Opini

YANG MENOPANG, TAK PERNAH MEMINTA PUJIAN

Oleh : luska - Senin, 03/08/2026 09:10 WIB


Pohon tidak pernah menjadi besar karena rantingnya.

Ia menjadi besar karena sesuatu yang rela tinggal di dalam tanah.

Tidak terlihat.
Tidak dipuji.
Tidak diperebutkan.

Namun darinyalah kehidupan memperoleh kekuatan.

Begitulah hukum kehidupan.

Yang paling menentukan, sering kali bukan yang paling menonjol.

Langit tidak roboh karena bintang saling berlomba bersinar.

Bumi tetap subur karena akar setia memeluk tanah.

Sungai tidak pernah meminum air yang dialirkannya.

Matahari tidak pernah meminta kembali cahaya yang diberikannya.

Alam semesta seolah berbisik bahwa kehidupan hanya bertahan apabila yang kuat bersedia menghidupi yang lain.

Manusia justru sering memilih jalan yang berbeda.

Yang dititipkan dianggap milik
.
Yang sementara dianggap abadi.

Jabatan diperlakukan seperti mahkota.

Kekayaan dipandang sebagai ukuran kemuliaan.

Janji diucapkan semudah embusan angin, tetapi sering terlupakan ketika kepentingan mulai berbicara.

Padahal, kepercayaan tidak runtuh dalam satu hari.

Ia berkurang setiap kali amanah dikalahkan oleh keuntungan.

Hari ini, kita melihat gedung-gedung menjulang, teknologi menembus batas, dan kemajuan berlari semakin cepat.

Namun di sudut yang lain, masih ada keluarga yang bertanya bagaimana menyambut hari esok.

Masih ada tangan yang bekerja tanpa pernah merasakan hasil yang layak.

Masih ada hati yang berharap agar keadilan tidak hanya indah di atas kertas, tetapi juga hadir dalam kehidupan.

Kesenjangan bukan sekadar perbedaan angka.

Ia menjadi luka ketika manusia berhenti melihat sesamanya sebagai sesama.

Kekuasaan bukanlah kesalahan.

Yang berbahaya adalah ketika kekuasaan kehilangan tujuan.

Kekayaan bukanlah dosa.
Yang menghancurkan adalah ketika kekayaan memadamkan kepedulian.

Hukum bukan sekadar kumpulan pasal.
Ia memperoleh kehormatan hanya jika dijalankan dengan hati yang jujur.

Sang Pencipta menitipkan bumi bukan untuk diperebutkan tanpa batas, melainkan untuk dirawat bersama.

Ia menitipkan akal agar manusia menemukan ilmu.

Ia menitipkan hati agar manusia mengenal belas kasih.

Ia menitipkan amanah agar manusia belajar setia.

Barangkali ukuran terbesar kehidupan bukanlah seberapa tinggi kita berdiri.

Melainkan seberapa kokoh kita menopang.

Karena pada akhirnya,

waktu akan membawa pergi jabatan.

Waktu akan memindahkan kekayaan.

Waktu akan meredupkan kemasyhuran.

Namun waktu tidak pernah mampu menghapus ketulusan.

Ia tetap hidup dalam kehidupan yang pernah disentuh oleh kebaikan.

Maka, janganlah terlalu sibuk mengejar tempat yang paling tinggi.

Lebih penting menjadi akar yang menjaga pohon tetap hidup daripada menjadi daun yang sesaat bertepuk dengan angin.

Sebab ketika tirai kehidupan ditutup, Sang Pencipta tidak akan bertanya, "Berapa banyak pujian yang engkau terima?"

Barangkali yang akan ditanyakan adalah,
"Berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena engkau pernah hadir di dunia?"

Di situlah setiap nama menemukan maknanya.
Bukan karena tepuk tangan.

Melainkan karena kesetiaan menjaga apa yang telah dipercayakan kepadanya.

BRIGJEN TNI (PURN.) MJP HUTAGAOL
Jakarta, 3 Agustus 2026

Artikel Lainnya