantam serangan menjelang fajar. Seorang warga lainnya juga dilaporkan tewas dalam serangan di sekitar Jabalia, Gaza utara.
Militer Israel menyatakan operasi di Deir al-Balah menargetkan dua komandan pasukan elite Hamas, Nukhba. Adapun serangan di Kota Gaza dan Jabalia disebut diarahkan kepada personel militer Hamas, meski pihak militer mengaku masih melakukan peninjauan terhadap hasil operasi tersebut.
Di sisi lain, Menteri Energi Israel Eli Cohen menegaskan pemerintah belum menyepakati penghentian operasi militer di Gaza. Menurutnya, Israel perlu mengambil kendali penuh atas wilayah tersebut dan tidak meyakini Hamas akan benar-benar melucuti persenjataannya.
Pernyataan Cohen berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut telah terjadi perkembangan dalam implementasi kesepakatan gencatan senjata Gaza. Trump mengatakan Hamas bersedia melucuti senjata dalam kerangka inisiatif yang didukung Amerika Serikat untuk menjalankan kesepakatan damai yang dicapai di Mesir pada tahun lalu.
Sebagai tindak lanjut, Board of Peace, badan yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, merilis peta jalan berisi 15 langkah implementasi. Namun hingga kini, rencana tersebut belum dijalankan.
Hamas menyatakan pelucutan senjata hanya akan dilakukan setelah Israel menghentikan operasi militernya dan menarik pasukan dari Gaza sesuai isi kesepakatan. Sementara itu, seorang pejabat Israel menegaskan penarikan pasukan tidak akan dilakukan sebelum Hamas menjalankan pelucutan senjata secara nyata.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan pernyataan resmi mengenai inisiatif tersebut. Sebaliknya, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menolak rencana itu dan menyatakan operasi militer terhadap Hamas harus tetap dilanjutkan.
Di tengah perkembangan tersebut, mantan pejabat senior Fatah, Mohammed Dahlan, mengklaim penasihat senior AS Jared Kushner tengah berkoordinasi dengan pemerintah Israel untuk menghentikan serangan di Gaza. Hingga kini, pernyataan tersebut belum mendapat konfirmasi dari pemerintah Israel maupun Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Data otoritas Palestina menunjukkan sedikitnya 1.230 warga Palestina telah meninggal dunia akibat serangan Israel sejak kesepakatan gencatan senjata dicapai pada Oktober 2025, meski perjanjian tersebut secara formal masih berlaku.*