Opini

OPERATION-KETIKA PEMIKIRAN HARUS MENJADI TINDAKAN

Oleh : luska - Kamis, 20/08/2026 16:07 WIB


OPERATION-KETIKA PEMIKIRAN HARUS MENJADI TINDAKAN

SERI MEMAHAMI ESTOM #5


Dari Pilihan Strategis Menuju Rancangan Tindakan yang Dapat Dilaksanakan


Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol


PENGANTAR


Sebuah negara dapat mengenali lingkungannya.


Mampu melihat perubahan lebih awal.


Mempunyai analisis yang sangat baik.


Bahkan mengetahui berbagai pilihan yang tersedia.


Tetapi masih ada satu pertanyaan:


SIAPA MELAKUKAN APA, DENGAN SUMBER DAYA APA, KAPAN, DI MANA, DAN UNTUK MENCAPAI APA?


Kalau pertanyaan itu belum terjawab, pemikiran belum menjadi tindakan.


Dalam ESTOM kita telah melalui:


ENVIRONMENT = PETA.


SENSING = MATA DAN TELINGA.


THINKING = OTAK.


Sekarang kita memasuki:


O — OPERATION.


Operation adalah tahap ketika pilihan strategis diterjemahkan menjadi tujuan, prioritas, organisasi, sumber daya, tahapan dan rancangan tindakan yang dapat dilaksanakan.


1. OPERATION BUKAN HANYA OPERASI MILITER


Kata operation sering langsung diasosiasikan dengan operasi militer.


Dalam ESTOM pengertiannya lebih luas.


Sebab medan strategis yang kita baca sejak Environment juga jauh lebih luas.


Kalau persoalannya energi, Operation dapat berbentuk kebijakan ketahanan energi.


Kalau persoalannya pangan, dapat berbentuk penguatan produksi, pupuk, irigasi, cadangan dan distribusi.


Kalau persoalannya industri, dapat berbentuk pembangunan rantai nilai dan teknologi.


Kalau persoalannya data, dapat berbentuk pembangunan infrastruktur dan tata kelola data nasional.


Kalau persoalannya persepsi, dapat berbentuk kebijakan komunikasi, pendidikan, pelayanan publik dan penguatan kepercayaan.


Sedangkan ketika ancamannya bersifat militer, Operation tentu dapat mengambil bentuk operasi pertahanan.


MEDANNYA BERBEDA, TETAPI LOGIKANYA SAMA: PEMIKIRAN HARUS DIUBAH MENJADI RANCANGAN TINDAKAN.


2. DARI “APA YANG HARUS DILAKUKAN?” MENJADI “BAGAIMANA MELAKUKANNYA?”


Thinking mungkin menghasilkan kesimpulan:


“Ketergantungan energi adalah kerentanan strategis.”


Itu belum Operation.


Thinking kemudian menghasilkan pilihan:


diversifikasi sumber energi;


meningkatkan produksi nasional;


memperkuat cadangan;


membangun teknologi;


memperluas kerja sama.


Itu pun belum cukup.


Operation mulai bekerja ketika pertanyaan berubah:


Siapa penanggung jawabnya?


Apa prioritas pertama?


Berapa sumber daya yang diperlukan?


Teknologi apa yang dibutuhkan?


Apa regulasinya?


Bagaimana pembiayaannya?


Berapa waktunya?


Apa tahapannya?


Apa ukuran keberhasilannya?


THINKING MEMILIH ARAH.


OPERATION MEMBANGUN JALAN UNTUK MENCAPAI ARAH TERSEBUT.


3. OPERATION MEMBUTUHKAN TUJUAN YANG JELAS


Tidak ada operasi yang baik tanpa tujuan.


Tujuan tidak boleh berhenti pada kalimat:


“Meningkatkan ketahanan pangan.”


Pertanyaan berikutnya harus muncul:


Meningkatkan apa?


Di wilayah mana?


Komoditas apa?


Dalam berapa tahun?


Berapa kebutuhan nasional?


Apa ketergantungan yang hendak dikurangi?


Apa indikator keberhasilannya?


Semakin jelas tujuan, semakin mungkin sumber daya diarahkan secara tepat.


Karena:


TUJUAN YANG KABUR AKAN MENGHASILKAN OPERASI YANG KABUR.


4. DARI TUJUAN MENJADI ARSITEKTUR OPERASI


Setelah tujuan ditentukan, kita membutuhkan arsitektur.


Secara sederhana:


TUJUAN → PRIORITAS → ORGANISASI → SUMBER DAYA → TAHAPAN → INDIKATOR.


Misalnya tujuan strategisnya adalah memperkuat industri nasional.


Operation kemudian harus memetakan:


bahan baku,


energi,


teknologi,


SDM,


modal,


infrastruktur,


regulasi,


rantai pasok,


pasar,


serta lembaga yang bertanggung jawab.


Satu unsur saja hilang dapat membuat keseluruhan operasi tersendat.


Pabrik dapat dibangun tetapi bahan bakunya tidak tersedia.


Teknologi tersedia tetapi SDM tidak siap.


Produksi berhasil tetapi pasarnya tidak terbentuk.


Modal tersedia tetapi tata kelolanya buruk.


Karena itu:


OPERATION BUKAN DAFTAR PROGRAM.


OPERATION ADALAH ARSITEKTUR TINDAKAN.


5. BELAJAR DARI KOREA SELATAN


Korea Selatan memberikan contoh menarik tentang bagaimana arah strategis diterjemahkan menjadi tindakan pembangunan.


Pada dekade 1960-an dan 1970-an, Korea Selatan mendorong industrialisasi melalui rencana pembangunan ekonomi berjangka, pembangunan industri ekspor, infrastruktur, peningkatan kemampuan manusia, serta kemudian pengembangan industri berat dan kimia.


Yang menarik bukan sekadar hasil akhirnya.


Yang penting bagi ESTOM adalah cara sebuah pilihan strategis diterjemahkan.


Arah pembangunan tidak berhenti pada:


“KITA HARUS MENJADI NEGARA INDUSTRI.”


Arah tersebut diterjemahkan ke dalam sektor prioritas, pembiayaan, infrastruktur, pengembangan perusahaan, peningkatan keterampilan, teknologi dan orientasi ekspor.


Artinya:


VISI → PRIORITAS → SUMBER DAYA → ORGANISASI → PROGRAM → HASIL.


Tentu pengalaman Korea Selatan tidak dapat disalin begitu saja oleh negara lain.


Setiap negara mempunyai sejarah, struktur ekonomi, budaya dan lingkungan geopolitik yang berbeda.


Tetapi pelajarannya jelas:


STRATEGI MENJADI KEKUATAN HANYA KETIKA MAMPU DITERJEMAHKAN MENJADI SISTEM TINDAKAN.


6. OPERATION HARUS MENYATUKAN BANYAK AKTOR


Persoalan negara modern hampir tidak pernah dapat diselesaikan satu lembaga.


Ketahanan pangan melibatkan pertanian, pupuk, air, energi, transportasi, perdagangan, keuangan, pemerintah daerah, dunia usaha hingga masyarakat.


Industri melibatkan sumber daya, teknologi, pendidikan, energi, keuangan, perdagangan dan diplomasi.


Karena itu Operation membutuhkan:


KESATUAN TUJUAN.


Bukan berarti semua lembaga melakukan pekerjaan yang sama.


Justru masing-masing mempunyai fungsi berbeda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama.


Pertanyaan Operation menjadi:


SIAPA MEMIMPIN?


SIAPA MELAKUKAN APA?


BAGAIMANA SEMUANYA TERHUBUNG?


Tanpa koordinasi, program dapat banyak tetapi hasil strategis tetap kecil.


7. OPERATION JUGA HARUS MENGHITUNG SUMBER DAYA


Keinginan strategis tidak pernah tidak terbatas.


Sumber daya selalu terbatas.


Anggaran terbatas.


Manusia terbatas.


Waktu terbatas.


Teknologi terbatas.


Kapasitas organisasi juga terbatas.


Karena itu Operation harus menentukan:


PRIORITAS.


Apa yang harus dilakukan sekarang?


Apa yang dapat ditunda?


Apa yang harus dibangun sendiri?


Apa yang dapat dikerjasamakan?


Di mana sumber daya memberikan dampak terbesar?


Di sinilah strategi bertemu kenyataan.


OPERATION ADALAH SENI MENGUBAH KETERBATASAN MENJADI PRIORITAS.


8. TIGA PILAR TETAP HARUS DIJAGA


Operation tidak boleh melupakan Pertahanan Fondasi:


ENERGI — DATA — PERSEPSI.


Setiap rancangan tindakan perlu diuji.


Apakah energinya tersedia?


Apakah datanya cukup untuk mengendalikan pelaksanaan?


Bagaimana masyarakat dan para pemangku kepentingan memahami kebijakan tersebut?


Bayangkan kebijakan secara teknis benar tetapi data pelaksanaannya buruk.


Operasi dapat kehilangan kendali.


Atau program secara ekonomi masuk akal tetapi masyarakat tidak memahami tujuan dan manfaatnya.


Persepsi dapat berubah menjadi penolakan.


Karena itu ketiga pilar tetap hadir sampai tahap Operation.


9. OPERATION BUKAN DOKUMEN YANG DIAM


Rancangan terbaik sekalipun dibuat berdasarkan keadaan pada saat tertentu.


Tetapi dunia terus bergerak.


Harga berubah.


Cuaca berubah.


Teknologi berubah.


Lawan atau pesaing bereaksi.


Masyarakat bereaksi.


Kesempatan baru muncul.


Karena itu Operation harus mempunyai:


TUJUAN YANG TEGAS, TETAPI CARA YANG ADAPTIF.


Inilah titik ketika kita mulai mendekati tahap terakhir ESTOM.


Sebab setelah rancangan selesai, organisasi siap, sumber daya tersedia dan tugas dibagikan—


KITA HARUS BERGERAK.


10. BATAS OPERATION


Sekarang ESTOM semakin lengkap:


ENVIRONMENT = PETA.


SENSING = MATA DAN TELINGA.


THINKING = OTAK.


OPERATION = RANCANGAN TINDAKAN.


Tetapi rancangan belum menghasilkan perubahan nyata.


Rencana industri belum menjadi pabrik.


Rencana pangan belum menghasilkan panen.


Rencana energi belum menghasilkan listrik.


Rencana pertahanan belum mengubah keadaan lapangan.


Semuanya baru mempunyai arti ketika benar-benar dilaksanakan.


Dan ketika pelaksanaan dimulai, keadaan dapat berubah.


Maka pelaksana harus mampu bergerak, menyesuaikan, memanfaatkan peluang dan mengatasi hambatan tanpa kehilangan tujuan.


Di sinilah kita memasuki tahap terakhir:


M — MANEUVER.


CATATAN PEMAHAMAN


ESTOM sekarang dapat dibayangkan sangat sederhana:


ENVIRONMENT → KITA TAHU MEDANNYA.


SENSING → KITA MELIHAT PERUBAHANNYA.


THINKING → KITA MEMAHAMI ARTINYA.


OPERATION → KITA MENYUSUN CARA BERTINDAK.


Tetapi satu hal masih belum terjadi:


GERAKAN.


Karena strategi yang hanya berada di atas kertas tidak pernah mengubah kenyataan.


BERSAMBUNG


SERI MEMAHAMI ESTOM #6


MANEUVER — KETIKA RENCANA BERTEMU KENYATAAN


Bagaimana kebijakan dan rancangan operasi benar-benar dieksekusi?


Mengapa pelaksanaan tidak boleh kaku?


Bagaimana perubahan lapangan dibaca kembali, keputusan disesuaikan, peluang dimanfaatkan, dan sumber daya digerakkan tanpa kehilangan tujuan strategis?


Dan setelah Maneuver dilakukan—


apakah ESTOM selesai?


Ataukah hasil Maneuver justru mengubah Environment dan membuat seluruh siklus dimulai kembali?


Jakarta, 18 Agustus 2026


Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

Artikel Lainnya