Nasional

Israel Pertimbangkan Tarik Sebagian Pasukan dari Gaza, Diganti Pasukan ISF

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 09/08/2026 14:45 WIB


Israel Pertimbangkan Tarik Sebagian Pasukan dari Gaza, Diganti Pasukan ISF

Jakarta, INDONEW.ID - Badan-badan keamanan Israel dilaporkan tengah mempertimbangkan rencana menarik sebagian pasukannya dari Jalur Gaza dan menggantinya dengan pasukan stabilisasi internasional atau International Stabilization Force (ISF).


Rencana tersebut dibahas para pejabat keamanan Israel dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari tindak lanjut kesepakatan gencatan senjata, menurut laporan Channel 12 Israel yang dikutip Anadolu Agency pada Minggu (9/8/2026).


Menurut laporan itu, proses pembentukan ISF telah mulai berjalan. Israel juga disebut telah menyetujui masuknya pasukan internasional ke sejumlah wilayah tertentu di Gaza.


Namun, laporan tersebut tidak merinci wilayah mana saja yang telah mendapat persetujuan Israel. Rencana penarikan sebagian pasukan Israel menjadi perkembangan penting dalam pelaksanaan fase lanjutan gencatan senjata. Sebelumnya, Israel disebut masih enggan menarik pasukannya dari Gaza meski terdapat kesepakatan baru yang mencakup pelucutan senjata Hamas.


Pelucutan senjata faksi-faksi bersenjata Palestina merupakan salah satu bagian dari fase kedua kesepakatan gencatan senjata yang didorong Amerika Serikat.


Penarikan Dikaitkan dengan Pelucutan Senjata


Israel sebelumnya menyatakan penarikan pasukan akan dilakukan setelah proses pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata Palestina diselesaikan. Persoalan tersebut menjadi salah satu titik sensitif dalam pelaksanaan kesepakatan. Hamas, di sisi lain, menyatakan tidak akan menjalankan ketentuan tertentu apabila Israel dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.


Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa opsi penggantian sebagian pasukan Israel dengan ISF mulai dibahas di tingkat keamanan Israel. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai jadwal penarikan maupun jumlah pasukan Israel yang akan ditarik. Laporan Channel 12 juga tidak menjelaskan komposisi pasukan internasional yang akan ditempatkan di wilayah-wilayah tersebut.


Pembahasan mengenai ISF berlangsung ketika situasi keamanan di Gaza masih tegang. Sejumlah laporan dalam beberapa hari terakhir menyebut serangan Israel di Gaza terus berlangsung meski terdapat upaya untuk menjalankan kesepakatan gencatan senjata. Al Jazeera melaporkan serangan Israel meningkat setelah kesepakatan yang didukung Amerika Serikat mengenai pelucutan senjata Hamas diumumkan.


Sementara itu, dua menteri Israel sebelumnya telah mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mencegah pengerahan pasukan stabilisasi internasional ke Gaza. Perkembangan tersebut menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan di internal pemerintahan Israel mengenai kehadiran pasukan internasional di wilayah tersebut.


Pasukan Stabilisasi Internasional merupakan bagian dari rancangan pengaturan keamanan Gaza pada masa transisi setelah perang. Mandat pasukan tersebut mencakup dukungan terhadap stabilitas keamanan dan perlindungan operasional di Gaza.


Rencana tersebut juga mengaitkan pengerahan ISF dengan penarikan bertahap pasukan Israel dari sebagian besar wilayah Gaza setelah kondisi yang disepakati terpenuhi. Dengan demikian, kehadiran ISF dipandang sebagai salah satu mekanisme untuk mengisi kekosongan keamanan di wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel, sekaligus mendukung proses transisi pascakonflik.


Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah persoalan, terutama mengenai pelucutan senjata Hamas, garis penarikan pasukan Israel, serta komposisi dan mandat pasukan internasional.


Korban Sipil dan Krisis Kemanusiaan


Perang di Gaza sejak Oktober 2023 telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan luas terhadap infrastruktur sipil. Data OCHA dalam Reported Impact Snapshot per 10 Juni 2026 mencatat 72.991 warga Palestina dilaporkan tewas dan 173.212 lainnya terluka sejak dimulainya konflik. OCHA menegaskan angka korban tersebut bersumber dari Kementerian Kesehatan Gaza dan otoritas Israel, sementara sebagian angka masih menunggu verifikasi. 


Krisis tersebut juga berdampak pada layanan kesehatan. Infrastruktur medis di Gaza mengalami kerusakan berat dan akses terhadap kebutuhan dasar serta bantuan kemanusiaan tetap menjadi persoalan utama.


Di tengah kondisi tersebut, setiap perubahan konfigurasi pasukan di Gaza akan memiliki konsekuensi terhadap keamanan warga sipil dan akses bantuan kemanusiaan. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai kapan penarikan sebagian pasukan Israel akan dimulai, berapa jumlah pasukan yang akan ditarik, dan wilayah mana saja yang akan menjadi lokasi penempatan ISF.


Belum jelas pula apakah rencana tersebut telah memperoleh persetujuan final dari seluruh pihak yang terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada pelaksanaan ketentuan mengenai pelucutan senjata, penghentian kekerasan, serta kesepakatan mengenai mandat dan wilayah operasi pasukan internasional.


Untuk saat ini, rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan di antara pejabat keamanan Israel, meski persiapan pembentukan ISF dilaporkan telah dimulai.

Artikel Lainnya